70 Imigran Tenggelam di Lepas Pantai Tunisia, 16 Selamat

Tunis, MINA – Sebuah kapal yang membawa 70 migran dari sub-Sahara Afrika tenggelam di Laut Mediterania, menyebabkan tiga orang tewas dan puluhan hilang, sementara 16 lainnya ditemukan selamat, kata para pejabat Tunisia, Jumat (9/5).

Insiden ini mengungkapkan sekali lagi bahwa melintasi perairan Mediterania telah menjadi lebih berbahaya daripada sebelumnya bagi para migran yang berusaha mencapai daratan Eropa.

Mengutip Daily Sabah, jenazah tiga orang yang tenggelam dalam kecelakaan itu ditemukan Jumat, seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Tunisia mengatakan. Ia menambahkan, kapal meninggalkan Zuwara di pantai barat laut Libya pada Kamis.

Sebuah kapal nelayan menemukan 16 orang yang selamat, yang dipindahkan ke kapal salah satu dari tiga kapal militer yang terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Sebuah helikopter juga dimobilisasi, kata Kementerian Pertahanan, yang menambahkan antara 60 hingga 70 orang diyakini ada di dalamnya.

Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Sofiene Zaag mengatakan namun sekitar 75 orang diyakini menaiki kapal Italia ketika meninggalkan Libya.

Seorang pejabat dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Tunisia mengatakan kapal penyelundupan itu berasal dari Libya ketika mengirim sinyal marabahaya di perairan internasional Jumat pagi di lepas pantai kota Tunisia, Sfax. Pejabat itu mengatakan antara 60 dan 70 orang tenggelam.

Kapal itu tenggelam 40 mil laut di lepas pantai Sfax, selatan ibukota Tunis. Pantai Tunisia telah berubah menjadi landasan bertolak bagi ribuan migran, termasuk warga Tunisia, yang berupaya mencapai Eropa.

Pejabat IOM mengatakan para migran sekarang sedang diinterogasi dan dirawat oleh otoritas Tunisia. Dia mengatakan para migran termasuk orang-orang dari Bangladesh dan Maroko, di antara negara-negara lain.

Menteri Dalam Negeri Italia dari sayap kanan Matteo Salvini telah berjanji untuk menutup pelabuhan negara itu bagi para migran, meskipun Jumat sebelumnya puluhan yang telah diselamatkan.

Mediterania adalah “penyeberangan laut paling mematikan di dunia” menurut badan pengungsi PBB. Satu dari 14 orang tewas dalam perjalanan dari Libya ke Eropa tahun lalu.

Konflik dan kekerasan yang meningkat selama beberapa pekan menyusul upaya pasukan loyalis Jenderal Khalifa Haftar di Libya berusaha menduduki Tropoli. Kekhawatiran telah tumbuh bahwa bentrokan kekerasan akan mendorong gelombang migrasi baru.

Gejolak yang melanda negara Afrika Utara telah menjadi jebakan maut bagi ribuan migran, kebanyakan dari mereka dari negara-negara Afrika sub-Sahara, yang berusaha untuk keluar dari kemiskinan dan menemukan kehidupan yang lebih baik di Eropa.

PBB menganggap Libya sebagai negara yang tidak aman bagi para migran, mengingat risiko yang cukup besar untuk mengalami pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Ribuan migran yang tertangkap berusaha menyeberangi Mediterania dari Libya telah dikembalikan ke negara Afrika Utara itu dan dimasukkan ke pusat-pusat penahanan. (T/R11/RI-1)

Miraj News Agency (MINA)