Bir Taybeh: Bir Halal Palestina untuk Muslim dan Yahudi

Yerusalem, MINA – Selama seperempat abad, Perusahaan Bir Taybeh telah memelopori bir Palestina. Untuk meningkatkan daya jualnya di Israel dan Palestina, bir itu mengeluarkan varian kosher (istilah halal dalam ajaran Yahudi) dan dalam bentuk non-alkoholnya, halal.

Bisnis berkembang pesat di Taybeh Brewing Company, yang didirikan Nadim Khoury dan keluarganya pada 1994 di Tepi Barat yang diduduki.

Di situs web Taybeh, keluarga itu mencatat tempat pembuatan bir mereka memproduksi bir pertamanya tak lama setelah penandatanganan Perjanjian Oslo I tahun 1993, yang dirancang untuk membuka jalan bagi terbentuknya negara Palestina.

Gagasan pembuatan bir Palestina itu disambut baik oleh mendiang pemimpin lama Palestina Yasser Arafat. Presiden Otoritas Palestina, yang meninggal pada 2004, mendukung rencana pembuatan bir, demikian Khoury menceritakannya ke pengunjung seperti dilaporkan situs DW.

Keluarga itu juga menjalankan bisnis perhotelan dan memproduksi anggur dan minyak zaitun.

Pada 25 tahun kemudian, orang-orang Palestina masih belum memiliki negara mereka sendiri, tetapi Perusahaan Bir Taybeh semakin kuat. Nama itu tidak hanya merujuk pada distrik Taybeh di kota Ramallah, tempat pembuatan bir itu berada, tetapi juga berarti ‘enak’ dalam bahasa Arab.

Perushaan itu memproduksi enam jenis bir untuk pasar domestik dan asing: warna emas, terang, gelap, kuning, putih, dan bebas alkohol.

Semua enam varian dikontrol ketat sesuai dengan hukum kemurnian bir yang berlaku Jerman, kata Khoury. Sebanyak 60 persen bir dijual di Tepi Barat, 30 persen untuk pasar Israel, dan sepuluh persen sisanya diekspor ke Spanyol, Inggris, Chili, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, tempat Khoury mempelajari bisnis itu.

Israel selalu menjadi pasar penting untuk bir Taybeh. Sejak awal, sertifikasi kosher halal resmi oleh rabi telah membuka jalan bir itu ke pasar Yahudi.

Khoury melihat bir Taybeh sebagai kontribusi kecil untuk hidup berdampingan. Produk itu menyatukan orang-orang Israel dan Palestina – Kristen, Yahudi dan Muslim. Varian bebas alkohol dipastikan halal, yang memungkinkan Muslim, lebih dari 90 persen di tempat pembuatan bir, untuk mengonsumsinya.

“Orang-orang mengambil setiap kesempatan untuk bisa santai,” kata Khoury yang berusia 59 tahun. “Dengan atau tanpa alkohol, sebotol bir membuat orang rileks dan melupakan politik untuk sementara waktu.” (T/R11/R06)

 Mi’raj News Agency (MINA)