Demam Berdarah dan Pencegahannya (Bincang Sehat Bersama dr. Suwardi, bagian ke-8)

Oleh: dr. Suwardi Sukri, Dokter Integratif Medicine

“Anak saya divonis dokter menderita demam berdarah. Apa solusinya, Dok?” tanya seorang ibu di Medan.
Saya menjawab, “Demam berdarah merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, di mana nyamuk saat menggigit akan menyuntikkan virus dengue ke dalam tubuh calon penderita. Jadi, penularan demam berdarah disingkat dengan DBD (Demam Berdarah Dengue) harus melalui gigitan nyamuk,tidak dapat langsung menular dari orang ke orang.”

Angka kejadian DBD sangat tinggi setiap tahun. Biasanya kasus DBD terjadi secara musiman sehingga dikatakan angka kejadian luar biasa, yakni kasus penderita DBD sangat melonjak pada musim tertentu, biasanya di musim penghujan.

Mengapa di musim penghujan? Karena di musim penghujan lingkungan sangat kondusif untuk nyamuk aedes berkembang, di mana lingkungan yang sejuk dan banyak tergenang air.

Angka kejadian DBD banyak terjadi di perkotaan yang padat penduduk. Anehnya, justru di lingkungan kota yang bersih. Angka penderita DBD di Indonesia termasuk yang tertinggi, nomor dua setelah Brasil. Penyakit ini terjadi di seluruh provinsi di Indonesia. Jadi, DBD dapat dikatakan sebagai penyakit yang umum terjadi di masyarakat.

Tiba-tiba Demam Tinggi

Beda dengan demam tifoid, gejala DBD biasanya diawali dengan demam tinggi yang tiba-tiba pada siang hari. Suhu dapat mencapai 40 derajat celcius, disertai mual, muntah, sakit kepala, dan pegal-pegal, dan gejala infeksi pada umumnya.

Malah jikalau terlalu tinggi suhunya dan terjadi dehidrasi, dapat disusul dengan perdarahan berupa bercak-bercak merah di kulit, keluar darah dari hidung atau mimisan. Gejala yang demikian ini merupakan gejala infeksi virus. Dan untuk menentukan apakah ini DBD, maka dokter akan menganjurkan periksa darah dan darah penderita DBD umumnya trombositnya rendah, yakni < 100.000/uL ( normal : 150.000 – 400.000/uL).

Mengenai jumlah trombosit ini, ada dokter yang menganjurkan penderita dirawat di rumah sakit hanya dengan trombosit perbatasan 150.000/ul, dengan pertimbangan bahwa kadang trombosit dapat mengalami penurunan yang drastis.

Jika jumlah trombosit sampai terjun bebas, maka upaya untuk meningkatkan trombosit sangat sulit dan berisiko atas keselamatan penderita. Jika trombosit drop, maka kondisi penderita dapat masuk ke kondisi renjatan, di mana terjadi perdarahan yang luas sehingga nyawa penderita tidak dapat tertolong.

Secara klinis gejala DBD yang dapat diwaspadai adalah:

• Hari 1-3 Fase Demam Tinggi. Demam mendadak tinggi dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, kadang disertai bercak merah di kulit.
• Hari 4-5 Fase Kritis. Fase demam turun drastis dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan. Namun, inilah fase kritis kemungkinan terjadinya “Dengue Shock Syndrome.”
• Hari 6-7 Fase Masa Penyembuhan. Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan.

Dari pengalaman saya menghadapi pasien demam, biasanya seorang dokter memikirkan penyakit demam tifoid dan DBD. Awalnya, dokter akan memberi obat penurunan panas dan antibiotik yang bekerja secara umum. Setelah diberi obat, demam pasien biasanya turun, tetapi gejala mual dan muntah semakin sering disertai badan dingin dan lemas.

Nah, jika menghadapi kondisi demikian, maka sangat mungkin penderita menderita DBD. Inilah fase kritis, fase di mana demam turun, seakan penderita sembuh. Ingat, gejala mual dan muntah kian berat, ini sebagai sinyal DBD.

Kalau demam tifoid, jika diberi antibiotik yang sesuai dan dengan perawatan yang pas, insya Allah akan sembuh. Sedangkan DBD tidak (DBD tidak boleh diberi antibiotik karena penyebabnya virus). Demam reda, tetapi mual dan muntah kian berat.

Oleh sebab itu, agar tidak mengambil risiko dan mengingat keselamatan penderita, maka seseorang yang mengalami demam lebih tiga hari dengan suhu di atas 39 derajat celcius dengan gejala lemas, nyeri bagian belakang mata, sebaiknya  segera dibawa ke dokter.

Daun Jambu Biji

Pengobatan DBD hanya bersifat simptomatis atau gejala. Karena tidak ada obat untuk DBD. Jika demam, maka diberi obat antidemam. Jika mual diberi obat antimual, begitu seterusnya. Dan penanganan yang paling baik adalah dengan dinfus di rumah sakit.

Untuk mengatasi dehidrasi dan mencegah terjadi perdarahan biasanya perawatan dengan diberi infus, diharapkan jumlah trombosit meningkat dan perdarahan dapat dicegah. Selain dengan infus, ternyata DBD dapat juga dibantu dengan air rebusan daun jambu biji.

Caranya, cuci bersih lima lembar daun jambu biji merah atau putih, rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal 1/3 bagian. Untuk dosisnya, minumkan pada penderita sesering mungkin, misalnya 2-3 jam sekali. Daun jambu biji mengandu-0ng enzim quercetin yang berfungsi menghambat terbentuknya enzim mRNA yang ada pada virus dengue. Dengan dihambatnya enzim mRNA virus akan mati.

Perlu diketahui fungsi enzim mRNA ini adalah membawa pesan agar virus bereplikasi atau membelah diri. Selain membunuh virus, quercetin juga dapat meningkatkan jumlah trombosit sampai 100.000/mm3 dalam tenggang waktu sekitar 16 jam.

Catatan: Daun jambu biji lebih banyak kandungan quercetin dibanding dengan jus jambu biji. Dengan perbandingan 1 lembar daun jambu biji setara 1 kg jambu biji.

Jus kurma
Jus kurma bisa diberikan pada penderita DBD dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah trombosit. Pilih kurma Ajwa atau kurma Nabi.
• Ambil 500 g kurma Nabi dan 5 gelas air, lalu blender sampai halus.
• Minum jus kurma setiap 1 jam satu gelas.

Atasi Demam dan Pegal-pegal

Untuk mengatasi demam dan pegal, penderita dapat diberikan air hangat + madu 1-2 sendok makan + perasan lemon 1 buah, minum hangat-hangat.

Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Umumnya, infeksi virus hanya dapat diatasi dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Oleh sebab itu, penderita demam berdarah sebaiknya diberi diet yang bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh. Di antaranya, makanan yang mengandung vitamin A, B, C, dan E, serta mengandung mineral, seperti selenium, seng, dan kalsium.

Vitamin dan mineral ini dapat diperoleh pada ikan laut; buah, seperti jeruk bali, semangka, tomat, stroberi, blueberry, dan avokad; sayuran berdaun hijau, seperti brokoli dan kubis; kacang kedelai dan kacang brazil (kaya selenium).

Mencegah Lebih Baik dari Mengobati

DBD belum ada obatnya, begitu pula dengan imunisasinya. Karena DBD dapat terjadi secara massal dan musiman, maka langkah yang paling baik adalah dengan mencegah agar Anda dan keluarga tidak terserang nyamuk Aedes Aegytpti dengan jalan berikut ini.

• Pengasapan (foging), biasanya dilakukan oleh RT setempat dengan pengasapan pada rumah dan lingkungan. Bertujuan untuk membasmi jentik-jentik nyamuk pada air tergenang atau tempat perindukan nyamuk.
• Lakukan 4M :
o Menguras tempat penampungan air
o Menutup tempat penampungan air
o Mengubur barang bekas yang dapat menampung air
o Memantau jentik

• Khusus di dalam kamar tidur, usahakan bersih dari barang-barang yang dapat menjadi sarang nyamuk, seperti pakaian yang digantung dan usahakan sinar matahari atau cahaya matahari menerangi kamar. Karena nyamuk senang pada suasana remang-remang dan lembab.(AK/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)