Disabilitas Tak Surutkan Semangat Perjuangan Bebaskan Palestina

Oleh: Hasanatun Aliyah Wartawan Kantor Berita MINA

Seorang pemuda Palestina, Anas Abu Mush’ab Al-Yajizy (27) penyandang disabilitas dengan kaki kanan yang harus dipisahkan dari tubuhnya tetap semengat berjuang untuk pembebasan negara Palestina.

Disabilitas yang dialami Anas bukan dari lahir atau penyakit alami, melainkan atas kebiadaban kependudukan Israel karena keserakahan yang ingin menguasai tanah warga Palestina dan mendirikan sebuah negara baru.

Keserakahan Israel ingin menguasai tanah Palestina dilakukan dengan berbagai macam cara keji seperti menyerang warga, membombardir, menembaki, menculik, mengisolasi, mengintimidasi dan sebagainya.

Begitu juga seperti yang dialami Anas harus terpisah dengan kaki kanannya karena luka akibat bom Israel yang diluncurkan pada tahun 2014 lalu. Tidak hanya kaki kanan, Anas mengalami luka parah dibagian tangan kanannya hingga tidak bisa digerakkan. Bahkan rumahnya pun hancur akibat serangan bom Israel.

Pada tahun 2015, Anas dibawa berobat ke rumah sakit Mesir, namun tidak mendapatkan pengobatan yang memadai, akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit Turki. Di rumah sakit Turki, Anas menjalani pengobatan kurang lebih 16 bulan dan lebih dari 12 kali operasi. Alhamdulillah tangan kanannya berhasil diselamatkan, akan tetapi kaki kanannya harus diamputasi.

Tahun 2017, Anas kembali ke Gaza untuk menyelesaikan kuliahnya. Sekitar bulan Juni, ayah beliau syahid karena akibat serangan Israel yang membuatnya lumpuh hingga meninggal. Dalam kondisi seperti itu, Anas anak sembilan bersaudara kandung itu tetap bersyukur karena masih mempunyai ibu dan tiga saudara tiri.

Pada Maret 2018, walau dalam keadaan fisik yang sulit, ia tetap melanjutkan perjuangan dengan bergabung dalam gerakan Great Return March (gerakan kembali ke tanah air) bersama saudara-saudaranya di Gaza.

“Ketika kami berjuang dijalannya, maka ada Allah bersama kami. Saya luka karena berjuang, dan walau dalam keadaan terluka saya akan terus berjuan. Cacat (disabilitas) itu bukan sebab untuk menjadi lemah,” katanya kepada MINA saat kunjungannya ke Indonesia menjadi pembicara dalam acara pameran buku Islam (Islamic Book Fair/ IBF) terbesar se-Asia Tenggara tahun 2019 di Jakarta Convention Center (JCC).

Anas suami dari Nur, wanita Palestina hafidz Qur’an ini menceritakan, di Palestina, tiada rumah yang tidak bersejarah. Setiap rumah-rumah warga Palestina yang runtuh dan yang rusak memiliki sejarah pilu yang berbeda-beda, diantaranya terkena bom, di hancurkan oleh buldoser, atau dihancurkan oleh alat dan sebagainya, sementara Israel tidak bertanggung jawab atas perbuatan tersebut.

“Tebusan untuk perjuangan ini sangat besar, karena bangsa Palestina telah menyerahkan apa yang dimiliki demi mempertahankan Palestina,” ujarnya.

“Keadaan terkini di Gaza yang paling akhir, salah satunya kondisi rumah-rumah di Gaza jika dilihat di peta google semuanya hancur. Namun tidak ada rumah yang tidak bersejarah, semua rumah ada sejarahnya. Ada rumah yang ditinggal syahid oleh pemiliknya. Ada juga yang rumahnya rusak namun terisi oleh orang-orang yang terluka,” paparnya.

Atas perlakuan kesewenangan Israel, warga Palestina membutuhkan bentuan dan dukungan Negara lain, terutama Indonesia yang sengat dikenal sebagai Negara mayoritas Muslim dan juga sebagai negara sahabat Palestina sejak di bawah pemerintahan Bung Karno (Presiden pertama Indonesia) untuk bisa membantu menyelesaikan masalah di Palestina.

“Kita semua harus berusaha berjuang untuk saudara kita di Palestina, dengan kita menyampaikan kisah Palestina itu sudah sama dengan membantu perjuangan Palestina,” ucapnya.

Gerakan GRM adalah salah satu usaha perlawanan warga Gaza dari pengepungan Israel yang sudah lama. Yang mana keinginan warga Palestina untuk merdeka itu sudah sangat lama.

Ayah dari Mushaf (6 bulan) ini mengemukakan bahwa GRM juga salah satu ide baru dari intifada-intifada (perlawanan) para pemuda Palestina terhadap bangsa Israel.

Gerakan GRM yang berlangsung dari 30 Maret 2018 hingga sekarang telah melukai ribuan warga Gaza, dan menewaskan 253 orang termasuk 45 anak syahid dan 11 jenazah yang hingga saat ini masih ditahan oleh militer Israel.

GRM ini akan terus dilakukan sampai Gaza dibuka dari blokade Israel. Gerakan ini juga diikuti oleh semua alemen dari ibu-ibu, pemuda, anak-anak bahkan yang sudah terluka pun tetap berkontribusi mengikuti GRM.

“Kontribusi tetap ada, tidak mengenal kekuarangan (disabilitas/ cacat fisik) sedikit pun, karena setelah GRM ini digaungkan maka semua elemen harus ikut. Ini pembuktian bahwa warga Palestian di Gaza masih berada dibarisan depan dalam pembebasan Al-Aqsha dan Palestina,” tegasnya.

Tidak hanya GRM, kini warga Gaza melakukan intifada baru dengan serangan balon-balon yang membawa alat peledak yang diterbangkan ke wilayah Israel, hingga membakar dibeberapa titik wilayah Israel.

“Jadi kami tetap optimis bahwa ini adalah baru permulaan. Permulaan perlawanan dari sekian banyaknya pengepunagan Israel. Jadi kami sangat yakin dan optimis bahwa kemerdekaan Palestina itu akan terjadi,” tambahnya. (A/R10/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)