Enam Hal Tentang Pengeboman Ahad Paskah di Sri Lanka

Delapan ledakan bom dahsyat menghancurkan beberapa hotel kelas atas dan tiga gereja yang mengadakan kebaktian Paskah di Sri Lanka pada Ahad, 21 April 2019, menewaskan 310 orang dan melukai 500 lainnya menurut data per 23 April. Sejumlah korban luka harus menyerah terhadap luka-lukanya.

Itu adalah serangan besar pertama di pulau Samudra Hindia tersebut sejak berakhirnya perang saudara 10 tahun lalu.

Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Namun, seorang menteri Sri Lanka menuduh organisasi Muslim lokal yang kurang dikenal bertanggung jawab dan diduga mendapat dukungan asing.

Ada enam hal yang perlu Anda ketahui terkait serangan bom di Sri Lanka ini.

Apa yang terjadi?

Ledakan pertama dilaporkan terjadi di St Anthony’s Shrine, sebuah gereja Katolik Roma yang bersejarah di Kolombo, tepat saat kebaktian gereja dimulai sekitar pukul 8:45 pagi waktu setempat (03:15 GMT).

Sebagian besar atap gereja hancur oleh ledakan itu, genteng, kaca, dan serpihan kayu berserakan di lantai bersama dengan genangan darah.

Ledakan lain terjadi di Gereja Katolik St Sebastian di Negombo, sebuah kota berwarga mayoritas Katolik di utara Kolombo. Rekaman memperlihatkan orang-orang menyeret korban-korban terluka keluar dari bangku yang berlumuran darah. Ledakan ketiga di Gereja Zion Protestan di kota pantai timur Batticaloa.

Segera setelah itu, polisi mengkonfirmasi ledakan terjadi juga di tiga hotel kelas atas di Ibu Kota – Grand Cinnamon, Shangri-La, dan Kingsbury.

Beberapa jam kemudian, sebuah ledakan dilaporkan terjadi di sebuah wisma di dekat kebun binatang nasional di distrik Dehiwala, Kolombia.

Ledakan kedelapan terjadi di sebuah rumah di Kolombo. Polisi dan media mengatakan, tiga petugas tewas.

Harsha de Silva, Menteri Reformasi Ekonomi dan Distribusi Publik Sri Lanka, mengatakan, ia mengunjungi dua hotel yang diserang dan berada di tempat kejadian di St Anthony’s, tempat ia menggambarkan “adegan mengerikan”.

“Saya melihat banyak bagian tubuh berserakan,” katanya di Twitter. Ia menambahkan, ada “banyak korban, termasuk orang asing”.

Siapa yang menjadi korban?

Ledakan menghantam gereja-gereja ketika penuh oleh para jamaah yang berkumpul untuk kebaktian Paskah. Rincian terperinci korban dalam delapan ledakan itu tidak segera tersedia.

Hampir semua korban adalah orang Sri Lanka. Para pejabat mengatakan, yang tewas juga termasuk lusinan orang asing.

Kementerian Luar Negeri Sri Lanka mengatakan, warga asing yang tewas di antaranya tiga warga India, satu Portugis, dua Turki, tiga Inggris, dan dua AS-Inggris.

Warga negara Belanda dan Cina juga dilaporkan termasuk di antara korban.

Siapa yang melakukannya?

Tidak ada klaim pertanggungjawaban yang segera muncul, tetapi Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene menggambarkan ledakan itu sebagai “serangan teroris” oleh kelompok-kelompok agama.

Setidaknya 40 tersangka telah ditahan hingga Selasa, 23 April.

Menteri Kesehatan Rajitha Senaratne pada Senin menyalahkan kelompok Muslim lokal yang kurang dikenal, bernama National Thowheeth Jama’ath.

Senaratne juga mengisyaratkan kemungkinan peran jaringan internasional dalam serangan Ahad Paskah, tetapi tidak memberikan rincian.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan kepada wartawan, “sejauh ini nama-nama yang muncul adalah warga lokal”, tetapi para penyelidik akan memeriksa apakah tersangka penyerang memiliki “hubungan di luar negeri”.

Dia juga mengakui bahwa “informasi ada di sana” tentang kemungkinan terjadinya serangan.

Bagaimana reaksi Sri Lanka?

Dalam sebuah unggahan Twitter, Wickremesinghe mengatakan, “Saya sangat mengutuk serangan pengecut terhadap orang-orang kita hari ini. Saya meminta semua warga Sri Lanka selama masa tragis ini untuk tetap bersatu dan kuat.”

Presiden Maithripala Sirisena mengatakan, dia telah memerintahkan satuan tugas khusus polisi dan militer untuk menyelidiki siapa yang berada di balik serangan dan agenda mereka.

Selain jam malam, militer dikerahkan dan keamanan ditingkatkan di bandara internasional Kolombia.

Apa yang dikatakan para pemimpin dunia?

Negara-negara di seluruh dunia mengutuk serangan itu. Paus Francis menambahkan permohonan doa di akhir berkat tradisional Paskah hari Ahad.

Berbicara dari loggia Basilika Santo Petrus, Francis mengatakan, “Saya ingin mengungkapkan kedekatan saya yang penuh kasih kepada komunitas Kristen, dijadikan sasaran ketika mereka berkumpul dalam doa, dan semua korban dari kekerasan kejam seperti itu.”

Presiden AS Donald Trump di tweet-nya menyatakan belasungkawa atas “serangan teroris yang mengerikan.” Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, Moskow tetap menjadi “mitra terpercaya Sri Lanka dalam perang melawan terorisme internasional.”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut pengeboman itu “serangan terhadap seluruh umat manusia.”

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan, “Tindakan kekerasan terhadap gereja dan hotel di Sri Lanka benar-benar mengerikan. Simpati terdalam saya bagi semua yang terkena dampak pada saat yang tragis ini.”

Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri menyebut serangan itu “terorisme buta” dan ia menyampaikan solidaritas kepada rakyat Sri Lanka.

Pemerintah Indonesia mengecam keras aksi pengeboman di berbagai lokasi di Sri Lanka.

Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan tertulisnya mengatakan, Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban.

Selandia Baru, Jerman, Inggris, Iran, Bahrain, Qatar, Pakistan dan Uni Emirat Arab juga mengecam serangan itu.

Apa campuran agama dan etnis Sri Lanka?

Serangan pada hari Ahad tersebut mengingatkan hari-hari terburuk perang saudara 36 tahun di Sri Lanka, yang merenggut hingga 100.000 jiwa.

Negara kepulauan ini memiliki populasi hampir 23 juta jiwa, hampir tiga perempatnya adalah etnis Sinhala. Suku Tamil, kelompok etnis terbesar kedua, merupakan lebih dari 15 persen populasi dan sebagian besar tinggal di utara dan timur laut negara itu.

Muslim menyumbang 10 persen dari populasi dan Kristen sekitar enam persen.

Perlakuan buruk terhadap orang Tamil setelah kemerdekaan dari Inggris membantu memelihara pertumbuhan separatis bersenjata, yang mengarah pada hampir tiga dekade konflik bersenjata. Pemerintah mengalahkan separatis Tamil pada 2009.

Setelah perang saudara berakhir, perpecahan agama dengan cepat terjadi, para biarawan Budha garis keras menggalang warga Sri Lanka melawan Muslim.

Pada tahun 2018, kekerasan anti-Muslim berkobar di perbukitan Sri Lanka tengah, diwarnai oleh desas-desus yang tersebar di media sosial tentang serangan terhadap umat Buddha. Keadaan darurat diumumkan secara singkat setelah serangan itu. (AT/RI-1/B05)

Sumber: Al Jazeera

Mi’raj News Agency (MINA)