Haji untuk Transformasi Indonesia, Oleh: Legisan S Samtafsir

Pemimpin yang kita butuhkan adalah pemimpin yang punya integritas dan kapabilitas (integrity & capability) untuk mengelola potensi besar bangsa ini.  Indonesia dikaruniai berbagai kekayaan meliputi sumber daya alam (SDA), keragaman budaya, bonus demografi, kekuatan agama, posisi geo strategis.

Tapi sejak merdeka, bangsa kita belum juga mampu melahirkan pemimpin yang kredibel itu. Mengapa organisasi pemerintahan, pendidikan, ormas, tata sosial masyarakat dan kebudayaan tidak juga menjadi ‘kawah candra dimukà’ yang bisa melahirkan pemimpin itu?

What went wrong?
Apa yg salah?

Mengapa yg muncul adalah para oportunis-oportunis yang pragmatis dan minim idealisme. Di lembaga BUMN-BUMN, birokrasi, partai-partai bahkan kampus-kampus, berjubel oportunis-oportunis itu. Ke mana mereka yang idealis dan bermental negarawan sejati?

Sudah sejak VOC masuk ke wilayah nusantara tahun 1602 hingga hari ini, turun temurun, tetap saja mereka hidup dalam kesusahan. Tidakkah ada pemimpin yang benar-benar mampu membangun Indonesia? Negeri yang kaya raya sumber alam, tapi separuh penduduknya hidup melarat. Tidakkah kita bisa berpikir?

Sudahlah. Sekarang saatnya bangsa kita ber-IHRAM, memakai jubah kebenaran dan jubah keadilan, satukan misi bersama perjuangan bangsa. Kita semua, para pemimpin mesti berjubahkan kebenaran dan keadilan ini. Enyahkan segala kepalsuan. Kembalikan pada kesucian fitrah diri.

Sekarang pula saatnya kita WUQUF, introspeksi diri, apa yang salah dari diri kita, apa yang salah dari bangsa kita, agar jelas siapa sebenarnya jatidiri bangsa kita, agar jelas pula siapa subjek kehidupan berbangsa. Bangsa kita mesti tumbuh di atas jatidirinya sebagai pembawa misi besar kemanusiaan. Para pemimpin harus berdiri di atas jalan kemanusiaan yang hakiki. Anda bukan petugas partai atau golongan, tapi pembawa misi besar peradaban manusia.

Sekarang pula saatnya kita buang (LONTAR) semua kemungkaran diri dan kemungkaran yang melekat pada jiwa bangsa, agar segala bentuk kezaliman, kemunafikan, kebohongan dan kesewenangan sirna dari bangsa kita. Para pemimpin jangan lagi berbohong dan menutupi kebenaran demi pencitraan.

Sekarang pula saatnya kita bangun integritas dan komitmen yang teguh, yang berpusat pada ketuhanan yang lurus (TAWAF, TAUHID), agar semua komponen bangsa berpihak dan berpijak pada jalan kebenaran yang kokoh, yang berdaulat dan merdeka dari segala bentuk nekolim (neo kolonialisme imperialisme).

Sekarang pula saatnya kita kencangkan ‘tali sepatu’ bangsa kita uuntuk bersama berlari sekuat kemampuan (SA’I), sebagai satu tim yang saling berkolaborasi, bukan sebagai kubu yang saling berkompetisi. Kita ada dalam satu tim, itulah tim Indonesia.

Maka, meski kita semua tidak pergi haji ke tanah suci Makkah, tapi mari kita transformasikan kehidupan bangsa kita ini, kita lahirkan dari rahim ibu pertiwi ini pemimpin-pemimpin yang KREDIBEL, bukan membiarkan pecundang-pecundang recehan yang selalu merusak.

Bangkitlah bangsaku, sambutlah panggilan Allah untukmu dan untuk bangsamu. Engkau bukan individu yang lahir di tanah Indonesia, tapi engkau adalah anak bangsa yg lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Bangkit dan transformasikan bangsamu, Indonesia.

Laauqsimu bihaadzal Balad.
Waanta hillun bihaadzal Balad.
Wawalidin wama walad.

Bangkitlah.
Tempuh jalan terjal untuk kejayaan bangsamu.
Allahu Akbar walillahil hamd.
Salam transformasi Indonesia
Selamat Idul Adha, 1441 H. (AK/RI-1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)