Indonesia Tetap Bantu Afghanistan Meski Belum Resmi Akui Taliban

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Abdul Kadir Jailani (foto: Humas Kemlu RI)

Jakarta, MINA – Indonesia hingga kini belum mengakui secara resmi pemerintahan Taliban, namun hal ini tidak menghalangi RI dalam memberikan dukungan untuk masyarakat Afghanistan.

“Kita sampaikan berkali-kali dalam berbagai kesempatan bahwa sampai sekarang ini kita belum pernah memberikan pengakuan secara resmi,” kata Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Abdul Kadir Jailani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/12).

Walaupun demikian, kata dia, hal tersebut sama sekali tidak menghalangi pemerintah Indonesia untuk melakukan contact engganment dengan semua pihak di Afghanistan.

“Karena tujuan kita adalah untuk membantu proses perdamaian dan proses pembangunan kembali di Afghanistan yang memang memerlukan waktu yang cukup panjang,” katanya.

Kemlu RI kembali akan menggelar Konferensi Internasional Pendidikan bagi Perempuan Afghanistan atau International Conference on Afghan’s Women Education (ICAWE).

Konferensi yang akan digelar pada 7-8 Desember 2022 di Bali tersebut bertujuan untuk menggalang dukungan internasional dalam rangka memajukan pendidikan dan pemberdayaan perempuan di Afghanistan.

“Pendidikan dan pemberdayaan perempuan Afghanistan sangat berperan penting dalam memajukan kemakmuran dan memerangi kemiskinan di Afghanistan,” kata Abdul Kadir.

Menurutnya, tidak ada perdamaian tidak akan ada pernah pembangunan di Afghanistan tanpa peran wanita yang memadai. Oleh karenanya, Pemerintah Indonesia memandang penting untuk menyelenggarakan konferensi tersebut.

Penyelenggaraan konferensi tersebut adalah merupakan kontribusi kontribusi konkrit Indonesia dalam mendorong perdamaian dan pembangunan di Afghanistan.

Konferensi tersebut rencananya akan dihadiri oleh perwakilan dari Qatar, Pakistan, Selandia Baru Norwegia dan Uni Emirat Arab serta sejumlah utusan khusus dari organisasi-organisasi internasional, seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). (L/RE1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)