GEMPAR DI ISRAEL KARENA PELARANGAN NOVEL CINTA REMAJA YAHUDI-PALESTINA

Penulis Israel Dorit Rabinyan yang sekaligus penulis novel berjudul “Gader Haya” atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Borderlife (Foto: Haaretz)
Penulis Israel Dorit Rabinyan yang sekaligus penulis novel berjudul “Gader Haya” atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Borderlife (Foto: Haaretz)

Tel Aviv, 21 Rabi’ul Awwal 1437/1 Januari 2016 (MINA) – Larangan Kementerian Pendidikan Israel pada novel “Borderlife” yang mengisahkan kisah cinta antara seorang remaja wanita Yahudi dan seorang pria Palestina,  telah menggemparkan Israel.

Para kritikus sastra dan para guru melancarkan protes keras di mana-mana.

“Larangan ini memalukan dan saya akan tetap minta murid-murid saja, membaca novel ini,” kata Oriani Inbar, guru sastra Yahudi di Tel Aviv. Demikian Sabah Daily yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat.

Sementara itu saluran TV Channel 2 melaporkan, penjualan buku yang juga mendapat penghargaan sebagai buku terbaik ini, meloncat drastis sejak buku ini dilarang.

Sang pengarang Dorit Rabian menampik kekhawatiran yang bisa ditimbulkan bukunya. “Saya harap kemarahan publik ini menyadarkan Kementerian Pendidikan untuk mencabut larangan pada novel saya,” tuturnya.

Menteri Pendidikan Israel, Naftali Benne, sebelumnya telah mengeluarkan novel itu, yang sebetulnya sudah terbit tahun 2014,  dari kurikulum sekolah menengah umum / setingkat SMA di ‘Negeri Yahudi’ itu yang dikritik sebagai sensor dan pelanggaran pada kebebasan berekspresi.

Seorang pejabat, Kamis (31/12), mengungkapkan bahwa Israel memandang novel berjudul “Borderlife” karya Dorit Rabinyan itu bisa mendorong perkawinan antara orang Yahudi dan non-Yahudi dan dikhawatirkan meningkatkan ketegangan antara para siswa.

Media Israel mengatakan beberapa guru meminta novel “Borderlife” dimasukkan dalam kurikulum sekolah menengah umum. Tetapi seorang pejabat kementerian mengatakan sebuah komite menolak pemakaian karya sastra tersebut, karena bisa mendorong ketegangan Yahudi-Arab yang sudah tinggi.

“Buku (Novel) ini bisa menghasut kebencian dan menyebabkan badai emosional (di dalam kelas),” kata Dalia Fenig, yang memimpin komite Kementerian Pendidikan, pihak yang menentukan karya sastra yang bisa dimasukkan ke dalam kurikulum.

Sang penulis menampik kekhawatiran otoritas Israel. Rabiyan menegaskan novelnya itu mencoba menyoroti persamaan dan perbedaan antara para tokoh protagonis utama, dan mengamati konflik dari jauh.

Karya sastra yang memenangkan penghargaan itu mengemukakan plot cerita cinta yang berlangsung di New York, Amerika Serikat.

“Kedua pahlawan (tokoh utama) menghabiskan musim dingin di luar negeri dan mencoba untuk mengenal satu sama lain dengan seluk-beluk yang mengagumkan, sesuatu yang tidak bisa terjadi di wilayah sengketa,” ujar Rabinyan kepada Radio Israel.

“Mungkin kemampuan mereka (tokoh utama) dalam mengatasi hambatan dari konflik Timur Tengah merupakan sesuatu yang mengancam Kementerian Pendidikan,” imbuhnya dengan nada sinis.

Sebelumnya kurikulum SMU/SMA di Israel memasukkan buku-buku yang mencakup berbagai isu panas, termasuk Khirbet Khizeh, sebuah novel 1949 tentang pengusiran orang Arab dari sebuah desa fiktif oleh tentara Israel, dan A Trumpet in the Wadi, novel 1987 tentang hubungan cinta antara seorang pria Yahudi dan seorang wanita Arab Kristen.

Sampul novel Borderlife (Dok. Ynetnews)
Sampul novel Borderlife (Dok. Ynetnews)

Televisi Israel Channel 2 melaporkan penjualan novel “Borderlife” telah meningkat secara dramatis sejak larangan diumumkan oleh kementerian yang dipimpin oleh Naftali Bennett itu.

“Saya berharap kemarahan publik akan membuat kementerian pendidikan mengubah pikirannya, saya akan memberitahu murid saya tentang hal ini dan saya yakin mereka akan antusias membeli buku itu,” ungkapnya kepada Radio Israel. (P022/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)