Isu Muslim Uighur, Peneliti Hukum Imbau Umat Cari Fakta-fakta

Depok, MINA – Terkait isu Muslim Uighur di China yang menagalami penahanan dan penyiksaan, peneliti hukum Kris Wijoyo Soepandji mengimbau umat agar mencari fakta-fakta yang sebenarnya terjadi.

“Umat harus mencari fakta-fakta sebenarnya, jangan sampai menjadi korban apa yang disebut disinformasi, jadi informasi itu dibuat untuk mengadu domba dan itu bisa berdampak luas,” kata Kris kepada koresponden MINA Sakuri usai Diskusi Publik Tingkat Nasional bertema “Meramu Titik Temu Untuk Uighur” di Universitas Indonesia (UI) pada Jumat (1/11).

Dosen di Fakultas Hukum UI tersebut mengutip terjemahan ayat Al-Quran tentang berlaku tidak adil yang didorong faktor kebencian.

“Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu berbuat tidak adil, berbuat adillah, karena adil itu dekat dengan takwa. Saya pikir itu yang paling penting,” katanya.

Menurutnya, Pancasila bisa tumbuh karena setiap negara mempunyai falsafah sendiri, termasuk Tiongkok punya cara hidupnya sendiri.

“Selama dia tidak memaksakan ke negara kita, kita juga harus hatihati saat kita melihat kesalahan di mereka. Karena hal tersebut bisa membuat kita tidak adil atau malah melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tidak patut masuk,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen PPI Tiongkok 2013-2015 Fathan Asadudin Sembiring mengatakan, isu kehidupan Muslim Uighur di China secara keseluruhan harus terus-menerus dilihat dan memperhatikannya.

Pemuda yang lima tahun berada di China itu menegaskan, untuk menyeret pemerintah Tiongkok ke pengadilan internasional, harus ada dulu pembuktian bukti-buktinya dan menunjuk aktornya. (L/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)