Jaga Kualitas Padi, Petani Diharapkan Kurangi Penggunaan Pestisida

Cianjur, MINA – Penggunaan bahan kimia pestisida terhadap tanaman padi tidak hanya membunuh hama, tetapi juga merusak tanaman dan memperburuk kualitas padi yang akan dipanen.

Lembaga filantropi Dompet Dhuafa (DD) bersama mitranya di Cianjur, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Al-Ikhwan telah memulai kampanye memerangi penggunaan bahan kimia pestisida dalam mengusir hama pada tanaman padi.

“Pada tahun 2009, DD memberikan pendampingan kepada petani di Cianjur. Pada awalnya, para petani melakukan perawatan tanaman padi secara tradisional dan masih menggunakan pestisida,” kata Dimas, Direktur Pemberdayaan Dompet Dhuafa.

Kepada awak media saat meninjau wilayah pertanian di Cianjur, Kamis (11/7), ia menjelaskan bahwa para pendamping dari DD memberikan pengetahuan mengenai tata cara perawatan tanaman padi tanpa obat kimia, sehingga beras yang dihasilkan bisa menjadi lebih sehat dan higienis.

“Kita bekerjasama dengan mitra kita di Cianjur mulai sejak tahun 2009. Saat itu, kita berfikir bagaimana beras yang dihasilkan di wilayah Cianjur menjadi salah satu beras yang istimewa, berbeda dari yang lain,” katanya.

Dalam mengembangkan program tersebut, DD menyiapkan satu kader untuk menggantikan program pendampingan di setiap wilayah binaan. Lembaga yang didirikan pada 1993 itu berharap dengan adanya kader tersebut, para petani bisa lebih mandiri.

Sementara itu, Ketua Kelompok Gapoktan Al-Ikhwan Cianjur, Heru mengatakan bahwa sejak bermitra dengan Dompet Dhuafa pada 2009 lalu, kelompok yang dipimpinnya sudah melarang penggunaan bahan kimia pestisida pada tanaman padi.

“Untuk pengusiran hama, kita menggunakan obat nabati. Kita tidak boleh menggunakan obat kimia pestisida. Di kelompok kami, haram hukumnya menggunakan pestisida. Siapa yang melanggar aturan ini, silahkan saja keluar dari Kelompok Gapokta Al-Ikhwan,” katanya.

Heru mengakui, bermitra dengan DD membuat kehidupan para petani yang menjadi anggota Kelompok Gapoktan Al-Ikhwan terus mengalami peningkatan. Bahkan yang sebelumnya tidak bisa menikmati hasil panennya, sekarang sudah bisa merasakan manfaatnya.

“Memang sejak dahulu tidak ada perhatian dari pemerintah daerah. Petani di sini kebanyakan melakukan jual-beli. Ketika panen, mereka menjual beras, ketika paceklik, mereka membeli beras-beras raskin yang disiapkan,” katanya. (L/R06/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)