Jelang Ramadhan, Pemerintah Tegaskan Harga Pangan Stabil

Jakarta, MINA – Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi menegaskan, harga pangan akan tetap terkendali pada bulan Ramadhan dan jelang perayaan Idul Fitri tahun ini.

“Bicara harga pangan saat ini bukanlah hari sulit. Menjadi tidak sulit karena pada 2017 pun berhasil dikendalikan, ini konyeksinya bukan hanya daging, tapi semua konoditas pangan bisa dikendalikan dengan baik. Termasuk sinergi kelembagaan yang sudah dilakukan dengan baik, tinggal diulangi saja,” katanya.

Berbicara dalam Forum Merdek Barat (FMB 9), Agung membeberkan, secara detil, kondisi ketersediaan pangan pada Mei-Juni hanya menunjukkan persoalan di tiga item pangan. Yakni, kedelai (-297.1), daging sapi, dan gula pasir.

“Itu terjadi karena memang produksi di bawah kebutuhan. Tapi pemerintah sudah lakukan langkah-langkah khusus. Apalagi pada Juni-September, gula pasir sudah memasuki musim giling, dan adanya stok di Bulog sebanyak 400 ribu ton.

“Untuk daging sapi, kami memberi tanda merah di list karena memang secara nasional produksi baru 80 persen. Namun impor Indonesia sebanyak 40 ribu ton pada 2018, dan di Bulog juga ada 35 ribu ton sapi bakalan pada Mei Juni. Oleh karena itu tidak juga perlu dikhawatirkan ketersediaannya di Ramadan dan Lebaran 2018,” paparnya.

Sementara itu terkait stok beras, Agung mengatakan, relatif aman. Tercatat, tambah dia, stok di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), ada 43 349 ton. “Jadi stok berlebihan. Karena normalnya 23-30 ribu ton. Sementara terkait harga, beras memang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, tapi dua minggi ini ada kecenderungan menurun,” katanya.

Selain itu, Agung juga menjelaskan, produksi bawang merah pada Mei dan Juni 2018, naik 20-30 persen dibandingkan periode sebelumnya. Hal itu, sambungnya, karena dilakukan penanaman dua bulan sebelumnya, dengan luas tanam yang dinaikkan 20-30 persen.

“Demikian juga dengan cabe besar dan cabe rawit. Sedangkan untuk stok minyak goring, pada Mei-Juni, produksi luar biasa, dan Indonesia juga dikenal sebagai eksportir minyak goring. Sedangkan terkait harga minyak goreng dan gula pasir, saat ini justru di bawah 2017,” katanya.

Faktor Dolar

Terkait harga daging ayam, Agung mengakui, hari ini ada kenaikan sebesar 500 rupiah per kilo. Demikian juga, kata dia, dengan telur ayam.

“Kenapa naik karena harga pangan naik, yakni antara 100-150 rupiah per kilo. Itu terjadi karena ada penguatan dolar, yang berpengaruh terhadap pakan, khususnya konsentrat yang memang masih impor,” katanya.

Namun, Agung menegaskan, siang ini akan digelar pertemuan dengan produsen ayam dan telur. “Semoga saja soal kenaikan harga ini bisa dikendalikan,” katanya.

Kendati mengalami kenaikan, Agung mengatakan, harga telur ayam pun hampir sama dibanding 2017.

Terkait upaya menstabilkan harga dan pasokan, Agung mengatakan, ada sejumlah langkah sinergis yang dilakukan Kementan bersama Bulog dan Kemendag. Di antaranya, sambung dia, pembukaan lapak di pasar untuk meng-influence supaya harga tidak naik.

Pemerintah juga, menurut Agung, menggelar bazar pasar murah, monitoring harian, dan pasar e-commerce bahan pokok pertanian. Yakni, kata dia, khsusnya beras jagung, bawang, cabe, daging ayam.

Selama ini, menurut Agung, ada pula program pemberdayaan lumbung pangan masyarakat. Diketahui, selama ini Bulog merupakan pemegang beras cadangan pemerintah, maksimum 5 persen dari produksi.

“Tapi masyarakat nyatanya juga bisa menjadi instrumen untuk memegang cadangan beras. Kini ada 3.000 lumbung pangan masyarakat. Kalau masing-masing menyimpan 50 ton saja, sudah cukup kebutuhan mastarakat. Jadi mekanismenya, saat tidak panen, petani boleh pinjam, saat panen petani itu menggantinya,” katanya.

Turut hadir sebagai narasumber Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhr dan Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Karyawan Gunarso. (L/R06/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments: 0