Kisah Pilu Muslimah Uighur di Kamp Penahanan Cina

Xinjiang, MINA – Muslimah muda Uighur, Mihrigul Tursun mengisahkan kembali pengalaman yang ia alami selama di kamp penahanan Cina. Ia lebih memilih untuk dibunuh saja, dibandingkan harus merasakan kekerasan yang tiada henti-hentinya.

“Saya memohon pada mereka untuk membunuh saya saja setiap kali saya disetrum listrik. Seluruh tubuh saya bergetar hebat dan merasakan sakit di pembuluh darah saya,” ujarnya.

Hal itu ia ceritakan selama konferensi pers di National Press Club di Washington, Amerika Serikat (AS) pada akhir November kemarin.

Tursun mengaku diinterogasi selama empat hari berturut-turut tanpa diperbolehkan tidur, rambutnya dicukur, kemudian badannya disetrum listrik dan menjadi sasaran pemeriksaan medis yang tidak jelas, demikian aboutislam.net melaporkan.

Begitulah wanita muda Uighur, Mihrigul Tursun menggambarkan penyiksaan yang ia alami di sebuah kamp tahanan Cina. Wanita 29 tahun itu dipermalukan dan dilecehkan di sebuah kamp pengasingan, tempat otoritas Cina menahan ratusan ribu Muslim Uighur yang merupakan penduduk asli setempat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melaporkan bahwa pihak berwenang penjajah Cina telah memenjarakan sebanyak dua juta muslim Uighur di “kamp pendidikan kembali” untuk mempromosikan apa yang disebut oleh pemerintah Cina sebagai “kesatuan etnis”.

Laporan yang dilakukan pada tahun 2017 itu telah mencatat, kekurangan gizi yang parah, banyaknya kematian terutama di kalangan orang tua dan lanjut usia. Bahkan dalam beberapa kasus administrasi, mereka dipaksa untuk mengonsumsi obat-obatan psikiatri.

Pengejaran Tanpa Henti

Tursun sendiri merupakan seorang mahasiswa yang dibesarkan di Uighur, kemudian ia pindah ke Mesir untuk belajar bahasa Inggris di sebuah universitas, dan di sanalah ia dipertemukan dengan suaminya. Mereka pun telah dikaruniai anak kembar tiga.

Pada tahun 2015, ia kembali ke Uighur untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya, akan tetapi dia segera ditangkap oleh pasukan Tiongkok, yang dengan kejamnya memisahkan Tursun dengan anak-anaknya yang masih bayi.

Tiga bulan kemudian Tursun pun dibebaskan, tetapi harus merasakan kepedihan yang mendalam, dikarenakan salah satu dari tiga anak kembarnya meninggal dunia, dan dua anak lainnya mengalami masalah kesehatan.

Beberapa bulan kemudian, ia ditahan kembali dan menghabiskan waktu tiga bulannya di sel penjara yang sempit dengan 60 wanita lainnya, mereka harus tidur secara bergantian, menggunakan toilet yang dipasangi kamera keamanan dan wajib menyanyikan lagu-lagu yang memuji Partai Komunis Cina.

“Saya dan narapidana lain dipaksa untuk mengambil obat yang tidak kita ketahui, termasuk pil yang membuat pingsan, dan juga cairan putih yang menyebabkan menstruasi pada beberapa wanita terhenti. Terdapat sembilan wanita yang meninggal dunia selama kurun waktu tiga bulan di tempat sel kamp penahanan kami,” katanya.

Setelah pembebasannya, wanita Muslim itu membawa dua anaknya ke Mesir, tetapi pihak berwenang Cina memerintahkannya untuk kembali ke Uighur.

Ia pun mengabaikan perintah tersebut, dan tetap pergi. Setelah tiba di Kairo, Tursun menghubungi otoritas AS, yang kemudian pada bulan September ia pergi ke Amerika dan menetap di Virginia.

Pemerintah Cina mengklaim kepada PBB bahwa Muslim Uighur yang ditahan di kamp-kamp itu bersyukur bisa ditahan di kamp pengungsian massal, karena itu membuat hidup mereka lebih berwarna.

Otoritas Cina menggambarkan ‘kamp pendidikan kembali’ sebagai upaya untuk membawa Muslim asli Uighur ke dunia yang modern dan beradab.

Uighur adalah sebuah wilayah republik Muslim Asia Tengah dengan total luas 1,665 juta km² yang diduduki oleh Cina sejak tahun 1949. Menurut data pada tahun 2010, terdapat sekitar 21,8 juta orang yang tinggal di sana, dan sebagian besar warganya merupakan muslim. (AT/Ais/R06)

Sumber: aboutislam.net

Mi’raj News Agency (MINA)