Kita pun Memakan Sampah Plastik (Oleh: Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo)

Oleh: Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI)

Menurut sebuah penelitian di jurnal Science pada tahun 2015, Indonesia dengan negara berpenduduk sekitar 260 juta orang tersebar di 17 ribu pulau, merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Banyak berita dunia terkait sampah plastik di Indonesia, diantaranya adalah viral video oleh seorang penyelam Inggris Rich Horner mengenai sampah plastik yang menumpuk di laut Bali. Serta viral video oleh Gery dan Sam Bencheghib, dua kakak beradik warga Perancis, mendayung sampannya yang terbuat dari botol plastik bekas, di tengah sampah yang dibuang di sungai Citarum sehingga sungai Citarum dinobatkan menjadi sungai terkotor di dunia oleh World Bank.

Pemberitaan dunia terakhir terkait sampah plastik di Indonesia pada 20 November 2018 adalah ditemukannya bangkai Paus Sperma (Physeter macrocephalus) yang berukuran panjang ± 9,5 meter, dan lebar ± 437 cm yang mati terdampar di Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dari dalam perut bangkai paus tersebut ditemukan sampah plastik seberat 5,9 kilogram  yang isinya termasuk 115 gelas plastik, 25 tas plastik, empat botol plastik, dua sandal jepit. Paus sudah membusuk ketika tim penyelamat tiba, sehingga para penyelidik tidak dapat menentukan apakah plastik itu menyebabkan kematiannya.

Kejadian-kejadian tersebut di atas merupakan fenomena gunung es, banyak kejadian-kejadian yang tidak diberitakan. Lebih dari 800 spesies hewan laut rentan terhadap sekitar 8,8 juta ton deposit plastik setiap tahun di lautan. Plastik dapat menjerat dan menjebak hewan, yang mengganggu pertumbuhan fisik mereka, terkadang menyebabkan kematian. Keprihatinan yang mengerikan antara organisme laut dan sampah plastik akan terus berlanjut kecuali beberapa tindakan drastis diambil.

Manusia pun tidak terbebas dari memakan plastik

Sampah plastik, merupakan salah satu masalah utama yang ada di perairan dunia, termasuk laut, danau, dan sungai. Bagi negara berkembang khususnya, sampah plastik ini merupakan salah satu permasalahan sangat sulit dikendalikan karena penggunaannya sangat banyak dan terus meningkat. Sebagian besar dibuang sembarangan karena kurang adanya pengolahan limbah plastik. Sebagian dari sampah plastik tersebut berupa mikroplastik yang merupakan suatu bagian atau potongan dari plastik yang berukuran kurang dari 5 mm, dan memiliki resiko yang membahayakan bagi perairan.

Mikroplastik merupakan materi yang berasal dari berbagai sumber. Sumber pertama, primary microplastic, adalah microplastik yang sengaja “dibuat” untuk keperluan kosmetik, pembersih wajah, pasta gigi yang memiliki mekanisme sebagai “amplas” atau pembersih. Sumber kedua, secondary microplastic, adalah plastik berukuran besar yang terdegradasi menjadi serpihan – serpihan kecil baik akibat arus laut, atau proses alam lainnya. Mikroplastik tipe pertama inilah yang memiliki resiko lebih tinggi dan mudah terlepas ke perairan. Plastik di lautan akan cenderung terbawa arus di lautan dan terkumpul di convergen zone, area di mana plastik ini akan terkumpul dan tidak dapat terbawa ke tempat lain lagi.

Meikasari menyatakan bahwa secara umum, plastik dapat melepas beberapa bahan kimia seperti PCB’s, nonyphelols, bisphenol A, mapun phthalates. Plastik juga dapat menyerap beberapa polutan seperti PCB, DDT, dan DDE. Semua bahan tersebut merupakan bahan yang berbahaya bagi organisme perairan maupun manusia. Plastik yang terbakar pada suhu kurang dari 1.200 derajat Celcius dapat menyebabkan terlepasnya PCB, yang merupakan bahan karsinogenik (penyebab kanker). Mikroplastik juga dapat termakan oleh larva ikan atau biota berukuran lebih besar, yang selanjutnya terakumulasi melalui rantai makanan dan berdampak pada spesies – spesies yang terdapat di dalamnya.

Jill Neimark melaporkan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam sampel kotoran manusia dari beberapa sampel dari beberapa bagian dunia, menurut sebuah studi yang dilaporkan  pada konferensi tahunan ke 26 Gastroenterologi di Wina.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Kedokteran Wina dan Badan Lingkungan Austria, dengan melihat sampel tinja dari delapan orang di delapan negara yang berbeda: Finlandia, Italia, Jepang, Belanda, Polandia, Rusia, Inggris dan Austria. Setiap sampel tinja diuji positif hingga sembilan jenis plastik yang berbeda, dengan rata-rata 20 partikel plastik per 10 gram tinja. Chelsea Rochman seorang ahli ekologi dari Universitas Toronto mengatakan bahwa apa pun yang lebih kecil dari 150 mikron, dan terutama yang lebih kecil dari 50 mikron, dapat bermigrasi melalui dinding usus dan masuk ke sel-sel darah dan organ tubuh kita.

Tidak hanya potensi migrasi plastik di seluruh tubuh kita menjadi perhatian, tetapi aditif dalam plastik dapat membawa risiko kesehatan. Banyak  aditif ini berpengaruh pada endokrin. Menurut Dr. Herbert Tilg, presiden dari Austrian Society of Gastroenterology dan ketua Komite Ilmiah UEG, mikroplastik mungkin bisa menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap sindrom radang usus atau bahkan kanker usus besar, yang sedang meningkat di kalangan orang dewasa muda.

Bagaimana manusia dapat mengkonsumsi mikroplastik ini?. Sampel garam dari 21 negara di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, Afrika, dan Asia dianalisis. Dari 39 merek garam yang diuji, 36 mengandung mikroplastik di dalamnya, menurut analisis baru oleh para peneliti di Korea Selatan dan Greenpeace Asia Timur. Dengan menggunakan penelitian garam sebelumnya, upaya baru ini merupakan upaya pertama untuk melihat penyebaran mikroplastik dalam garam makan dan korelasinya dengan lingkungan tempat pencemaran plastik ditemukan. Tiga merek yang tidak mengandung mikroplastik berasal dari Taiwan (garam laut olahan), Cina (garam batu halus), dan Perancis (garam laut tidak dimurnikan yang diproduksi oleh penguapan matahari). Studi ini diterbitkan bulan ini dalam jurnal Environmental Science & Technology. Temuan menunjukkan bahwa konsumsi manusia mikroplastik melalui produk laut sangat terkait dengan pencemaran plastik di wilayah tertentu.

Kepadatan mikroplastik yang ditemukan dalam garam bervariasi secara dramatis di antara merek-merek yang berbeda, tetapi mereka yang berasal dari merek Asia sangat tinggi, demikian temuan studi tersebut. Jumlah mikroplastik tertinggi ditemukan dalam garam yang dijual di Indonesia. Asia adalah titik tertinggi polusi plastik, termasuk Indonesia yang memiliki 54.720 km garis pantai memiliki tingkat pencemaran plastik terburuk kedua di dunia.

Menurut Nur Hidayati, Direktur WALHI, 30% dari harga barang yang kita beli adalah harga kemasan. Cilakanya kemasan itu tidak ramah lingkungan. Saatnya kita ubah paradigma dalam memandang sampah dan kita perlu aktif menjadi bagian dari solusi persampahan di Indonesia.

Berdasarkan penelitian Jambek pada tahun 2015, 80% sampah yang dibuang ke laut berasal dari darat dan 90% adalah plastik. Pergerakan hidrodinamik laut dapat menyebabkan penumpukan sampah plastik yang berasal dari negara lain. Sampah ini akan merusak ekosistem pantai dan laut yang akan mengganggu kesehatan masyakarakt, merugikan produksi ikan serta menurunnya daya saing pariwisata Indonesia.

Penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia terus meningkat, namun pemerintah, masyarakat dan dunia usaha terus berupaya untuk mengekangnya dengan berbagai program. Hal-hal yang dapat kita lakukan adalah:

  1. Pilih produk atau gaya hidup yang menghasilkan sampah minimal atau tanpa sampah plastik sama sekali.

Salah satu contoh program yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia adalah menginisiasi ecoRamadhan. Dalam program ini masjid tidak menggunakan plastik sekali pakai serta minimal sampah dalam memberikan makanan buka puasa (iftar) serta mendorong menggunakan makanan lokal. Hal ini berkaitan dalam penerapan Fatwa MUI no 14/2014 ttg Pengelolaan Sampah guna Melindungi Ekosistem.

  1. Dorongan pemerintah menggalakkan sirkular ekonomi,  bagaimana sebisa mungkin produk tidak menghasilkan sampah. Hal ini dapat dicapai melalui desain produk yang tahan lama, perawatan, perbaikan, penggunaan kembali, memperbaharui, dan daur ulang. Ketika sebuah produsen akan menghasikan sampah mereka akan berpikir nanti setelah produk ini selesai digunakan atau masa pakainya habis, produk ini akan menjadi apa? Dan kalau dia menjadi sampah, sampah ini bisa dipakai kembali? Atau dia akan hanya di buang di Tempat Pembuangan Akhir.

Produsen barang-barang konsumen (Fast moving Consumer Goods – FMCG) menggunakan model bisnis yang  mengasumsikan bahwa pada akhirnya semua kemasan plastik dapat, dan akan, dikumpulkan dan didaur ulang menjadi kemasan atau produk baru. Model bisnis ini menghasilkan produk samping berupa sampah plastik sekali pakai, sebuah model ekonomi yang mengabaikan krisis polusi plastik, menurut survei sektor komprehensif Greenpeace International.

Laporan Greepeace berfokus pada 11 perusahaan FMCG terbesar: Coca-Cola Company, Colgate-Palmolive, Danone, Johnson dan Johnson, Kraft Heinz, Mars, Nestlé, Mondelez , PepsiCo, Procter & Gamble dan Unilever. Temuan-temuannya adalah:

  • Kemasan sekali pakai merupakan sistem yang digunakan oleh semua perusahaan FMCG, tanpa tanda-tanda perubahan.
  • Tidak ada perusahaan FMCG yang disurvei memiliki strategi komprehensif yang mencakup komitmen untuk beralih dari penggunaan plastik sekali pakai.
  • Selaras dengan peningkatan produksinya, sebagian besar perusahaan FMCG terus meningkatkan jumlah kemasan plastik sekali pakai dan limbah yang mereka hasilkan.
  • Sebagian besar perusahaan FMCG tahu tapi kurang mengungkapkan jumlah kemasan mereka yang didaur ulang dan bahkan kurang mengetahui pengolahan limbah plastik mereka setelah dikonsumsi.
  • Meski jejak plastik mereka signifikan, solusi yang dilakukan oleh bisnis terutama terkait dengan daur ulang. Bukan pada pengurangan atau penciptaan sistem kemasan baru.
  • Kurangnya transparansi dan sedikit perusahaan FMCG yang bersedia mengungkapkan data penting atas penggunaan plastik mereka.

Survei ini bertujuan untuk menentukan sejauh mana komitmen, tindakan, dan kinerja FMCG menangani dampak lingkungan dan sosial atas kemasan dan limbah plastik mereka. Sektor ini sangat perlu mengubah model bisnisnya dan bersiap di mana produk dan kemasan sekali pakai tidak lagi dapat diterima lagi.

Harus ada perubahan paradigma dari kalangan masyarakat dan dunia usaha untuk merubah gaya hidupnya yang ramah lingkungan, khususnya dalam penggunaan bahan-bahan yang merusak lingkungan. Karena berbagai kemaksiatan dan dosa-dosa manusia pasti akan kembali kepada kita semua sebagai peringatan bagi manusia, seperti firman Allah “Telah tampak kerusakan dai darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, (supaya Allah) agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum:41).

 

Referensi:

Greenpeace. 2018. “Corporations Behind Plastics Pollution Pandemic”. http://www.hijauku.com/2018/10/23/corporations-behind-plastics-pollution-pandemic/

Hidayati, Nur. 2018. “Membeli Sampah”. https://www.youtube.com/watch?v=V4yJUrBXzDQ

Meikasari, Nila Septi. 2017. “Microplastik : Masalah Pencemaran Serius di Lingkungan Perairan”. http://himasper.lk.ipb.ac.id/microplastik/

Neimark, Jill. 2018.  “Microplastics Are Turning Up Everywhere, Even In Human Excrement”. https://www.npr.org/sections/thesalt/2018/10/22/659568662/microplastics-are-turning-up-everywhere-even-in-human-excrement

Parker, Laura. 2018. “Microplastics found in 90 percent of table salt”. https://relay.nationalgeographic.com/proxy/distribution/public/amp/environment/2018/10/microplastics-found-90-percent-table-salt-sea-salt#amp_tf=From%20%251%24s

(AK/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)