Komunitas Kristen Inggris Boikot Investasi ke Perusahaan Pro-Israel

London, MINA – Komunitas Kristen Quaker di Inggris menyatakan pada Senin (19/11) bahwa mereka tidak akan menginvestasikan dana ke perusahaan-perusahaan yang dapat memberikan keuntungan untuk pendudukan Israel di Palestina.

Dalam siaran pers, seperti disebutkan media MEMO, kelompok agama yang dikenal dengan Perkumpulan Agama Sahabat itu mengatakan, pimpinan gereja mereka telah mengambil keputusan itu karena tradisi panjangnya tentang investasi yang beretika.

Pimpinan gereja mereka menolak untuk “memberikan keuntungan dari penjajahan Palestina,” dengan menunjuk pada sejarah penolakan investasi dari apartheid Afrika Selatan.

“Sejarah panjang kami bekerja untuk perdamaian yang adil di Palestina. Ini telah membuka mata kami terhadap banyak ketidakadilan dan pelanggaran hukum internasional yang timbul dari pendudukan militer Israel di Palestina,“ kata Paul Parker, sekretaris Quaker di Inggris.

“Dengan pendudukan sekarang di tahun ke-51, dan tanpa akhir yang jelas, kami percaya kami memiliki kewajiban moral untuk menyatakan secara terbuka bahwa kami tidak akan berinvestasi di perusahaan mana pun yang akan memberikan keuntungan bagi pendudukan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, keputusan itu akan sulit untuk didengar beberapa orang.

“Namun kami berharap mereka akan mengerti bahwa keyakinan kami memaksa kami untuk berbicara tentang ketidakadilan di mana pun kami melihatnya di dunia, dan tidak menghindar dari pembicaraan yang sulit,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Sebagai orang Quaker, kami berusaha untuk menghayati iman kami melalui tindakan sehari-hari, termasuk pilihan yang kami buat tentang tempat menaruh uang kami.”

Dia melanjutkan bahwa kelompoknya sangat meyakini kekuatan alat yang sah, demokratis dan tanpa kekerasan, seperti investasi yang bertanggung jawab secara moral untuk mewujudkan perubahan positif di dunia.

“Kami ingin memastikan uang dan energi kami ditempatkan di tempat-tempat yang mendukung komitmen kami untuk perdamaian, kesetaraan dan keadilan,” lanjutnya.

Ia berharap, dengan mengumumkan boikot itu, akan mendorong orang lain untuk berpikir tentang investasi mereka dan membantu menantang legalitas dan praktik dari pendudukan militer yang sedang berlangsung.

Ingrid Greenhow, panitera Quaker mengharapkan adanya publikasi database Bisnis dan Hak Asasi Manusia PBB yang akan mencantumkan perusahaan yang terlibat dalam aktivitas terkait pemukiman di Palestina yang diduduki. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)