KASUS Anita menunjukkan bahwa satu tindakan tanpa pertimbangan bisa mengubah arah hidup seseorang secara drastis. Bukan karena tumblernya mahal, tetapi karena adabnya yang murah. Dunia kerja tidak hanya menilai kompetensi, tetapi juga karakter, emosi, serta bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Sikap mempermalukan orang di ruang publik adalah contoh buruk yang tidak bisa ditoleransi di banyak perusahaan modern. Dunia sekarang menuntut profesionalisme di mana pun kita berada, bahkan saat sedang lelah, emosi, atau merasa dirugikan. Ada cara elegan untuk mengadu, bukan dengan “menggoreng” orang lain di media sosial.
Kerugian yang muncul bukan hanya pada pihak yang dituduh, tapi juga pada pelaku sendiri. Nama baik tercoreng, pekerjaan hilang, dan jejak digital membekas selamanya. Itulah akibat dari keputusan impulsif yang tidak mempertimbangkan konsekuensi panjang.
Perusahaan PT Daidan Utama mengambil tindakan tegas bukan semata-mata karena viral, tetapi karena nilai moral perusahaan dilanggar. Adab dan integritas adalah fondasi penting dalam dunia profesional. Siapa pun yang menabraknya harus siap menanggung risiko.
Baca Juga: Gelap Mengajarkan Kita Tentang Cahaya
Pelajarannya jelas: sebelum berbicara, berpikirlah. Sebelum memviralkan masalah kecil, sadarlah bahwa harga diri jauh lebih mahal dari apa pun. Kejadian ini seharusnya menjadi alarm bagi banyak orang—jaga adab, karena kariermu bisa hancur hanya oleh satu video.
Adab: Mahkota Tak Terlihat yang Menentukan Martabat
Dalam Islam, adab menempati kedudukan lebih tinggi daripada sekadar ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Ini menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kerusakan, bukan keberkahan.
Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk menjaga lisan mereka. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11–12, Allah mengharamkan mengolok-olok, mencela, dan mempermalukan orang lain. Tindakan memviralkan seseorang tanpa tabayyun termasuk perilaku yang dicela syariat karena melahirkan fitnah dan kerusakan sosial.
Baca Juga: Menikah Itu Saling Menguatkan, Bukan Saling Mengalahkan
Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim). Diam saja sudah berpahala, apalagi jika diam itu mencegah kehancuran diri sendiri. Anita tidak mempraktikkan pesan ini, akibatnya bukan hanya orang lain yang terluka, tetapi dirinya sendiri.
Kemarahan yang tidak dikelola akan selalu melahirkan penyesalan. Nabi SAW bersabda, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Bukan karena marah itu tak boleh muncul, tapi karena banyak keputusan buruk lahir saat emosi sedang memuncak. Drama tumbler ini adalah contoh nyata kesalahan satu detik yang berakibat satu tahun penyesalan—or bahkan lebih.
Setiap Muslim diperintahkan untuk tabayyun ketika mendapatkan informasi. QS. Al-Hujurat ayat 6 menegaskan, “Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” Anita melewati prinsip ini—ia menuduh sebelum mengecek, menghakimi sebelum mengklarifikasi.
Jejak digital adalah saksi yang tidak bisa dihapus begitu saja. Dalam Islam pun, catatan amal dicatat oleh malaikat dan tidak dapat dihapus tanpa taubat. Analogi ini mirip dengan dunia digital: satu unggahan bisa menghantui reputasi seseorang seumur hidup. Karena itu, menjaga adab di era sosial media adalah kebutuhan, bukan pilihan.
Baca Juga: Selingkuh Itu Bukan Khilaf, Tapi Sengaja Dipilih
Adab bukan hanya soal tidak kasar, tetapi bagaimana menghormati manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh.” (HR. Bukhari Muslim). Memviralkan kesalahan orang lain sama saja melempar saudara sendiri kepada kehinaan publik.
Dalam dunia profesional, adab adalah aset yang tidak bisa dibeli. Perusahaan cenderung mempertahankan karyawan yang berintegritas daripada karyawan pintar tetapi mudah mempermalukan orang lain. Integritas menciptakan kepercayaan, sementara drama menciptakan kekacauan.
Karyawan yang memiliki adab tinggi memperkuat budaya perusahaan. Mereka menjadi energi positif, penyelesai masalah, dan penjaga stabilitas. Sebaliknya, satu orang yang menciptakan drama bisa menurunkan moral tim, mengganggu produktivitas, bahkan merusak nama perusahaan.
Kesalahan Anita menjadi pelajaran bahwa emosi pribadi tidak boleh dibawa ke ruang publik. Dunia tidak peduli seberapa benar perasaan kita—yang dilihat adalah bagaimana kita memprosesnya. Orang dewasa yang matang adalah yang bisa menahan diri, bukan yang menumpahkan kemarahan di dunia maya.
Baca Juga: 7 Cara Membuat Keluarga Harmonis dan Penuh Berkah
Media sosial adalah panggung besar yang mengubah semua orang menjadi penonton. Apa pun yang kita unggah bisa menjadi bumerang, jika tidak disaring benar. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa salah satu tanda kesempurnaan iman adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat (HR. Tirmidzi). Mengunggah drama tumbler jelas bukan sesuatu yang bermanfaat bagi siapa pun.
Dalam Islam, menjaga kehormatan orang lain adalah kewajiban. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Sebaliknya, orang yang membuka aib saudaranya justru membuka pintu kesulitan bagi dirinya sendiri—dan itu yang terjadi dalam kasus ini.
Kita hidup di zaman di mana sensitivitas sosial semakin tipis dan keberanian mempermalukan orang lain semakin tinggi. Maka, adab harus menjadi benteng utama. Tanpa adab, kecanggihan teknologi hanya akan mempercepat kehancuran moral masyarakat.
Kasus ini bukan tentang tumbler, bukan tentang karyawan hotel, bukan tentang konten viral—tapi tentang value pribadi. Kejadian ini menunjukkan bahwa satu tindakan tanpa adab bisa merusak puluhan prestasi yang telah dibangun bertahun-tahun.
Baca Juga: Jebakan Pujian, Ketika Hati Terlena oleh Sanjungan
Adab adalah mahkota yang tidak terlihat, namun menentukan tinggi rendahnya harga diri seseorang. Ketika adab hilang, ilmu tidak lagi menolong, popularitas tidak lagi menyelamatkan, dan karier tidak lagi bertahan.
Drama tumbler hanyalah simbol betapa murahnya keputusan manusia ketika adab tidak lagi dijadikan pedoman. Maka jagalah adab—karena itulah harta paling mahal yang menentukan masa depanmu, duniamu, dan akhiratmu.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hati-hati Jebakan Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic