MENTERI AGAMA : PONPES BERI KONTRIBUSI BESAR BAGI PERJUANGAN INDONESIA

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (Foto: Kemenag)
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (Foto: Kemenag)

Salatiga, 18 Jumadil Akhir 1436/7 April 2015 (MINA)– Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Pondok Pesantren (Ponpes) adalah lembaga pendidikan Islam yang telah berkontribusi besar bagi perjuangan kemerdekaan dan bahkan mengisi kemerdekaan Indonesia.

“Tidak ada pondok pesantren yang anti NKRI, yang mengharamkan hormat bendera dan melarang menyanyikan Indonesia Raya,” demikian ditegaskan Menag, saat bersilaturahim dengan keluarga besar Pondok Pesantren Agro Nuur el-Falah, Pulutan, Salatiga, Senin (06/04) petang. Seperti siaran pers resmi Kemenag yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa.

Selain itu Menag juga menyebutkan, pesantren berperan penting sebagai jantung pendidikan Islam dalam menjaga ke-Indonesiaan hingga sekarang.

“Kontribusi dan semua hal tentang peran hebat dan keberkahan pesantren ini tidak berjalan dengan sendirinya, tetapi berkat perjuangan keras, keikhlasan, dan kecintaan para ulama terdahulu,” ujar Lukman.

Para ulama, kiai, dan ustadz  telah berkontribusi luar biasa kepada bangsa. Karena kerja keras dan keikhlasan mereka, ponpes mampu menjaga Islam ahlussunnah wal jama’ah yang rahmatan lil alamin, toleran dan mampu hidup di tengah keragaman.

Ia melihat apa yang dilakukan para ulama tersebut sejalan dengan misi Kemenag yang terus berupaya memperkuat kualitas pemahaman dan pendidikan keagamaan dan kerukunan antar umat beragama.

“Apa yang dilakukan para ulama kita, yang mengajar dan mendidik  dengan dasar cinta dan keikhlasan, senantiasa mendatangkan keberkahan,” harap Menag.

Belajar

Di hadapan para santri dan wali santri, ia mengingatkan, tugas utama dan pertama para santri, adalah belajar, belajar, dan belajar.

“Tugas santri adalah belajar, belajar dan belajar. Bersyukurlah, karena antum semua mendapat kekhususan dari Allah SWT. Tidak semua anak mempunyai kesempatan untuk mondok,” terang Menag.

Lukman menambahkan, pondok pesantren hampir selama 24 jam penuh mengajarkan nilai-nilai kebajikan. Apa yang kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan, lanjut Menag, hakikatnya semua mengandung unsur pendidikan dan kebajikan.

“Manfaatkan waktu yang ada di pondok untuk belajar,” tutur Menag seraya menceritakan pengalaman saat mondok.

“Saya menyesal karena pas mondok kurang serius belajar, karenanya banyak ilmu dan pengetahuan yang belum saya pelajari,” sesalnya.

Ponpes Agro Nuur el-Falah didirikan oleh pengusaha Dharmo Supono pada 2002. Diasuh oleh KH Usman Mansur, para santri rata-rata berasal dari kalangan bawah dan dari daerah konflik seperti NTT, Poso, Aceh dan lain sebagainya.

Ikut dalam rombongan Menag, Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Amsal Bachtiar, Kepala Pusat Informasi dan Humas Rudi Subiyantoro, Kepala Kanwil Kemenag Jateng Ahmadi, Kepala Kankemenag Kota Salatiga, dan Kabag TU Pimpinan Khoirul Huda. (T/P010/R11)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0