MERAIH GELAR TAQWA DENGAN BERQURBAN

(Foto: Antaranews)
(Foto: Antaranews)

Oleh: Rendy Setiawan, Jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Alhamdulillah, puji syukur akan nikmat Allah Ta’ala kepada kita yang begitu banyak, sampai-sampai Allah cantumkan dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak kepadamu.” (Qs. Al-Kautsar [108]: 1)

Buya Hamka menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah telah memberikan nikmat, anugerah dan kurnia kepada Rasulullah. Tidaklah dapat dihitung berapa banyaknya kurnia itu, sejak dari Al-Qur’an yang diturunkan sebagai wahyu, nikmat yang diilhamkan sebagai hasil fikiran, nubuwwat dan kerasulan, penutup dari segala Rasul, rahmat bagi seluruh alam, pemimpin bagi ummat manusia, memimpinkan agama yang benar, untuk keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semuanya itu, dengan cabang dan ranting dan ranggasnya, tidaklah dapat dihitung berapa banyaknya.

Perintah Berqurban

Patut disyukuri oleh kita sebagai umat Muhammad Rasulullah. Pada bulan ini, tidak ada penghalang bagi kita untuk menemui bulan Dzulhijjah yang tinggal menghitung hari kecuali kematian. Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang mulia di dalam Islam. Pada artikel sebelumnya, telah dinyatakan bahwa pada sepuluh hari pertama pada bulan ini memiliki keutaman yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya.

Salah satu amalan mulia yang dilakukan oleh Rasulullah pada bulan Dzulhijjah ini adalah shalat Iedul Adha yang kemudian dilanjutkan dengan berqurban sebagai wujud syukur kita kepada Allah Yang Maha Pemberi Nikmat. Berqurban juga salah satu ibadah yang sudah dilakukan sejak Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Ketika itu, Allah Ta’ala menguji keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dengan memerintahkannya untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Pada kesempatan yang sama, Allah Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya dengan mengubah Nabi Ismail dengan seekor domba. Peristiwa itu juga ditandai sebagai lulusnya ujian keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim.

Sebuah ayat yang menjadi pertanda disyari’atkannya ibadah qurban adalah pada firman Allah Ta’ala di ayat yang kedua,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka dirikanlah shalat dan berqurbanlah.” (Qs. Al Kautsar [108] : 2)

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan maksud ayat ini, yakni berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Pendapat ini yang kemudian diikuti oleh jumhur ulama.

Meraih Takwa dengan Berkurban

Begitu dahsyatnya kejadian saat itu, sehingga Islam memandang bahwa menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri dan bentuk ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman;

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Qs. Al Hajj: 37)

Pengertian takwa terkait dengan ketaatan seorang hamba pada tuhannya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Agama Islam sudah berabad-abad lamanya mengemas kehidupan secara harmoni seperti halnya kehidupan dunia-akherat. Meraih kehidupan baik di akhierat kelak perlu melalui kehidupan di dunia yang merupakan ladang untuk memperbanyak kebajikan dan memohon ridho-Nya agar tercapai kehidupan dunia dan akherat yang hasanah. Sehingga kehidupan di dunia tidak terpisah dari upaya meraih kehidupan hasanah di akherat nanti.

Dalam kitab ‘Taisir Al-Kariim Ar-Rahman’, Abdurahman bin Nashir As-Sa’diy menjelaskan, “Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah kurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan Dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari kurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang shalih. Oleh karena itu, Allah berfirman,“Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”.

Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berkurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. Inilah yang mesti ada dalam ibadah lainnya. Jangan sampai amalan kita hanya nampak kulit saja yang tak terlihat isinya atau nampak jasad yang tak ada ruhnya.”

Kesiapsediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya atas perintah Allah menandakan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, sehingga tidak terjerumus dalam kehidupan hedonis sesa’at yang sesat. Lalu dengan kuasa Allah ternyata yang disembelih bukan Ismail melainkan domba. Peristiwa ini pun mencerminkan Islam sangat menghargai nyawa dan kehidupan manusia, Islam menjunjung tinggi peradaban manusia.

Hikmah Menyembelih Qurban

Pertama: Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.

Kedua: Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘Alaihis Salaam ketika hari Idul Adha.

Ketiga: Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihissalaam, yang dengan peristiwa ini akan membuahkan ketaatan dan ketakwaan serta kecintaan kepada Allah lebih dari kepada diri sendiri dan anaknya.

Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun diganti dengan seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari pada hawa nafsu dan syahwatnya.

Keempat: Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang semisal dengan hewan qurban.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan ibadah yang mulia ini dan menerima setiap amalan shalih kita. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amalan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.(P011/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0