Palestina dan Israel Urusan Kita Semua (Oleh: Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid)

(Foto: Istimewa)

Oleh: Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA., Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik (MPR RI)*

Saya mengapresiasi banyaknya warga, tokoh masyarakat dan pemuka dari beragam agama (termasuk Rabi Yahudi serta  Pastor Kristiani) yang mengecam dan menolak kejahatan Israel terhadap warga .

Kepedulian tokoh masyarakat dan pemuka dari beragam agama kepada bangsa Palestina, merupakan bukti adanya keprihatinan bersama dan berlakunya ajaran agama yang mengajarkan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Serta menolak segala bentuk kejahatan, apalagi yang massif dan terstruktur, diback up oleh kelaliman kekuasaan.

Selain massa dan tokoh-tokoh masyarakat atau pemuka agama Islam, banyak juga massa dan pemuka agama Yahudi maupun Katolik yang  ikut demonstrasi, menyampaikan kecaman terhadap tindakan brutal Israel terhadap Palestina.

Ini membuktikan ajaran agama hakekatnya bisa bertemu dengan kepedulian membela kemanusiaan dan melawan segala bentuk ketidakadilan.

Jadi, tidak perlu hanya menjadi muslim, atau berideologi khilafah untuk menolak kejahatan penjajahan Israel di Palestina, meski mayoritas warga di Palestina beragama Islam dan tidak berideologi khilafah. Tetapi, cukup menjadi manusia sehat untuk melihat ketidakadilan brutal dan pelanggaran berulang terhadap kemanusiaannya warga Palestina.

Rabbi dari kelompok Yahudi Ortodoks di Amerika Serikat pun ikut demo kecam kejahatan Israel, membakar bendera Israel dan mendukung Palestina. Bahkan, Pastor Manuel Musallam di Palestina lebih keras lagi, dia menyerukan umatnya untuk melawan Israel.

Ada pula Asosiasi Karyawan Yahudi di Kantor Google yang mendesak agar perusahaan tersebut memberikan kecaman terhadap serangan Israel ke Palestina karena telah mengakibatkan banyak korban.

Oleh karena itu, saya heran ketika di Indonesia ada sebagian orang yang mengalihkan isu dan membelokan ketidakadilan ini dengan isu ideologi khilafah, kemudian menyalahkan Hamas yang membela Bangsa Palestina,  lalu bersimpati serta mendukung Israel padahal menjajah Palestina.

Sikap pengalihan isu tersebut diperlukan oleh pihak Israel dan pendukungnya, untuk menutupi kejahatan kemanusiaan Israel, yang sudah mereka lakukan sejak sebelum tahun 1948-an, ketika mereka memproklamasikan negara yahudi di atas tanah milik warga Palestina.

Sejak saat itu kejahatan dan teror Zionis Israel berlanjut terus hingga perang tahun 1967 yang dilawan oleh pejuang-pejuang Palestina dalam organisasi PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) maupun Fatah. Sampai saat itu Hamas belum lahir, karena publik juga tahu bahwa Hamas baru dideklarasikan pd tahun 1987.

Hamas juga ikut Pemilu, dan karenanya tidak berideologi khilafah. Hamas bersama Jihad Islam, Fatah dan lain-lainnya, sekarang bersatu membela bangsa Palestina melawan agresi Israel sang penjajah.

Bisa dipastikan bahwa Rabbi, Pastor dan Asosiasi Karyawan Yahudi serta puluhan ribu warga yang demo di AS, Eropa, Australia, hingga Jepang, menentang kejahatan Israel dan mendukung Palestina. Mereka banyak yang nonmuslim, dan yang muslimpun juga tidak berideologi khilafah, dan tidak berafiliasi dengan Hamas.

Ini menunjukan bahwa umat beragama termasuk di Indonesia bahu membahu bersama seluruh komponen masyarakat dan negara, membela bangsa yang ditindas seperti Palestina, dan menentang penjajahan dan kejahatan yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap Palestina dan  Masjid Al-Aqsha beserta  jamaahnya.

Warisan wawasan kebangsaan dan sikap politik para pendiri Bangsa serta Pimpinan Negara dan Undang-Undang Dasar 1945 sudah lebih dari cukup untuk menjadi rujukan wawasan bernegara yang konstitusional dan mensejarah bahwa Indonesia ikut mengurusi Palestina.  Dengan menolak penjajahan Israel serta membela perjuangan Palestina.

Sila ke 2 dari Pancasila dan Alinea pertama dan keempat pembukaan UUD NRI 1945 adalah landasan konstitusional yang sangat jelas untuk soal itu. Sikap politik dan kenegarawanan Presiden-Presiden RI sejak Buang Karno hingga Joko Widodo, juga menegaskan konsistensi mengurusi Palestina dan Israel.

Sudah wajara apabila Menteri Luar Negeri RI sekarang hadiri Sidang Umum PBB untuk urusi masalah Palestina dan Israel. Demikian juga Perwakilan RI di Perserikatan Bangsa Bangsa. Sikap DPR/MPR RI dan pimpinannya  juga Partai-Partai, bahkan Ormas-Ormas yang sudah lahir sebelum Indonesia Merdeka, seperti  Muhammadiyah dan NU juga bersikap konsisten mengurusi masalah Palestina dan Israel.

Mereka mendukung kemerdekaan Palestina, menolak penjajahan oleh Israel.

Sikap tersebut sudah sangat tepat diambil sebagai bangsa yang beradab dan wawasan kebangsaan yang benar ini penting dipahami untuk menghindarkan warga dari wawasan kebangsaan yang menyimpang dari yang sebenarnya.

Dahulu bangsa Palestina membantu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan sejak tahun 1944, sebelum kita di Indonesia mengurusi Palestina, tokoh dan warga Palestina malah sudah lebih dahulu mengurusi dan membantu Indonesia baik secara politik dengan diplomasi maupun secara finansial. Perjuangan tersebut, antara lain dilakukan oleh tokoh bangsa Palestina seperti As Sayyid Al Amin Al Husaini dan M Ali Thahir, sebelum diproklamssikannya negara penjajah Israel.

Maka kalau sekarang kita di Indonesia mengurusi dengan membela perjuangan Palestina merdeka dan menolak penjajahan Israel, bukan karena balas budi, tapi kita bangsa timur yang mempunyai nurani yang manusiawi.

Apalagi  karena itu juga menjadi ketentuan pembukaan konstitusi di NKRI, sila ke 2 dari Pancasila, dan warisan sikap dan wawasan berbangsa para Bapak bangsa.(AK/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

*Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA. juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.