Pembunuhan Atas Nama “Kehormatan” di India Meningkat 800%

Ilustrasi.

 

New Delhi, 8 Rabi’ul Awwal 1438/8 Desember 2016 (MINA) – Sebuah laporan yang disajikan kepada parlemen India mengungkapkan bahwa pembunuhan atas nama “kehormatan” meningkat 800% pada tahun 2015.

Polisi India mencatat, sebanyak 251 kasus pembunuhan terjadi dengan dalih demi kehormatan keluarga pada 2015, jauh meningkat dari 28 kasus yang dilaporkan pada tahun 2014. Demikian Al Jazeera memberitakan yang dikutip MINA.

Melonjaknya kasus pembunuhan bermotif “menjaga kehormatan” itu dinilai bahwa semakin banyak orang yang mau melaporkan kasus seperti itu.

Dalam masyarakat India, masih banyak yang menganggap bahwa hanya hukuman yang layak diberikan bagi wanita dan pria yang menentang adat dengan menikahi pasangan beda agama, klan, atau kasta mereka.

Seringkali pelaku pembunuhan adalah keluarga yang ingin menghukum pasangan muda karena dianggap membawa “malu” bagi keluarga.

aktivis hak-hak perempuan mengatakan, Pemerintah India harus meluluskan undang-undang untuk mengakui kejahatan bermotif demi “kehormatan” itu untuk menargetkan pelaku dibawa ke pengadilan.

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa pemerintah harus mengambil ini sebagai prioritas,” kata Sudha Sundararaman, Ketua All India Democratic Women’s Association.

Pembunuhan atas nama “kehormatan” masih cukup umum terjadi di antara masyarakat Hindu dan Muslim yang secara teratur menjadi berita utama surat kabar di negara-negara bagian yang sebagian besar perkawinan diatur oleh keluarga.

Sebagian besar kasus dilaporkan di negara bagian utara seperti Uttar Pradesh dan Haryana, tempat Dewan Kasta memegang kekuasaan yang sangat besar dalam kehidupan desa.

Aktivis perempuan meyakini bahwa jumlah yang dilaporkan masih jauh dari angka yang sebenarnya. Sebuah penelitian pada 2001 mengungkapkan, ada sekitar 900 orang dibunuh atas nama “kehormatan” di India.

Tercatat, situasi telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir, ada kecenderungan meningkat di dewan desa yang dijalankan oleh para tetua terpilih. Mereka mempromosikan nilai-nilai konservatif, anti-perempuan dengan dalih “melestarikan budaya dan tradisi India”.

“Masyarakat India tidak bersedia menerima pilihan yang diambil oleh perempuan muda ketika datang masa pernikahan mereka,” kata Ranjana Kumari dari Pusat Penelitian Sosial, lembaga cendekiawan yang beralamat di New Delhi.

“Masyarakat juga harus belajar menghormati perempuan,” tambahnya. (T/P001/R03)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)