Pemuda Palestina Cacat yang Mencintai Lebah dan Unggas

Keseharian seorang pemuda yang terluka, Mahmoud Al-Hawajri, memiliki ritme yang berbeda. Ia telah kehilangan kaki kanannya, namun ia mencoba beradaptasi dengan penderitaannya.

Mahmoud, 18, terluka pada hari Jumat pertama beberapa bulan lalu saat ikut dalam aksi protes Great March of Return, karena peluru yang menembus lutut kaki kanannya dan menyebabkan kaki kanannya diamputasi.

Kini, waktunya dibagi antara unggas, hewan lainnya dan peternakan lebah. Tapi apa yang diharapkan sekali oleh Mahmoud saat ini adalah, mendapatkan kaki palsu untuk berdiri di atas kakinya lagi tanpa kruk.

Satu Kaki

Dari ribuan peserta pada hari Jumat dari Great March of Return itu, seorang tentara penembak jitu Israel memilih Mahmoud sebagai sasaran dan menembakkan peluru peledak ke arahnya ketika ia berdiri puluhan meter dari pagar pemisah.

“Peluru menembus lutut kiri dan kanan saya, kemudian meledak, saya dirawat beberapa minggu di rumah sakit. Pendudukan itu menolak saya enam kali, untuk melakukan perjalanan ke Rumah Sakit Makassed sampai kaki saya diamputasi,” ujarnya kepada Palinfo.

Dia sangat terkejut dan kecewa saat menyadari bahwa ia telah kehilangan kakinya, namun akhirnya ia terbiasa.

Ibu Mahmoud sedih dengan kondisi putranya. Ia mengatakan : “Hidupnya telah berubah secara negatif. Dia menderita sakit di kaki dan punggungnya setelah cedera dan membutuhkan perawatan. Saya banyak menangis karena kondisinya.”

Temannya, Obeida, yang juga terluka beberapa pekan yang lalu saat Great March of Return, adalah teman karib Mahmoud dan dia mendukungnya, tetapi dia melihat ada kesedihan di matanya, menyaksikan orang-orang seusia mereka bermain sepak bola.

Peternak Unggas dan Lebah

Kini Mahmoud menghabiskan sebagian besar waktunya di tanah pertanian di belakang rumah keluarganya. Di sana, ia memiliki dunianya sendiri, di mana ia terbiasa memelihara lebah dan memberi makan unggas, di samping tiga anjing dari berbagai jenis.

“Dalam kotak-kotak ini, kami menyiapkan semua barang yang diperlukan untuk lebah. Kami membuatkannya bingkai yang mereka gunakan untuk membuat lilin. Membangun rumah dalam bentuk panel. Saya telah tertarik memelihara lebah selama 10 tahun, tetapi musim ini buruk karena kurangnya bunga untuk makanan lebah,” kata Mahmoud.

Tanah pertanian di belakang rumahnya, tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan tanaman, unggas, dan hewan, kini adalah bagian terpenting dalam kehidupan Mahmoud.

“Di sini, saya menemukan kesenangan dan melupakan luka saya. Saya berdoa kepada Tuhan untuk menghukum penembak jitu penjajah karena merampas salah satu kaki saya. Kadang-kadang saya duduk di sebelah ayam dan memeriksa kotak-kotak lebah. Saya juga selalu peduli dengan tiga anjing yang telah kami besarkan sejak saya masih kecil,” ungkap pemuda 18 tahun itu.

“Saya punya tempat lain di atap, yakni tempat saya memelihara anjing jenis lain yang aneh. Itu selalu melekat pada saya, terutama sejak hari saya kembali dari rumah sakit,” tambahnya.

Beberapa tanaman dan semak ditanam untuk digunakan oleh keluarganya di sebidang tanah tempat mereka membiakkan unggas, yang juga tempat Mahmoud menghabiskan sebagian besar waktunya.

Tentang kaki palsu yang diidamkannya, Mahmoud khawatir, tidak akan dapat menyelesaikan perawatannya dan mendapatkan anggota tubuh tiruan itu untuk membantunya menjalani kehidupan sehari-hari.

Dokter sendiri mengatakan kepadanya, akan memasang anggota badan sebelum akhir tahun pertama cederanya. (AT/Ast/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)