Pensiunan Prajurit yang Giat Mendidik Masyarakat AS tentang Islam

Ketika masa dinas Jason Criss Howk di Angkatan Darat AS berakhir pada tahun 2015, dia pikir dia akan menghabiskan hari-harinya untuk mengajar dan memancing.

Tapi sebuah panggilan di perpustakaan Pinehurst mengubah rencana itu. Dan ketika Howk mengajar, dia juga menemukan misi baru: Menjelaskan tentang Timur Tengah, Islam dan budaya Muslim kepada masyarakat AS yang memiliki sedikit pengalaman, tetapi memiliki pendapat yang kuat tentang topik tersebut.

Seperti diansir The Fayetteville Observer, Sabtu (1/12), Howk telah berbicara di gereja-gereja pedesaan kecil di seluruh Tenggara dan, kadang-kadang, harus dikawal ke mobilnya oleh para pemimpin gereja di penghujung malam.

Tetapi itu tidak menghentikan misi yang ia lakoni seorang diri itu untuk lebih menjelaskan Islam kepada masyarakat Amerika Serikat dan, dalam prosesnya, membantu mempromosikan toleransi.

“Dari pengalaman-pengalaman itu langsung membuat saya terkejut mengetahui bahwa kebanyakan orang Amerika tidak tahu apa-apa tentang Islam.”

Usahanya telah berkembang sejak dia pensiun. Pada 2017, ia menerbitkan “The Quran: A Chronological Modern English Interpretation” melalui Old Stone Press. Buku ini ditujukan untuk audiens yang kurang akrab dengan Islam, Al-Quran atau budaya Muslim.

Dan awal tahun ini, dia meluncurkan sebuah podcast (program di internet berupa audio atau video) berjudul “We’re Just Talking About It.”

Minat Howk pada Islam terkait dengan pengalamannya sebagai seorang prajurit.

Dia menjabat sebagai penerjun payung terdaftar di Divisi Airborne ke-82 pada 1990-an dan kembali sebagai perwira satu dekade kemudian.

Howk, seorang pensiunan mayor, mengakhiri kariernya sebagai perwira yang banyak ditugaskan di wilayah-wilayah  asing terutama sekali Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Tetapi pengalaman pertamanya di bagian dunia itu datang sebagai penerjun payung pada misi pelatihan ke Uni Emirat Arab, sebuah negara Islam, pada tahun 1996.

“Itu benar-benar titik balik,” kata Howk.

Minatnya pada Timur Tengah menjadi fokus karir. Tetapi Howk cepat belajar bahwa ketika Angkatan Darat telah berinvestasi besar-besaran di Timur Tengah dan Asia Barat daya dalam beberapa dekade terakhir, mayoritas warga Amerika Serikat tidak banyak belajar tentang bagian-bagian dunia Islam tersebut.

Begitu dia pensiun, Howk menawarkan diri untuk berbicara di perpustakaan Pinehurst. Dia berbicara tentang karirnya, tetapi setelah itu, mereka yang menghadiri acara tersebut tidak terlalu banyak bertanya tentang Angkatan Darat. Sebaliknya, mereka ingin tahu tentang Islam dan budaya Muslim.

“Orang Amerika tidak tahu (tentang Islam),” kata Howk. “Yang mereka tahu hanyalah mitos dan kesalahpahaman.”

Peristiwa itu meluncurkan ceramah lainnya, sering dengan kelompok gereja dan dengan pasukan di pangkalan militer AS di Fort Bragg.

Howk menyeimbangkan pidato-pidato itu dengan beberapa kursus yang diajarkan di Sandhills Community College dan memberi ceramah kepada anggota komunitas intelijen.

“Ini benar-benar mengambil alih paruh kedua hidup saya,” kata Howk, mengacu pada pengunduran dirinya.

Tetapi kegiatan berpidato di kota kecil inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh Howk. Seringkali pendengarnya belum pernah bertemu seorang Muslim dan telah membentuk pandangan dunia mereka tentang apa yang mereka lihat di televisi.

Beberapa orang  melabeli dia pengkhianat.

“Saya memilih untuk menjangkau penonton yang skeptis,” katanya. ” mengajak orang-orang biasa mau  berbicara dalam bahasa sehari-hari.”

NegaraAS  ini tidak berbicara tentang Islam, katanya. Dan ketika itu terjadi, kutipan sering diambil di luar konteks.

Howk, yang dibesarkan di sebuah keluarga Baptis, mengatakan dia hanya ingin membuat catatan lurus dan membantu publik mengerti.

“Ketika saya tumbuh dewasa, saya tidak tahu apa-apa tentang umat Katolik,” katanya. “Anda biasanya tidak mempelajari agama orang lain.”

“Saya melakukan ini bukan untuk membela atau merendahkan” kata Howk. “Saya hanya ingin menjawab pertanyaan dan membawa pemahaman yang lebih baik.”

Howk mengatakan kesalahpahaman tentang Islam tumbuh sejak serangan teroris 11 September 2001.

Para pemimpin pemerintah telah banyak menghindari topik itu, katanya. Dan akibatnya ruang kosong itu dipenuhi “oleh topik pelempar bom dan suara keras di Amerika.”

Dia mengatakan tentara cenderung berpendidikan lebih baik, karena waktu dan pengalaman mereka di luar negeri atau interaksi mereka dengan tentara Muslim. Tetapi orang Amerika pedesaan sering tidak memiliki akses ke pengalaman-pengalaman semacam itu.

Dalam pidatonya, Howk memberikan gambaran tentang Islam dan budaya Muslim. Dia mendefinisikan kosakata. Dan dia dengan sabar menjawab pertanyaan apa saja, selama tidak mengandung kebencian.

“Saya mencoba untuk membuat ini tidak bersifat politis,” kata Howk. “Saya menjelaskan konsep besar ini, dan saya mengambil pertanyaan.”

Banyak dari pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan terorisme, katanya. Dan Howk dengan cepat meluruskan apa pun yang mengisyaratkan Islam lebih keras daripada agama lain.

“Tidak ada Muslim yang baik atau buruk. Yang ada adalah orang baik dan orang jahat,” tandasnya.

Beberapa orang menerima pidatonya.

“Saya bertemu orang-orang berusia 70-an dan 80-an yang mengatakan saya telah mengubah pikiran mereka,” kata Howk. Tetapi beberapa yang lain tidak mau mendengarkan.

“Saya pikir ini semua tentang pendidikan,” katanya. “Saya hanya ingin orang mengerti dan membuat keputusan mereka sendiri … Itu yang terbaik yang bisa kita harapkan.” (AT/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)