Peringatan 16 Tahun Mundurnya Israel dari Gaza

Oleh: Mohammad Shaaban, Koresponden MINA di Palestina

Ahad, 12 September 2021 menandai 16 tahun peringatan penarikan mundur pendudukan “Israel” dari tanah Palestina di Jalur Gaza.

Pendudukan Israel memutuskan untuk menyerahkan sebagian dari tanah Palestina yang telah dijajah selama 38 tahun. Pendudukan juga mengevakuasi permukimannya dari Gaza.

Pada 12 September 2005, pendudukan Israel mulai mengevakuasi 19 pemukiman ilegal atau sekitar delapan ribu orang yang menempati 35.910 dunum tanah milik warga Palestina di Jalur Gaza.

Sebagian besar terkonsentrasi di dua pemukiman utama. Blok utara mencakup tiga pemukiman yang terletak di sepanjang perbatasan Gaza utara. Sedangkan, blok selatan mencakup 11 pemukiman disebut “Gush Katif” yang terletak di sepertiga selatan pantai Gaza.

Mengapa Israel Menarik Diri dari Gaza?

Keputusan untuk menarik diri dari Gaza sebenarnya tidak didasarkan pada kehendak pendudukan Israel.

Penarikan itu terjadi sebagai akibat dari tekanan yang diberikan oleh gerakan perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel, terutama ketika dimulainya Intifadah Al-Aqsa di tahun 2000.

Tahun itu terjadi apa yang disebut “perang terowongan”. Selama dua tahun sebelum penarikan, perang tersebut menargetkan posisi tentara pendudukan “Israel” di Jalur Gaza.

Warga Palestina di Gaza saat itu juga tidak tinggal diam dalam menghadapi kejahatan pendudukan. Mereka melawan dengan segala upaya dan cara yang dimiliki.

Mantan pemimpin tentara dan keamanan pendudukan Israel mengatakan, penarikan dari Jalur Gaza pada 2005 berada di bawah tekanan kerugian yang ditimbulkan akibat perlawanan dari gerakan Palestina di Gaza.

Hal itu membuat keberadaan Israel di Jalur Gaza menjadi beban tambahan yang tinggi bagi entitas zionis yang sulit untuk dilindungi.

Ariel Sharon, Perdana Menteri Israel saat itu menyebut, penarikan tersebut sebagai “rencana pelepasan” untuk meringankan beban ekonomi dan militer pendudukan.

Segera setelah proses penarikan dimulai, tentara pendudukan dan pemukim mulai menghancurkan serta meledakkan pemukiman mereka.

Ini menunjukkan betapa brutal dan tidak manusiawinya pendudukan Israel, karena mereka merusak area yang luas untuk mencegah warga Palestina menggunakannya sebagai mata pencaharian dan tempat tinggal.

Gaza Bebas Tapi Masih Diblokade

Setelah penarikan, ribuan warga Palestina bersukacita dan berharap untuk kehidupan yang lebih baik setelah 38 tahun dijajah.

Namun faktanya, “Israel” mengakhiri kehadirannya di Jalur Gaza, tetapi tetap mengendalikan semua aspek kehidupan warga Palestina melalui berbagai pelanggaran sistematis, seperti pembatasan wilayah udara dan perairan, serangan militer serta blokade yang menyebabkan runtuhnya banyak sektor vital.

Selain itu, Israel juga terus mengendalikan perimeter setiap perbatasan Jalur Gaza kecuali perbatasan paling selatan yang dikendalikan Mesir.

Pasukan pendudukan menutup tiga perlintasan utama yang dilalui barang-barang kebutuhan penduduk Jalur Gaza.

Terlepas dari berlalunya 16 tahun sejak penarikan itu, praktik-praktik agresif pendudukan terus berlanjut terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

Warga Gaza mengalami kondisi ekonomi yang sulit akibat pemutusan listrik dan air, pencegahan masuknya barang, termasuk bahan mentah melalui penyeberangan komersial.

Kombinasi keras tersebut membuat warga Palestina di Gaza ke tingkat kemiskinan terendah serta pengangguran mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski dalam kondisi yang serba sulit, selama 16 tahun terakhir, perlawanan Palestina di Gaza berupaya mengembangkan fasilitas dan strateginya untuk menghadapi serangan militer pasukan pendudukan Israel.

Pendudukan Israel hingga saat ini mendedikasikan semua fasilitas militer dan teknologinya untuk mengalahkan perlawanan Palestina di Gaza. (TA-K-G/RE1)

Mi’raj News Agency (MINA)