Pondasi Kuat Pembebasan Al-Aqsa Dibangun oleh Rasulullah

Ada tiga masjid suci di dalam Islam yang tidak akan bertambah lagi jumlahnya, yakni Masjid Al-Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Aqsa di Palestina.

Namun khusus Masjid Al-Aqsa, ia memiliki nasib yang berbeda dibandingkan oleh kedua masjid lainnya. Masjid yang juga bernama Baitul Maqdis tersebut kini berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir, yaitu kaum Yahudi yang bernama Israel.

Dari masa ke masa, Masjid Al-Aqsa dikuasai oleh kaum yang bergantian, Romawi, Persia, Nashrani dan Muslim. Kini, giliran Yahudi yang mengendalikan aturan-aturan di masjid suci ketiga umat Islam tersebut.

Di masa kenabian, Masjid Al-Aqsa berada di bawah kendali kekuasaan Romawi dan sempat selama lima tahun direbut oleh kerajaan Persia, hingga kemudian direbut kembali oleh Romawi.

Hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, Masjid Al-Aqsha belum berada di pangkuan umat Islam.

Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyiapkan pondasi selama 12 tahun untuk pembebasan Masjid Al-Aqsa yang kemudian diteruskan oleh dua khalifah setelahnya selama lima tahun.

Persiapan pembebasan Masjid Al-Aqsa dimulai tahun ke-10 Bi’tsah (Kenabian) tepatnya 620M, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberangkatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam peristiwa isra dan mi’raj.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran Surat Al-Isra ayat pertama. Hal ini merupakan bukti yang sangat kuat akan kesucian dan keagungan Baitul Maqdis di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan umat Islam. Bahkan Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam.

Pada tahun 622M Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan perjalanan hijrah ke Madinah, sejak itu kaum muslimin memulai fase baru dalam sejarah kehidupan. Hingga detik peristiwa tersebut, Masjid Al-Aqsa masih menjadi kiblat pertama umat Islam, sampai tahun kedua pada masa hijrah.

Pada tahun kelima hijrah atau 627M, sejarah mencatat Kerajaan Persia melanggar perjanjian dengan Yahudi. Karena itu Romawi bersikeras berusaha merebut Palestina dari Persia. Pada peristiwa tersebut orang-orang Yahudi bergabung dalam barisan Romawi bersama orang Nashrani melawan pasukan Persia.

Namun, melihat keberadaan Yahudi di tengah pasukan Romawi, orang Nashrani membujuk Raja Heraklius untuk membalas dendam terhadap Yahudi, sehingga terjadilah pembantaian besar-besaran atas orang Yahudi. Pembantaian itu dianggap sangat penting dilakukan oleh orang-orang Nashrani karena orang-orang Yahudi senantiasa menjadi duri dalam daging, menjadi musuh dalam selimut.

Sejarah juga mencatat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi orang-orang Yahudi di Madinah. Pada bulan Syawwal 2 H terjadi perang Bani Qoinuqa. Bulan Rabi’ul Awwal 4 H terjadi perang Bani Nadhir. Pada 23 Dzul Qaidah 5 H terjadi perang Bani Quraidzhah. Peperangan itu dilakukan karena pengingkaran-pengingkaran orang Yahudi terhadap janji. Sejak saat itu tidak ada lagi orang Yahudi di tanah Madinah.

Pada 1 Muharram 7 H atau 628 M, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengirim pesan kepada Raja Heraklius yang berisi ajakan untuk masuk Islam. Namun, para pendeta di sekelilingnya menolak dan mempengaruhi Heraklius untuk tetap memeluk agamanya.

Pengusiran orang Yahudi dari Jazirah Arab terus dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena Yahudi adalah bahaya laten.
Maka, pada penghujung bulan Muharram 7 H/ 628M terjadi Perang Khaibar, Fidak, Wadi Al-Qura dan Taima. Sejak itu tidak ada lagi duri dari kalangan Yahudi yang merintangi Jazirah Arab.

Pada tahun 8-9 H/ 629M terjadi Perang Mu’tah di selatan Yordania, inilah awal perjalanan pasukan muslimin menuju pembebasan Baitul Maqdis. Ekspansi pembebasan Baitul Maqdis yang berada dalam genggaman Romawi, yang menguasai kawasan Syam dan Palestina.

Perang berikutnya menuju pembebasan Baitul Maqdis adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada Rajab 9 H /630 M.

Perang Mu’tah dan Tabuk berlangsung di bawah komando langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tanggal 30 Shafar 11 H/28 Mei 632M, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyiapkan pasukan yang dipimpin Usamah ibnu Zaid untuk memerangi Romawi. Namun, pergerakan pasukan terlambat akibat sakit yang menimpa baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, ia mewasiatkan narasi pembebasan Baitul Maqdis kepada Abu Bakar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Abu Bakar, berangkatkanlah pasukan Usamah!”

Menjadi pelajaran bagi umat Islam bahwa membebaskan Masjid Al-Aqsa tidak bisa instan, terlebih di kala umat Islam kini berada dalam kelemahan akibat perpecahan. Di sisi lain, musuh-musuh Islam saling bahu-membahu melemahkan dan menghancurkan kekuatan muslimin hingga selemah-lemahnya.

Di masa kejayaan Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Masjid Al-Aqsa tidak bisa langsung dibebaskan, tetapi ada proses yang panjang, yaitu mengokohkan akidah dan iman, memberi tarbiyah Al-Quran dengan metode kenabian, membangun pasukan, melatih mental dalam berbagai peperangan, dan membuka jalan dengan menyingkirkan kaum Yahudi. Bahkan melalui dua pergantian kepemimpinan umat Islam untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa dari Romawi.

Demikian pula saat ini, tahapan-tahapan yang seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lakukan harus ditempuh oleh para pemimpin Muslim yang sedang memperjuangkan upaya pembebasan Masjid Al-Aqsa.

Pembebasan itu membutuhkan waktu yang panjang, bukan yang instan. Mungkin para pembebas itu adalah generasi berikutnya, bukan yang sekarang. Karena itulah, tarbiyah pendidikan Al-Quran harus sejak dini ditanamkan kepada anak-anak Muslim, agar mereka memiliki pondasi kuat di saat waktu pembebasan itu tiba. (A/RI-1/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)