SETIAP tanggal 29 November, dunia kembali diingatkan pada satu persoalan kemanusiaan yang belum selesai hingga saat ini, yaitu Palestina yang masih terjajah.
Sejak Resolusi Majelis Umum PBB 32/40 B tahun 1977, PBB menyerukan peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina. Berati sudah 48 tahun lamanya dunia memperingati hari ini, namun realitas di lapangan tetap jauh dari kata “merdeka”.
Tanggal 29 November membawa kita kembali ke tahun 1947, ketika PBB mengeluarkan Resolusi 181 tentang pembagian Palestina. Kini, 77 tahun setelah rencana itu diumumkan, kita menyaksikan bagaimana sejarah terus bergulir tanpa pernah mencapai titik damai yang adil bagi rakyat Palestina.
Dan ketika PBB menetapkan 29 November sebagai Hari Solidaritas, dunia sejatinya sedang mengakui bahwa masih ada yang belum selesai, dan kita tidak boleh berpaling. Kita justru menyaksikan bagaimana catatan sejarah bertambah panjang, dan luka Palestina semakin dalam. Terutama dengan genosida di Jalur Gaza dalam dua tahun terakhir.
Baca Juga: Bulan Solidaritas Terhadap Rakyat Palestina
Refleksi solidaritas bagi dunia setidaknya solidaritas moral, yaitu ketika orang-orang di seluruh dunia bersuara, menggelar aksi damai, menulis opini, atau mengibarkan bendera Palestina di kampus-kampus. Inilah solidaritas yang paling sering kita lihat, sebuah kekuatan suara publik yang tidak selalu terdengar di ruang diplomasi, tetapi tetap berarti bagi mereka yang terus berjuang.
Kemudian bergulir ke solidaritas kemanusiaan dalam bentuk nyata, yaitu pengiriman bantuan kemanusiaan, mulai dari makanan, kebutuhan medis, air bersih, tenda, selimut, dan sebagainya.
Solidaritas kemanusiaan adalah bentuk kasih sayang universal yang melampaui perbedaan agama, bangsa, dan bahasa.
Solidaritas bukanlah sekadar sikap politik, tapi adalah sikap kemanusiaan. Palestina bukan hanya tentang peta, sengketa tanah, atau meja perundingan. Palestina adalah tentang anak-anak yang ingin bersekolah tanpa rasa takut, orang tua yang ingin membesarkan keluarga dengan tenang, generasi muda yang ingin merancang masa depannya dengan baik, dan sebuah bangsa yang ingin hidup bermartabat layaknya bangsa-bangsa lainnya di dunia.
Baca Juga: Menetapi Jama’ah, Menjaga Diri dari Zaman Penuh Luka
Walaupun dipandang sebatas formalitas, tapi adanya baiknya juga kita memerhatikan pesan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pada Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina, Sabtu, 25 November 2025.
António Guterres mengatakan, “Pada Hari Solidaritas Internasional ini, mari kita ambil inspirasi dari rakyat Palestina sendiri, yang ketahanan dan harapannya merupakan bukti nyata semangat kemanusiaan. Mari kita berdiri dalam solidaritas dengan hak-hak mereka atas martabat, keadilan, dan penentuan nasib sendiri dan bekerja sama untuk membangun masa depan yang damai bagi semua.”
Dia menyatakan seruan untuk diakhirinya pendudukan yang tidak sah atas Wilayah Palestina, sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Internasional dan Majelis Umum PBB, dan untuk kemajuan yang tidak dapat diubah menuju solusi dua negara, sejalan dengan hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan.
Harapan kita semua tentunya, pada peringatan 48 tahun Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina tahun ini, dunia masih punya secercah harapan. Yaitu aksi solidaritas masih merebak di berbagai kota besar, mahasiswa masih turun ke jalan, organisasi kemanusiaan masih bekerja tanpa lelah, di Negara Eropa dan Amerika sekalipun.
Baca Juga: Dialog dan Experiential Learning Pada Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr
Terlebih di Indonesia, sepanjang bulan November ini dijadikan sebagai Bulan Solidaritas Palestina (BSP) yang sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina bukanlah sikap sesaat, tetapi komitmen moral yang terus dijaga dan diwariskan.
BSP yang digerakkan oleh Lembaga Kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) bukan hanya rangkaian acara seremonial. Tapi adalah bentuk penegasan bahwa rakyat Indonesia memiliki hubungan emosional, historis, dan spiritual dengan Palestina. Setiap tahun, masjid-masjid, lembaga pendidikan, komunitas pemuda, hingga organisasi kemanusiaan bergerak dalam satu semangat untuk menyuarakan keadilan, menguatkan empati, dan menghadirkan dukungan nyata bagi saudara-saudara kita di negeripenuh berkah, kawasan Baitul Maqdis, negeri para Nabi utusan Allah.
BSP mencerminkan bahwa solidaritas Indonesia memiliki akar yang dalam, akar yang tumbuh dari ajaran agama tentang pentingnya menolong sesama, dari sejarah diplomasi Indonesia yang sejak awal konsisten membela hak-hak rakyat Palestina, serta dari nurani masyarakat yang tidak rela melihat ketidakadilan berlangsung tanpa perlawanan moral.
Antusiasme masyarakat dalam Bulan Solidaritas Palestina juga menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan masih hidup di tengah bangsa ini, di rumah-rumah, di ruang-ruang publik, di hati jutaan rakyat Indonesia. Setiap aksi, setiap doa, setiap donasi, setiap diskusi di sekolah atau kampus, semuanya adalah ungkapan cinta dan kepedulian yang tulus.
Baca Juga: 14 Poin Krusial KUHAP Baru, Publik Soroti Risiko Pelemahan Hak Asasi
Dan lebih dari itu, BSP mengajarkan satu hal penting bahwa solidaritas bukan hanya tentang melihat penderitaan, tetapi tentang ikut mengulurkan tangan. Bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang bergerak. Bukan hanya tentang simpati, tetapi tentang aksi nyata demi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Palestina.
Wal hasil, Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina bukan hanya seremonial. Namun pengingat tahunan bahwa kemanusiaan kita sedang diuji. Apakah kita hanya akan menjadi penonton sejarah atau ikut menjaga agar nilai-nilai keadilan tidak padam?
Refleksi 48 tahun peringatan ini mengajarkan satu hal bahwa perdamaian tidak akan datang jika dunia berhenti peduli. Dan selama kita masih percaya bahwa setiap manusia berhak hidup merdeka dan bermartabat, maka solidaritas tidak boleh berhenti. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Indonesia dan Masa Depan Hutan Tropis Dunia, Langkah Baru Memimpin Konservasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic