Rusia Tolak Pindahkan Kedutaannya ke Yerusalem

Moskow, MINA – Rusia telah menolak untuk memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem, meskipun sebelumnya mengakui sebelah barat kota tersebut sebagai ibukota Israel.

Pengumuman ini dibuat Jumat (7/2) oleh Duta Besar Rusia untuk Israel, Anatoly Viktorov, melalui kantor berita TASS yang dilaporkan MEMO.

“Masalah pemindahan Kedutaan Besar Rusia ke Yerusalem tidak masuk dalam agenda,” jelas Viktorov.

“Rusia berkomitmen pada kerangka hukum internasional tentang Yerusalem, termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB yang terkait,” tambahnya.

Resolusi semacam itu mengutuk tindakan Israel di Kota Suci itu.

Yerusalem dinyatakan sebagai corpus separatum (entitas terpisah), dijalankan di bawah pemerintahan internasional, di bawah Rencana Pemisahan PBB tahun 1947.

Namun militer Yahudi masih terus maju dan mengambil kendali atas bagian barat kota dalam “perang kemerdekaan” tahun 1948.

Israel kemudian menduduki seluruh wilayah Yerusalem selama Perang Enam Hari 1967.

Pengumuman Rusia akan disambut dengan frustrasi di Israel mengingat Moskow sebelumnya telah mengakui bagian dari Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pada 2017, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “kami [Rusia] memandang Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel.”

Arutz Sheva melaporkan, bahwa mereka berhenti menyebut seluruh kota sebagai ibukota negara.

Rusia telah memberikan indikasi lain bahwa keputusan itu dapat mengikuti jejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang “tidak terbagi” dan memindahkan Kedutaan Besar AS setahun lalu.

Pada Juni tahun lalu, Kedutaan Besar Rusia untuk Israel mengadakan perayaan “Hari Nasional” tahunan di Yerusalem daripada di Tel Aviv untuk pertama kalinya, menambah spekulasi tentang niat pemindahan kedutaannya.

Upacara tersebut dihadiri oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang telah mempertahankan hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam pengumumannya kemarin, Viktorov juga berbicara tentang kemungkinan Putin mengunjungi Israel pada tahun 2020, setelah menerima undangan untuk melakukannya akhir tahun lalu.

Duta Besar menjelaskan bahwa undangan itu “sedang dipertimbangkan” oleh administrasi kepresidenan Rusia dengan penuh perhatian.

“Mitra Israel kami berharap bahwa jadwal kerja Presiden Vladimir Putin akan memungkinkannya untuk mengambil bagian dalam acara peringatan yang dijadwalkan pada tahun 2020 untuk menandai peringatan 75 tahun pembebasan Auschwitz oleh Tentara Merah,” ujar Viktorov.

Meski ada hubungan bersejarah, hubungan Rusia-Israel berlangsung tegang dalam beberapa bulan terakhir setelah insiden sebuah jet militer Rusia jatuh di atas wilayah udara Suriah.

Pada September 2018, pasukan Presiden Suriah Bashar Al-Assad diduga mengira jet tempur Rusia ditembak sebuah pesawat Israel, telah secara serentak menanggapi serangan Israel terhadap target di wilayah pesisir Suriah di Latakia.

Insiden tersebut memicu pertikaian diplomatik, dengan Rusia menempatkan kesalahan atas insiden itu – di mana 15 Rusia tewas – tepat di Israel.

Sejak itu, Rusia telah berulang kali meminta Israel untuk menghentikan serangannya ke Suriah, yang dipukul secara teratur meskipun ada kebijakan resmi non-intervensi dalam perang saudara di negara itu.

Untuk bagiannya, Rusia telah mendukung rezim Assad dan sekarang diperkirakan akan terlibat dalam membangun kembali negara itu ketika perang tampaknya berakhir.

Netanyahu diperkirakan akan bertemu dengan Putin di Moskow akhir bulan ini, jika rencana itu berjalan, akan menjadi pertama kalinya kedua pemimpin bertemu sejak ketegangan September. (T/R01/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)