Sekularisme di Bidang Kesehatan, oleh Wadir II STSQABM, Ir. Heri Budianto, MT

Sebuah catatan pasca Seminar Kesehatan ala Rasulullah

“Seminar Kesehatan ala Rasulallah” yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Shuffah Al Quran Abdullah bin Masud (STSQABM,) di hotel Sheraton Lampung tgl 27 april 2019 dalam rangkaian tablig akbar 1440  itu sangat mengagetkan bagi kalangan medis dan paramedis. Pasalnya, mereka beralasan bahwa STSQABM dianggap keluar dari jalur keilmuannya yang fokus pada pengkajian ilmu Al-Quran, bukan medis. Sehingga hampir 80 persen undangan yang hadir penasaran ingin tahu.

Memang ciri utama orang yang gemar mencari ilmu adalah mereka yang mempelajari dan ingin mengetahui ilmu-ilmu yang baru sehingga dari rasa penasaran itulah mereka ingin membuktikan apakah ilmu yang baru itu sesuai dengan kaidah syariah dan sains modern ataukan bertentangan.

Sebelumnya, jauh-jauh hari kami sudah diingatkan oleh seorang rektor salah satu Perguruan Tinggi Swasta terbesar di Lampung  bahwa Perguruan Tinggi Agama jangan masuk ranah Perguruan Tinggi Umum karena akan membuat rancu, sebagaimana kami juga tidak pernah turut campur masalah agama.

Bukankah  STSQABM sudah ada ladang sendiri hanya ngurus pondok, juri MTQ dan doa-doa saja. Kok ikut memikirkan masalah kesehatan yang itu merupakan urusan duniawi.  Inilah yang keluar dari ungkapan mereka para undangan sebelum hadir.

Tak terkecuali, “protes” itu juga muncul dari Kemenkes Pusat yang terheran heran mengapa kita mengurus masalah ini, bukankah kalian hanya urus agama di pondok saja, tidak usah keluar jalur. Masalah kesehatan dan dunia lainnya sudah ada ahlinya. Salah satu panitia diajak diskusi hampir satu jam oleh Dr.dr.Ina Rosalina Dadan, Sp. A. (K), M. Kes, M.H. Kes. Direktur pelayanan kesehatan Tradisional Kemenkes yang mewakili Menteri Kesehatan yang berhalangan hadir karena ada halangan.

Menurut Dr. Ina Rosalina, baru perdana di Indonesia, ada Perguruan Tinggi Al-Quran mengadakan seminar seperti ini dan berani mengundang semua kalangan. Biasanya mereka hanya mengundang kalangan sendiri (tenaga bekam) sambil masih bertanya-tanya atas keanehan ini walaupun sudah kami jelaskan sesuai kemampuan kami.

Menurut pandangan kami, inilah dampak dari sekularisme pendidikan selama ini, yang memisahkan Al-Quran dengan urusan urusan keduniaan. Merasa aneh dan mustahil Al-Quran dan Sunah Rasul bisa mengatasi masalah-masalah kesehatan di tengah-tengah masyarakat.

Kebiasaan yang ada di pondok pesantren, keyakinan dan doa-doa saja mungkin dan masuk akal bisa menyembuhkan penyakit, itu menurut pandangan mereka. Berbeda dengan pada zaman Rasulullah dan sahabat, mereka orang-orang pilihan yang langsung mendapat bimbingan Allah. Kemampuan mereka menghayati Al-Quran dalam tataran aplikasi sepertinya mustahil bisa diterapkan di era modern seperti saat ini. Itulah argumen mereka sehingga dunia rusak akibat berpikir sekuler seperti ini.

Alhamdulillah, dengan takdir dan izin Allah, setidaknya 150an tenaga medis dan non-medis yang terdiri atas Dinas Kesehatan, kepala rumah sakit pemerintah dan swasta, anggota asosiasi profesi kesehatan IDI,IAi,IBI,PPNSI PBI, Dosen dan Mahasiswa Fakultas Kedokteran, kesehatan, farmasi dan kebidanan se-Lampung serta praktisi kesehatan hadir dalam seminar tersebut.

Mereka mulai bisa memahami setelah mendengar sambutan dari Dr.Lili Solehuddin, WADIR I akademik SQABM bahwa Islam tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan. Ditambah lagi,penjelasan yang disampaikan Imamul Muslimin Yakhsyallah Mansur mulai menyadarkan mereka akan adanya keterkaitan yang erat antara agama dan Ilmu pengetahuan sehingga kesimpulan yang dibacakan dosen SQABM, Doni Sastrawan, M.Pdi membuat mereka terharu.

Beberapa dokter dan bidan sampai mengusap air mata dan mulai sadar akan kekeliruan selama ini yang menganggap bahwa ilmu Al-Quran itu terpisah dengan ilmu medis. Selain sangat mendukung acara seperti ini terus diselengarakan di seluruh Indonesia juga, respon mereka di akun sosial media panitia sangat bagus, bahkan beberapa tenaga dokter spesialis RS di Lampung menyatakan akan menindaklanjuti kesimpulan seminar ini dan selanjutnya akan bekerja sama denganSQABM untuk mempelajari ilmu-ilmu kesehatan dan medis dalam Al-Quran.

Semoga saja cita-cita pendiri STSQABM, Almarhum Imaam Muhyiddin Hamidi agar pesan Al-Quran benar-benar tersampaikan kepada semua kalangan akan segera terwujud, baik itu keterampilan membacanya, menghafal,mentadaburi, terlebih lagi nempraktekan Al-Quran dalam kehidupan nyata sehari hari dapat terealisasi atas izin Allah untuk kemuliaan manusia. (A/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)