Seminar Menelusuri Jejak-jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara

Jakarta, MINA –  Seminar yang merupakan kajian awal  mencoba “Menelusuri jejak-jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara,” diadakan pada Kamis (7/2) di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Bersamaan dengan itu diadakan pameran foto para imam dan tempat bersejarah. Lebih dari 50 ulama besar dunia lahir di Uzbekistan seperti Bukhara, Samarkand, Tashkent, Tiemis, Kiva dan lain-lain. Pameran berjudul “Uzbekistan sebagai Negara Para Imam”.

Seminar ini dalam rangka peringatan satu tahun bebas visa antara kedua negara untuk meningkatkan wisatawan religi, antara lain karena banyak kejadian bersejarah dan situs sejarah Islam ada di negara Uzbekistan.

Pejabat pada Kedutaan Besar Uzbekistan untuk Indonesia, Mahmud Tohtiev, menyatakan, salah satu yang tercatat dalam hubungan Uzbekistan dengan Indonesia adalah  kala Presiden pertama Indonesia Soekarno tahun 1956 berkunjung ke Uzbekistan (saat itu merupakan satu negara bagian Uni Soviet).

Yang pertama ditanya dan ingin diziarahi Bung Karno adalah  Makam Imam Al Bukhari yang ada di sana.

Dr. Muchlis M. Hanafi selaku Kepala Lajnah Pentashilan Mushaf Al Quran mengatakan,  seminar ini adalah tindak lanjutan pembicaraan dan kunjungan timbal balik  antara pejabat Uzbekistan dan Lajnah yang dipimpinnya.

Program ini dilakukan bersama oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama,  Pentashihan Mushaf Al-Quran, Universitas Gunadarma sedangkan Pemerintah Uzbekistan diwakili Kementerian Pariwisata Uzbekistan.

Program selanjutnya adalah pada 21-23 Febuari mendatang, Pemerintah Uzbekistan akan mengadakan Seminar Internasional Forum untuk Wisata Ziarah, yang akan digelar kembali di Museum Istiqlal.

“Gedung kita ada dua bagian, yaitu Bait Quran dan Museum Istiqlal,” lanjutnya.

Kemudian dalam beberapa waktu ke depan di sana akan dibuka Uzbekistan Corner salah satunya menghadirkan replika salah satu mushaf tertua, yang sedang dibaca Sayidina Utsman saat terbunuh dan ada percikan darahnya.

Menurut penelitian keabsahan darah itu sebagai darah Utsman sudah diuji pada masa itu.

Seminar

Dr. Muklis M. Hanafi menjelaskan, dalam acara seminar Menelusuri Jejak-Jejak Ulama Uzbekistan di Nusantara, akan diundang peserta  dari berbagai negara termasuk Indonesia, antara lain dirinya  dan Rektor Universitas Gunadarma.

Mereka mengundang seorang peneliti yang diharapkan, dapat mengurai jalur yang bisa dikatakan terputus antara tradisi  keislaman yang ada di Asia Tengah dengan yang ada di nusantara ini.

Menurut Dr. Mukhlis, yang paling terasa dari manuskrip-manuskrip memang belum ada indikasi yang kuat tentang jaringan langsung antara Ulama Uzbekistan dengan Indonesia.

“Tetapi bukan berarti daya pengaruh, mungkin saja tidak langsung, misalnya mungkin yang masuk ke Indonesia ini adalah dari Timur Tengah,” katanya.

Sebab, lanjutnya, ssungguhnya ulama-ulama Uzbekistan itu adalah mereka yang telah memberikan kontribusi besar dalam peradaban Islam.

“Kita bisa tahu dari hasil karya ilmuan ulama-ulama seperti Imam Bukhori yang kitabya sangat populer di Indonesia. Bahkan kajian pengajian tradisi sangat luar biasa di Indonesia, kemudian dari segi penamaan banyak digunakan dengan nama Bukhori yang tanpa sadar bahwa itu adalah nama dari Uzbekistan.”

“Kemudian logaritma, orang akrab dengan istilah logaritma, Alkowarijmus itu dari kata Alkhwarizmi adalah nama tempat penemu itu, dinisbatkan kepada tempat tesebut Alkhowarijme. Jejak-jejak yang terlupakan yang terputus yang ingin kami sambungkan kembali,” tuturnya.

Banyak ulama-ulama Uzbekistan lebih dari 50 ulama besar dalam berbagai bidang keilmuan lahir di kota-kota pusat peradaban Islam masa lalu, seperti Bukhari, Samarkhan, Tashkent, Tirmiz, Khiva, dan beberapa kota lainnya. (L/Gun/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)