Tafakur dan Muhasabah Diri di Akhir Ramadhan

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Oleh: Dudin Shobaruddin MA., Ketua Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud Online (SQABM), Biro Kantor Berita Islam Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Kuala Lumpur.

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini banyak yang menyempatkan diri untuk beri’tikaf. Yaitu berdiam di masjid dan tidak keluar kecuali ada hajat yang diperbolehkan sesuai ajaran sunnah. Bagi yang menyempatkan amal i’tikaf ini merupakan sesuatu yang amat berharga bagi kehidupannya. Sebab dengan i’tikaf di masjid mereka bisa merenung, memikirkan apa saja yang ada dalam benaknya. Sepuluh awal telah dilaluinya, sepuluh pertengahan telah dialami dengan berbagai dugaan dan rintangan untuk sampai ke titik akhir. Dan sepuluh terakhir sedang dialami untuk menuju garis finish apakah kita menjadi hero, juara dalam menahan segala nafsu syahwat setelah dilatih sedemikian rupa, yaitu apakah kita mampu mendapat titel mutaqin? Tanya pada diri kita masing-masing. Itulah tafakur dan muhasabah diri.

Tidak terkecuali beritikaf atau tidak, tafakur adalah penting. Tafakur adalah merenung, menganalisa kemudian menyakini akan segala yang telah dilalui selama bulan Ramadhan ini secara khusus. Apakah shoum kita betul-betul ihtisaban (ikhlas), atau ada percikan riya? Apakah ada melakukan ghibah, mengumpat, mencela, hasad dengki pada sesama manusia? Apakah mata, telinga, kaki, tangan, hati, betul-betul berpuasa dari hal-hal kemasiatan? Apakah syarat sahnya puasa kita jaga? Begitu juga tentang qiyam Ramadhan. Khawatir semua itu terkena peringatan atau kekhawatiran baginda nabi dengan sabdanya;

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش ، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
” وقال : صحيح على شرط االبخاري ، والحاكم النساائي ورواه وابن خزيمة في صحيه ،

Artinya: Berapa banyak orang yang berpuasa tapi yang didapat hanya lapar dan dahaganya, dan berapa orang yang Qiyam lail /Tahajjud yang didapat hanya berjaganya” (HR. Ibn Huzaemah dalam sahihnya, Nasai, Hakim dan berkata hadis ini sahih, sesuai syarat Bukahri, lihat Hasbi Assisdieqy, 326).

Imaam Ghazali mengingatkan kita tentang shoum. Beliau yang terkenal sebagai ahli Tasauf  membagi puasa menjadi tiga bagian. Soum umum, dia hanya sekedar menahan nafsu makan dan minum serta nafsu syahwatnya di siang hari. Kedua shoum khusus, selain yang telah disebutkan, dia mampu menahan segala kemaksiatan mata, telinga, mulut, tangan dan menahan dari segala kepentingan. Ketiga, shoum khusus bil khusus, yaitu selain mampu menahan makan dan minum, hatinya juga berpuasa dengan menahan segala hal yang bersangkut paut dengan hal keduniaan, cukup baginya Allah untuk segalanya. (lihat, Ihysa ulumuddin, 1;208).

Lebih dari itu secara umum kita bertafakur akan ciptaan Allah yang terbentang di muka bumi ini. Sehingga keyakinan akan ketauhidannya terus meningkat. Kepercayaan dan keimanan akan terus membaja dalam diri kita. Pesan Rasulullah Sallalahu’alaihi wa sallam;

تفكروا في آلاء الله , و لا تفكروا في الله عز وجل “ .

Artinya: Pikirkanlah apa yang telah diciptakan Allah dan jangan memikirkan tentang (Dzat) Allah Azza wa Jalla ”. (HR. Tabrani dan Baehaqi, Silsilah hadis Sahih, al-Bani 4;395).

Dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ini, kita baca al-Quran dan pikirkan renungkan isi yang terkandung di dalamnya. Kemudian kita aplikasikan kepada kejadian yang berlaku di atas bumi ini. Artinya dua pekerjaan yang harus kita lakukan di mana kita harus melepas segala kesibukan duniawi. Pertama, kita membaca al-Quran dan ke dua adalah memikir dan merenung terhadap segala yang terjadi di muka bumi. Berarti ada dua kitab yang harus kita selesaikan dalam tempo sepuluh hari, kitab al-Qur’an dan kitab alam jagad raya.

Kejadian gunung meletus, banjir, gempa bumi, tananh longsor, tabrakan berbagai kendaraan, di sana yang Maha Faktor Allah Ta’ala. Perhatikan firman Allah Ta’ala;

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran-190-191).

Dengan bertafakur kita gunakan akal sehat untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai dalam memperkukuh keimaan dan keislaman sehingga dapat diaplikasikan dalam betuk syukur tidak saja dalam perkataan tapi dalam perbuatan.

Membaca al-Quran menjelang akhir Ramadhan dengan lebih rajin diiringi dengan kajian tentang isi kandungannya, kemudian dibarengi dengan tafakur tentang kejadian alam semesta terutama mereka yang menghabiskan waktunya di masjid-masjid, tentu merupakan satu bentuk amalan yang mengantar kepada keinsafan dan mempertebal rasa keimanan. Hal ini tentu memiliki nilai tambah yang luar biasa bagi seorang muslim.

Dengan tafakur kita mampu berdialog dengan sang Pencipta, ketika duduk, berbaring dan berdiri. Selama denyutan jantung terus membahana, terciptalah satu emosi untuk bertemu dengan sang Khalik dengan penuh ketenangan dan kenyamanan dengan segala keridoan dan sebaliknya Allah pun Ridla pada kita;

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30

Artinya; Hai jiwa yang Mutmainnah (tenang) (27). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya (28). Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (29). Masuklah ke dalam surga-Ku (30).

Dengan bulan Ramadhan yang sudah menjelang hari-hari akhir ini, setelah kita mampu mengekang makan dan minum di siang hari sejak tebit fajar sampai terbenam matahari, kita mampu mengekang hawa nafsu amarah yang selalu menggiring manusia ke jalan kesesatan, dan beralih nafsu kita kepada nafsu yang selalu muthmainnah yang tenang, damai, yang siap menghadap panggilan Ilahi dengan mendapat balasan Surga-Nya. Insya Allah. (K01-B05/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)