Ulama Tolak Trump Gunakan Irak untuk Hadapi Iran

Najaf, MINA – Grand Ayotallah Ali Al-Sistani, ulama Syiah paling senior di Irak, telah mengkritik pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa pasukan AS perlu tinggal di Irak untuk mengawasi Iran.

“Kami menolak Trump menggunakan Irak sebagai landasan untuk menyerang negara lain,” katanya dalam pertemuan dengan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Irak Jeanine Hennis Plasschaert di Najaf, Rabu (6/2).

“Irak ingin memiliki hubungan yang harmonis dengan semua negara tetangganya, termasuk Iran, tanpa campur tangan dalam urusan internalnya,” katanya. Demikian The New Arab melaporkan yang dikutip MINA.

Ulama Syiah yang berbasis di Najaf itu tidak sendirian di antara tokoh berpangkat tinggi di Irak dalam mengutuk pernyataan Trump.

Presiden Irak Barham Saleh mengatakan, pada Senin (4/2) bahwa AS belum meminta izin Irak untuk tinggal di negara itu untuk mengawasi Iran, menambahkan bahwa mereka harus tetap berpegang pada “memerangi terorisme” daripada mengejar agenda lainnya.

Mantan Perdana Menteri Irak Haider Al-Abadi menolak keras keinginanTrump, lewat Tweeternya “kedaulatan Irak harus dihormati. Kami tidak proksi dalam konflik di luar kepentingan bangsa kita,”kata Abadi.

Meskipun dia belum mengomentari pernyataan Trump, ulama Syiah Irak berpengaruh Muqtada al-Sadr sebelumnya menyerukan penarikan semua pasukan asing dari negara itu, termasuk AS dan Iran.

Dalam sebuah wawancara dengan CBS pada hari Senin, Trump mengatakan bahwa 5.000 tentara AS saat ini ditempatkan di Irak dan ditugasi membantu pasukan keamanan Irak dalam perjuangan mereka melawan kelompok negara Islam akan tinggal di pangkalan militer Al-Asad di Anbar, yang oleh presiden disebut “Luar biasa dan mahal.”

Selain itu, ia mengatakan 2.000 tentara AS yang saat ini ditempatkan di Suriah juga akan pindah ke pangkalan Irak. (T/Gun/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)