Wawancara MER-C: Koordinasi Kunci Keberhasilan Penanganan Bencana

Wartawan MINA, Sajadi, mengadakan wawancara ekslusif dengan Presidium Lembaga kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis,MER-C, Dr. Arief Rachman pada Selasa (25/12). Ia baru saja tiba dari lokasi pascabencana tsunami yang menerjang Provinsi Banten dan Lampung Selatan.

Dokter spesialis radiologi tersebut bersama rombongan enam tim medis lainya bertolak dari Jakarta  ke Kabupaten Serang dan Pandegalang pada Ahad malam (23/12) seusai mendapat informasi dari salah satu relawan yang sebelumnya sudah berda di lokasi saat kejadian tsunami berlangsung pada Sabtu malam (22/12).

Menurut Dr. Arief Rachman, relawan itu sedang dalam rangka berlibur bersama keluarga. Alhamdulillah, mereka tidak yang menjadi korban bencana malahan relawan tersebut bisa malakukan assessment titik mana saja yang perlu bantuan dari MER-C.

Hingga Selasa pukul 13.00 WIB Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meliris data terbaru jumlah korban tsunami., jumlah korban 429 meninggal dunia, 1.485 luka, 154 hilang, dan 16.082 mengungsi.

Berikut ini adalah wawancaranya :

MINA: Bisa diceritakan, apa saja yang dilakukan oleh Tim relawan MER-C kepada para korban di lokasi pascabecana tsunami tersebut?

Dr. Arief Rachman: Pada Ahad malam Tim MER-C berangkat dari Jakarta langsung  menuju RSUD Serang dan Pandeglang, Jawa Barat dengan membawa logistik obat-obatan. Karena kebutuhan IGD sudah terpenuhi kami melanjutkan ke daerah-daerah pengungsi yang belum terjangkau seperti di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Di sana kami memberikan bantuan medis kepada warga terdampak bencana seperti luka sayatan, lebam, dan stress ringan.  

Tidak hanya itu, kami juga memberikan bantuan logistik berupa air mineral, susu cair anak, dan beberapa makanan kering. Karena tim kami adalah tenaga advance medis maka kami sempat belanja logistik makanan terlebih dahulu.

MINA: Bagaimana kondisi akses jalan menuju lokasi bencana?

Dr. Arief Rachman: Kami mengalami sedikit kendala saat melintasi akses jalan menuju Kecamatan Sumur. Jalannya sudah mulai rusak karena langsung berbatasan dengan pantai dan kami temui jalan lumpur sangat parah yang membuat mobil kami terjebak. Kemudian kami putuskan untuk melewati jalan memutar yang membutuhkan tiga kali waktu normal. Kami berusaha menuju ke kecamatan tersebut sebab kami dapat informasi, masih banyak desa-desa yang belum terjangkau bantuan yang kebanyakan warganya mengungsi di perbukitan seperti Desa Taman Jaya.

Menurut BNPB, ada tujuh desa di Kecamatan Sumur, dari tujuh desa tersebut yang baru satu desa yang bisa dijangkau bantuan adalah Desa Tamanjaya. Sementara  enam desa yang belum tersentuhm yaitu Desa Cigorondong, Kertajaya, Sumberjaya, Tunggajaya, Ujungjaya dan Kertamukti.

MINA: Apa saja yang dibutuh para korban di lokasi terdampak bencana?

Dr. Arief Rachman: Pertama mereka butuh akses jalan, terutama daerah-daerah yang terpencil, karena jalan banyak yang rusak dan terputus sehingga bantuan sulit masuk. Kedua adalah aliran listrik, kegelapan, kesunyian dan tidak adanya hiburan seperti televisi bisa menyebabkan para korban yang selamat bertambah traumanya. Yang ketiga, bantuan logistik obat dan makanan  bagi mereka yang berada di pengungsian. Kebanyakan para mereka mengungsi dan berkumpul di rumah saudara atau desa lain bukan di kamp pengungsian.

MINA: Menurut pengamatan dokter, apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah dalam menangani para korban di lokasi bencana?

Dr. Arief Rachman: Kami sangat mengapresiasi kerja pemerintah, dalam hal ini adalah PLN yang sedang bekerja keras menyambungkan aliran listrik dari tiang-tiangnya yang roboh. Begitu juga Kementrian Kesehatan yang sudah mengirimkan bantuan ambulance untuk menjemput para korban baik yang sudah meninggal maupun yang membutuhkan berbagai pelayanan kesehatan.

MINA: Apa saran dan masukan MER-C untuk pemerintah agar penanganan bencana ini berjalanan dengan baik?

Dr. Arief Rachman: Dalam hal ini pemerintah harus bisa merangkul setiap lembaga yang memberi bantuan kepada korban. Masih banyak terdapat warga yang mengungsi tersebar di berbagai titik di perbukitan dan beberapa desa terpencil yang belum terjangkau. Dengan meletakan lembaga-lembaga tersebut di titik yang sudah dikoordinasikan maka akan mempermudah dalam penanganan korban secara merata.

MINA: Apa rencana Tim MER-C dalam penangan pascabencana di Provinsi Banten selanjutnya?

Dr. Arief Rachman: Kami akan terus berkomunikasi dengann BPBD di sana. Jika dibutuhkan kami akan segera menurunkan tim serta bantuan logistik. Menurut kami, untuk bantuan dokter bedah maupun layanan emergency sepertinya sudah tidak terlalu dibutuhkan, mungkin hanya penangan terhadap luka-luka ringan dan trauma.

MINA: Tsunami ini kan juga menerjang beberapa pantai di Lampung Selatan, apakah Tim MER-C akan menuju ke sana juga?

Dr. Arief Rachman: Tentu saja kami akan menuju ke sana juga, maka dari itu kami butuh dari teman-teman Unit Rescue Al Fatah Lampung untuk melakukan assessment terlebih dahulu. Karena sudah berjalan tiga hari, kami akan memberikan bantuan medis kepada warga yang kembali dari pengungsian atau yang bisa di sebut korban gelombang kedua. (W/Sj/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)