Yasha Ashley, Remaja Muslim Berjuluk Kalkulator Berjalan

Nama Yasha Ashley sempat menjadi viral pada pertengahan tahun 2017 lalu. Di usianya yang akan menginjak ke-16 tahun pada tanggal 14 Juni 2019 mendatang, ia sudah dianggap sejumlah kalangan sebagai remaja termuda yang ahli di bidang matematika zaman ini.

Yasha adalah seorang Muslim taat yang tinggal di Leicester, Inggris, bersama ayahnya Moussa Ashley. Ia merupakan keturunanan Iran.

Pada saat usianya beranjak empat tahun, ia didaftarkan di Sekolah Dasar Negeri Folville, di mana ia mengambil mengambil enam modul ujian Matematika. Pada usia ketujuh, Yasha sukses mendapatkan nilai A pada ujian Matematika.

Pada usia yang kedelapan tahun, Yasha kembali memperoleh nilai sempurna di bidang Matematika dan menjadi orang pertama di dunia yang mencapai skor 99 persen – sebuah angka yang hampir mendekati angka sempurna.

Dalam ujian itu, Yasha sukses menyelesikan enam makalah dalam tempo dua hari. Sejak saat itulah Yasha kerap dijuluki “kalkulator berjalan”.

Saat menginjak usia yang kesepuluh tahun, Yasha kembali meraih nilai sempurna di bidang yang sama.

Setelah lulus dari Folville, ia melanjutkan sekolah menengahnya di Fullhurst Community College, Leicester. Di sekolah ini, ia mempersiapkan diri mengikuti tes untuk menerima General Certificate of Secondary Education (GCSE).

Mengutip situs Wikipedia, General Certificate of Secondary Education atau disingkat GCSE yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Ijazah Umum Pendidikan Menengah adalah ijazah akademis yang khusus menilai berdasarkan mata pelajaran tertentu yang diperoleh melalui ujian kualifikasi.

Ujian ini biasanya diambil oleh anak-anak berusia 15-16 tahun atau seusia siswa tahun terakhir SMP di negara Inggris, Wales dan Irlandia Utara, serta di negara-negara yang merupakan bekas jajahan Inggris, seperti Australia dan Afrika Selatan.

Di luar Britania Raya sendiri, sistem ini disebut dengan International General Certificate of Secondary Education (IGCSE).

Nama Yasha semakin harum ketika usianya mencapai 14 tahun. Pada tahun 2017 lalu, Universitas Leicester, Inggris, mengajaknya untuk mengajar mahasiswa di kampus tersebut. Di tempat ini pula Yasha mendapat gelar sarjana dan menjadi mahasiswa termuda. Selain itu, ia juga menjadi pengajar termuda.

“Saya mengalami tahun-tahun terbaik dalam hidup saya. Saya suka kuliah dan saya suka pekerjaan baru saya membantu mahasiswa lain. Tidak ada lagi seragam sekolah untuk saya, terima kasih banyak,” kata Yasha sebagaimana dilaporkan Daily Mail pada 2017 lalu.

Kini, Yasha tengah menyelesaikan studi Ph.D-nya.

“Saya suka matematika karena ini adalah ilmu pasti. Ini adalah satu-satunya ilmu di mana Anda dapat membuktikan apa yang Anda katakan itu benar. Sangat mudah dan menyenangkan untuk dipelajari,” katanya. (A/Ayu/R06)

Mi’raj News Agency (MINA)