HUBUNGAN antara Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar kemitraan biasa, melainkan sebuah aliansi strategis yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade. Meskipun Israel adalah negara kecil di Timur Tengah, dukungan finansial, militer, dan diplomatik dari AS terus mengalir tanpa henti, bahkan di tengah berbagai kontroversi dan kritik global.
Mengapa sebuah negara adidaya seperti Amerika begitu loyal terhadap Israel? Apakah ini murni karena kesamaan nilai demokrasi, atau ada kepentingan yang lebih dalam? Dengan menelusuri fakta-fakta sejarah, politik, ekonomi, dan strategi geopolitik, kita akan menemukan alasan-alasan fundamental yang menjelaskan mengapa Amerika tak pernah berpaling dari Israel. Berikut ini adalah 10 sebab utama mengapa Amerika sering membantu Israel.
Pertama, Hubungan Sejarah dan Ideologi. Sejak berdirinya Israel pada tahun 1948, Amerika Serikat menjadi salah satu negara pertama yang mengakui keberadaannya. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang diklaim Amerika dan narasi historis bahwa Israel merupakan tempat perlindungan bagi orang Yahudi pasca-Holocaust. AS melihat Israel sebagai simbol keberhasilan bangsa yang diperjuangkan melalui demokrasi dan hak asasi manusia, meskipun realitas di lapangan sering kali bertolak belakang.
Kedua, Pengaruh Lobi Yahudi di Amerika. Kelompok lobi Yahudi, terutama American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri AS. AIPAC dan organisasi sejenis memberikan dukungan finansial besar kepada politisi AS yang pro-Israel, memengaruhi kebijakan di Kongres dan Gedung Putih. Menurut OpenSecrets, kelompok pro-Israel menggelontorkan lebih dari $30 juta dalam bentuk lobi dan donasi politik setiap tahunnya.
Baca Juga: Masjid Agung Jawa Tengah, Perpaduan Arsitektur Jawa, Arab, dan Eropa
Ketiga, Keunggulan Teknologi dan Militer Israel. Israel adalah salah satu negara dengan teknologi militer paling maju di dunia, berkat bantuan dan kerja sama dengan AS. Amerika memandang Israel sebagai aset strategis yang bisa membantu mereka dalam pengembangan teknologi pertahanan, seperti sistem Iron Dome, drone militer, dan siber. Departemen Pertahanan AS bahkan memiliki kontrak eksklusif dengan perusahaan Israel dalam pengadaan alat militer canggih.
Kelima, Israel sebagai Pilar Kepentingan Amerika di Timur Tengah. Amerika memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, terutama dalam mengamankan jalur energi dan menyeimbangkan kekuatan terhadap negara-negara lain seperti Iran dan Rusia. Israel dianggap sebagai mitra utama dalam menjaga kepentingan geopolitik AS, terutama dalam menghadapi perlawanan dari kelompok anti-Amerika di kawasan tersebut.
Kelima, Pengaruh Evangelis dan Kristen Zionis di AS. Sebagian besar komunitas Evangelis di AS mendukung Israel berdasarkan keyakinan agama. Mereka percaya bahwa keberadaan Israel adalah bagian dari nubuat dalam kitab suci mereka dan mendukung kebijakan pro-Israel. Menurut Pew Research Center, sekitar 80% kaum Evangelis AS mendukung kebijakan pro-Israel karena faktor kepercayaan ini.
Keenam, Keuntungan Ekonomi dan Industri Senjata. Hubungan AS-Israel menguntungkan industri pertahanan Amerika. Setiap tahun, AS memberikan miliaran dolar dalam bentuk bantuan militer kepada Israel, tetapi sebagian besar dana ini kembali ke AS karena digunakan untuk membeli senjata dan teknologi dari perusahaan Amerika seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Raytheon. Ini melahirkan siklus keuntungan bagi industri pertahanan AS.
Baca Juga: 12 Faktor, Fakta dan Data Kehancuran Israel
Ketujuh, Dukungan Israel dalam Keamanan dan Intelijen. Israel memiliki salah satu badan intelijen terbaik di dunia, Mossad, yang sering bekerja sama dengan CIA dan NSA dalam operasi global. Data intelijen dari Israel sangat berharga bagi AS dalam melawan terorisme dan ancaman dari negara-negara seperti Iran, Suriah, dan Rusia. Keunggulan teknologi Israel dalam bidang keamanan siber juga menjadi aset berharga bagi AS.
Kedelapan, Perlindungan atas Kepentingan Ekonomi AS. Amerika Serikat memiliki kepentingan ekonomi yang luas di kawasan Timur Tengah, termasuk perdagangan minyak dan akses terhadap jalur perdagangan strategis. Dengan adanya sekutu kuat seperti Israel, AS dapat mempertahankan dominasi ekonominya di kawasan tersebut dan melindungi perusahaan multinasionalnya dari ancaman instabilitas politik.
Kesembilan, Tekanan dari Media dan Elite Politik. Media di AS memiliki bias yang kuat terhadap Israel, yang berkontribusi terhadap dukungan publik dan politik bagi negara tersebut. Mayoritas media besar di AS, seperti The New York Times, CNN, dan Fox News, sering menggambarkan Israel sebagai korban dalam konflik, sementara Palestina sering diposisikan sebagai pihak yang agresif. Hal ini membentuk opini publik yang mendukung kebijakan pro-Israel.
Kesepuluh, Ketergantungan Politik dan Keberlanjutan Aliansi. Banyak politisi AS bergantung pada dukungan dari kelompok pro-Israel untuk terpilih kembali. Oleh karena itu, mereka cenderung mendukung kebijakan yang menguntungkan Israel demi mempertahankan dukungan elektoral dan pendanaan kampanye. Hal ini membuat hubungan AS-Israel semakin kuat dan sulit diputuskan.
Baca Juga: 10 Daftar Kejahatan Amerika dan Israel Terhadap Palestina
Hubungan erat antara Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar hasil dari diplomasi biasa, melainkan dipengaruhi oleh faktor sejarah, ideologi, ekonomi, politik, serta kepentingan militer. Dukungan AS kepada Israel terus berlanjut karena berbagai pihak berkepentingan di dalamnya, baik dari industri pertahanan, kelompok lobi, hingga elite politik. Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan AS-Israel lebih dari sekadar aliansi biasa, melainkan bagian dari strategi global yang menguntungkan kedua belah pihak.[]
Mi’raj News Agency (MINA)