Supir Itu Ternyata Juru Bicara Kepolisian Palestina

Letkol Ayman Al Batniji, Juru bicara Resmi Kepolisian Palestina di Gaza.
Letkol Ayman Al-Batniji, Juru bicara Resmi Kepolisian Palestina di Gaza.(Foto: naba.ps)

Oleh Muhammad Husein, Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jalur Gaza

Saya sedang berdiri menunggu angkutan umum di sebuah perempatan terpadat di Jalur Gaza, tepatnya di sebuah tempat bernama Saraya yang terletak di pusat Kota Gaza. Tempat tersebut, menurut yang saya dengar, dulunya adalah tempat berdirinya rumah tahanan terbesar yang dimiliki oleh masyarakat Jalur Gaza.

Padahal baru tidak sampai dua menit yang lalu saya turun dari angkutan umum yang membawa saya dari tempat kediaman ke Saraya, namun, panasnya matahari di penghujung musim dingin ini membuat saya ingin cepat cepat mendapatkan tumpangan selanjutnya agar bisa berteduh dan cepat sampai di tujuan.

Alhamdulillah, beberapa detik kemudian, sebuah mobil putih bertipe mini van dengan merek Volkswagen berhenti tepat di hadapan saya yang masih terus melambaikan tangan kanan memberi isyarat. Berikutnya, tangan kanan saya tidak saya kembalikan langsung ke tempatnya, akan tetapi langsung saya arahkan ke pegangan pintu depan mobil untuk membukanya dan masuk ke dalam mobil kemudian duduk di samping pak supir.

Sistem Transportasi di Gaza

Perlu diketahui, banyak perbedaan sistem transportasi antara Gaza dan Indonesia. Selain supir yang duduk mengemudi di sebelah kiri, di Gaza juga tak ada angkutan umum berwarna warni, biru, merah hati, hijau, seperti yang ada di Indonesia. Jangan kan angkutan ojek berbasis Aplikasi, ojek pangkalan juga tak ada di Gaza.

Lalu bagaimana bagi warga Gaza yang tidak memiliki kendaraan bisa bepergian ke sana kemari? Mungkin terdengar mengejutkan, tapi kami di Gaza selalu mengendarai mobil-mobil mewah seperti BMW, Mercedez-Benz, Volkwagens (seperti yang saya tumpangi hari ini), dan berbagai merek ternama lainnya untuk bepergian ke sana ke mari, termasuk ke pasar.

Tidak ada sistem “Angkot” seperti di Indonesia, di Gaza, siapa saja yang punya mobil pribadi, maka bisa menjadi kendaraan untuk mengangkut siapa saja yang ingin menggunakan jasanya, dengan syarat memiliki izin dari kementerian transportasi setempat dan bukan seorang pegawai negeri. Supir angkutan umum tapi pribadi ini akan mengangkut siapa saja yang memiliki rute yang sama dengan  arah bergeraknya si supir.

Kembali ke mobil volkwagen yang saya tumpangi. Begitu saya masuk dan duduk di atas kursi, saya langsung ditawarkan tangan kanan milik sang supir, sambil senyum wajahnya yang sejuk menambah teduhnya suasana di dalam mobil. Sang supir mengajak saya berjabat tangan. Saya tidak punya pilihan selain menerima ajakan beliau untuk berjabat tangan.

Letnan Kolonel

“Saya tidak berprofesi sebagai supir angkutan umum, tapi saya berikan tumpangan kepada anda karena saya lihat anda sedang perlu tumpangan,” tutur sang supir. Baru saja saya menaikkan kedua alis, merapatkan dagu saya ke bagian leher (gerakan tanda terkejut) dan belum sempat membalas “klaim” sang supir, Ia langsung menimpali dengan berkata; “Akhuk fiellaah , Ana Muqaddam Ayman Al-Bathniji, Al-Mutahaddits bismi Assyurthah Al-Filisthiniyah fie Gaza.” (Saya adalah saudara seiman anda, saya adalah Letnan Kolonel Ayman Al-Bathniji, Jurubicara Resmi Kepolisian Palestina di Gaza).

Kedua alis yang terangkat ini belum sempat saya turunkan dan ungkapan perkenalan dengan suara berat yang saya dengar dari mulut sang supir semakin memaksa saya untuk menaikkan alis-alis saya lebih tinggi, saya semakin terkejut. Saya berusaha menghakhiri fase “keterkejutan” saya dengan membalas sang Letkol dengan kata-kata seadanya, “Masya Allah, terima kasih pak letkol, saya jadi merasa tidak enak,” ungkap saya malu. Ya, rasa terkejut saya telah hilang berganti rasa malu dan “tidak enak”.

Seperti ini-lah kurang lebihnya, Kelemahan sistem transportasi di Gaza seperti yang saya gambarkan tersebut, membuat kita tidak bisa mengenali mana yang benar-benar supir angkutan umum dan mana yang bukan. Hal serupa juga pernah saya alami sebelumnya di mana suatu hari saya pulang dari Universitas Islam Gaza, kampus tempat saya kuliah saat ini, ketika saya hendak turun dari mobil dan ingin membayar ongkos, supir tua berpakaian lusuh dan berkacamata itu baru mengungkapkan jati dirinya bahwa dirinya adalah Guru Besar Bahasa Arab di UIG.

Mental Pengemudi

Pesan moral yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini, sebagian saya yakin sudah dipahami oleh pembaca yang budiman. Sopan santun, tidak sombong, murah hati, suka menolong, bersahabat, dan berbagai sifat positif “humanisme” lainnya. Ya, memang begitulah adanya bagaimana warga Gaza berinteraksi sesama, khususnya kepada warga asing.

Di sepanjang perjalanan dengan beliau yang berlangsung selama kurang lebih tujuh menit, beliau berkali-kali mengungkapkan bahwa warga Palestina khususnya warga Gaza sangat cinta kepada kaum Muslimin yang datang ke Gaza. Beliau juga jelaskan bahwa warga Gaza merasa tenang dengan perhatian yang terus diberikan oleh kaum Muslimin khususnya warga Indonesia.

Di tengah perjalanan, sang Letkol juga mengangkut dua pemuda yang satu arah dengan rute beliau yang saya ketahui setelahnya bahwa kedua pemuda tersebut adalah bawahannya di kepolisian.

Tingginya rasa kepedulian sang Letkol terungkap saat ia mengaku dirinya tidak betah melihat kursi mobilnya kosong sementara banyak warga yang memerlukannya. Mendengar pengakuan beliau, saya jadi berandai-andai di dalam hati, sekiranya seluruh pemilik mobil di Jakarta memiliki mental kepedulian setinggi beliau, saya rasa krisis kemacetan akan terhapus sehapus hapusnya.

Perbincangan seputar indahnya hubungan Indonesia dengan Palestina menjadi tema panas kala itu. Di tengah perbincangan tersebut, Saya juga jadi mengetahui kalau sang Letkol adalah saudara kandung dari komandan lapangan sayap militer Hamas Brigade Izzuddin Al-Qassam yang gugur di dalam terowongan Al-Qassam beberapa pekan lalu. Perubahan topik terkesan sangat cepat, saya akhirnya harus membuka identitas saya sebagai relawan yang belum lama ini menikah dengan wanita pribumi Gaza dan sebagainya.

Pujian-pujian akan tingginya rasa solidaritas Indonesia terhadap Palestina semakin semarak dengan adanya dua penumpang baru tersebut. Apalagi setelah sang letkol mengingatkan kami bertiga bahwa saat ini warga Palestina tak lagi memerlukan visa untuk masuk ke Indonesia, merujuk kepada keputusan baru dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang mengizinkan bagi siapa saja yang memiliki paspor Palestina untuk masuk tanpa visa ke Indonesia.

Puncaknya adalah ketika saya telah tiba di tujuan dan pamit akan turun dari mobil, salah satu pemuda yang duduk di kursi belakang berhasil memprovokasi teman dan atasanya (baca: Letkol) untuk mentraktir saya makan siang di tempat mereka sebagai tanda persaudaraan. Saya yang saat itu memang sedang dalam keadaan lapar, tentu sangat senang mendengar tawaran tersebut, akan tetapi saya harus melanjutkan perjalanan ke tujuan semula.(L/K02/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)