11 TAHUN KEMATIAN YASSER ARAFAT, PALESTINA MASIH BERDARAH

thumbs_b_c_d47b0726391b72951d533a977dde387a
(Foto: Anadolu Agency)

Al-Quds, 30 Muharram 1437 / 12 November 2015 (MINA) – Sebelas tahun kematian pemimpin Palestina Yasser Arafat, namun politik Palestina tetap didera konflik, dan Rakyat Palestina masih menderita akibatpembantaian Israel.

Kematian Arafat pada 11 November 2014 lalu, namun tahun ini bertepatan pada Intifadhah di Tepi Barat dan Al-Quds Timur, di mana banyak korban tewas dan luka-luka karena kekejaman Israel.

Menurut Departemen Kesehatan Palestina, jumlah warga Palestina yang tewas oleh pasukan Israel sejak awal Oktober sampai sekarang mencapai 80 jiwa, termasuk 17 anak-anak.

Arafat adalah pemimpin yang selalu diingat-ingat dan dikenang oleh semua warga Palestina karena kemampuannya menyatukan Palestina.

“Arafat berhasil dalam memimpin Palestina dari kecenderungan politik yang berbeda,” ujar Sameer Awad, seorang profesor ilmu politik, Birzeit University di Ramallah, mengatakan kepada Anadolu Agency, dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Kamis (12/11).

“Selama hidupnya, wacana politik Palestina bersatu, baik internal maupun eksternal,” tambahnya.

Awad juga menjelaskan, sejak kematian Arafat, Israel terus berusaha merampas tanah yang diduduki warga Palestina di bagian Tepi Barat dan Al-Quds Timur, dan ratusan Yahudi telah membangun tempat tinggal untuk ditempati.

Ia menambahkan, pemukim ilegal Yahudi tidak menghormati ketentuan yang telah disetujui dalam Perjanjian Olso, yang telah ditandatangani Arafat dan Perdana Menteri ke-5 Israel Yizhak Rabin.

Perjanjian itu ditandatangani pada 13 September 1993, yang disepakati langsung antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dipimpin Arafat dengan Otoritas Pendudukan Israel saat itu.

Menurut Awad, Rakyat Palestina harus belajar dari pengalaman Arafat dalam berurusan dengan pendudukan Israel.

Pada 1999, pembicaraan damai Camp David yang didukung Amerika Serikat runtuh. Satu tahun kemudian, Intifadhah Kedua pada 2000-2005 terjadi, di mana lebih dari 4.400 warga Palestina tewas dan ribuan terluka.

Arafat meninggal pada 2004, pada saat wilayah Palestina yang dijalankan oleh pemerintahan tunggal di bawah pemimpin tunggal.

Tiga tahun kemudian, tubuh politik Palestina itu terpecah-belah, dengan Tepi Barat yang dijalankan oleh sekuler, Fatah yang dipimpin Otoritas Palestina (yang telah ditanggung dari Kesepakatan Oslo) dan Jalur Gaza yang dijalankan oleh faksi perlawanan Hamas.

Abdul Majid Swealim, profesor ilmu politik Palestina yang lain, mengatakan kepada Anadolu Agency, selama sembilan tahun terakhir, Rakyat Palestina menderita di bawah konflik internal dan perpecahan karena mereka tidak memiliki pemimpin seperti Arafat yang mampu merangkul warga Palestina dari semua kecenderungan politik.

Ia melanjutkan, Palestina tidak lagi memiliki pemimpin yang mampu menghadapi krisis ini, termasuk eskalasi Israel baru-baru ini terhadap Masjid Al-Aqsha, Al-Quds Timur dan kampanya perlawanan Israel yang telah memblokade Gaza.

Swealim mengungkapkan kematian Arafat meninggalkan kekosongan dalam masyarakat Palestina, salah satunya adalah dengan terus terjadinya kekacauan dan peperangan di Palestina atas perbuatan Israel.

Pada 11 November 2014, Arafat meninggal di Prancis, namun kepergiannya meninggalkan pertanyaan yang sangat besar karena para dokter tidak dapat menemukan penyakit yang menyebabkan kematiaannya.

Pada November 2012 lalu, ahli foresik Rusia, Perancis dan Swiss mengotopsi tubuh Arafat dan mengambil sampel dengan harapan menemukan penyebab kematiannya, dan telah ditemukan gas Radon yang bercahaya yang menyebabkan tingginya tingkat radiasi yang ditemukan dalam tubuh Arafat.

Dalam investigasi yang disiarkan oleh saluran televisi Qatar Al-Jazeera, Institut Fisika Radiasi Swiss mengungkapkan adanya polonium radioaktif di tubuh Arafat.

“Yasser Arafat bermimpi negara Palestina merdeka beribukota Al-Quds,” ujar Khalil Omari, seorang Palestina (34) dari Ramallah, mengatakan pada Anadolu Agency.

“Israel membunuh warga Palestina sementara pemukim ilegal Yahudi berusaha mengambil alih Al-Aqsha,” imbuhnya. “Sementara itu, tidak ada negara-negara Muslim atau Arab berusaha untuk membantu kami,” ujarnya.

“Ralyat Palestina terus berjuang melawan agresi Israel dan pelanggaran terhadap Masjid Al-Aqsa,” katanya.

“Arafat bermimpi bahwa seorang anak Palestina pada satu hari mengibarkan bendera Palestina di dinding Al-Quds. Suatu hari nanti, kita akan membuat mimpinya menjadi kenyataan,” tambahnya.(T/nrz/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)