12 Tahun Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Gemakan Maklumat Pembebasan Al-Aqsha

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Sekitar 12 tahun lalu, pada tanggal 24 Sya’ban 1427 H bertepatan dengan 17 September 2006 M, Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy Allahu yarham menyatakan dengan terbuka Maklumat Ghazwah Fath Al-Aqsha (GFA), menggemakan Maklumat Pembebasan Al-Aqsha.

Maklumat yang dibacakan pada Tabligh Akbar/Ta’lim Pusat  Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Masjid At-Taqwa Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Pasirangin, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia itu berisi pernyataan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah hak milik umat Islam yang wajib dipertahakan oleh segenap kaum Muslimin.

Maklumat juga memperingatkan kepada Zionis Yahudi agar segera meninggalkan kawasan kiblat pertama umat Islam itu dan menyerahkannya ke tangan kaum Muslimin.

Isi “Maklumat Ghazwah Fath Al-Aqsha” selengkapnya adalah sebagai berikut:

Dengan mohon pertolongan dan Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan ini kami memaklumkan Ghazwah Al-Aqsha kepada umat manusia hal-hal sebagai berikut:

  1. Hai seluruh manusia ketahuilah sesungguhnya Masjidil Aqsha sesuai dengan firman-firman Allah di dalam surat Al-Isra: 1-7, An-Nuur: 55, Al-Fath: 1-4, An-Nashr: 1-3 dan lain-lain dalil-dalil yang qath’i adalah hak muslimin untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankannya (Al-Anfal: 60, Al-Fath: 4).
  2. Mengingat sampai saat ini Masjidil Aqsha masih berada diluar penguasaan muslimin, maka pada kaum Zionis Israil dan kelompoknya kami peringatkan agar segera meninggalkan Masjidil Aqsha dan menyerahkannya ke tangan Muslimin.
  3. Kepada kaum Muslimin di manapun berada di seluruh dunia, dengan mohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar segera bersatu padu mempersiapkan segala dana dan kemampuan (funds & forces) untuk menerima kembali Masjidil Aqsha dari tangan Zionis Israil.
  4. Kepada semua kekuatan, baik perorangan maupun negara – langsung atau tidak langsung, yang menolak kembalinya hak muslimin itu, kami peringatkan :
  5. Bahwa kami tidak memerangi Anda.
  6. Kami tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan tindakan kekerasan, pembunuhan-pembunuhan terhadap wanita, anak-anak, orang tua, pendeta, pastor maupun pemuka-pemuka agama lainnya.
  7. Kami tidak akan melakukan perusakan-perusakan terhadap rumah-rumah ibadah, pohon-pohon yang sedang berbuah dan sebagainya.
  8. Kami tidak akan melakukan perampasan atas harta-harta mereka.
  9. Namun apabila kami dihinakan, maka kami akan membela diri dengan segenap kekuatan muslimin di manapun mereka berada sampai kami menang atau syahid dengan pertolongan Allah.

Demikianlah, dengan mohon perlindungan dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, maklumat ini dikeluarkan oleh Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy di Cileungsi pada tanggal 24 Syaban 1427 H. / 17 September 2006 M. Pukul 11.50 WIB. Allahu Akbar. Alhamdulillah. Iyyakana’budu waiyya kanasta’in.

Pada malam bulan Ramadhan 1427 H/6 Oktober  2006 M, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menyampaikan Ikrar Pembebasan Masjid Al-Aqsha, dipimpin oleh Ustadz KH. Yakhsyallah Mansur selaku Lajnah Ghazwah Al-Aqsha diikuti 70 mujahid atas nama sekitar 125 mujahid-mujahidah yang terdaftar di Lajnah. Ikrar dibacakan di depan Imam Besar Masjid Al-Aqsha Dr. Syaikh Mahmoud Sheyam di Masjid At-Taqwa Cileungsi, Bogor.

Pada kesempatan ini, di depan Imam Masjid Al-Aqsha, Kalimat ikrar sebagai berikut :

اعوذ بالله من الشسطان الرجيم
بسم الله الرّحمن الّرحيم
اشهد ان لااله الاالله واشهدان محمدارسول الله
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Kami, hamba–hamba Allah yang terpanggil karena mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk pembebasan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman Zionis Yahudi Israel, dengan ini  berikrar :

  1. Dengan mohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berjuang dengan segala daya dan upaya untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsha dari kaum penjajah Zionis Yahudi Israel kepada ahlinya, muslimin.
  1. Dengan mohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala siap mengajak segenap muslimin bahu membahu kal jasadil wahid di atas manhaj kenabian untuk menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dengan mengusir Zionis Yahudi Israel dari Palestina untuk selama-lamanya.
  1. Kami siap berkorban harta dan nyawa mewujudkan ikrar ini dengan pimpinan Allah, Rasul-Nya dan Imaamul Muslimin, atas izin dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mendapatkan ridha dan maghfirah-Nya semata.

Allahu AkbarAlhamdulillah. Iyyakana’budu waiyya kanasta’in.

Atas nama ummat Islam, Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Proklamasi Pembebasan Al-Aqsha

Suatu malam menjelang dibacakannya Maklumat GFA, Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy Allahu yarham seperti biasanya memanggil beberapa bithonahnya (staf), termasuk Penulis, ke kamarnya untuk persiapan naskah yang akan disampaikan pada tausiyah beliau.

Setelah berdiskusi cukup lama sampai tengah malam, dan beliau menerima masukan-masukan dari berbagai sumber, baik Dewan Imaamah, rujukan pustaka maupun dari makmum lainnya. Maka, diputuskanlah beliau akan membacakan Maklumat ‘Perang’ untuk pembebasan Al-Aqsha Palestina.

Beliau memberikan gambaran bahwa Republik Indonesia saat akan memperoklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, tidak harus menunggu dulu semua kekuatan se-nusantara bersatu, dan segala perlengkapan berdirinya sebuah negara terbentuk. Pernyataan melalui Proklamasi Kemerdekaan dulu, itu yang pertama dan utama.

Sebab menurutnya, Proklamasi sebagai tanda bahwa adanya eksistensi negara, pernyataan kepada dunia dan tekad bulat mempertahankannya. Juga tidak perlu menunggu diakui seluruh dunia.

Sama hanya dengan penjajahan Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha dan kawasan sekitarnya, di negeri penuh berkah, kawasan Isra Mi’raj, Palestina. Maka, wajib dikumandangkan ‘Proklamai Pembebasan dan Kemerdekaan Al-Aqsha’ dalam Maklumat.

Maklumat ini murni berlandasan panggilan aqidah, tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah, serta  untuk menjaga kehormatan Islam dan Muslimin. Walaupun “Kita belum tahun seperti apa kondisi terkini, akses masuk ke dalamnya, ilmu apa yang diperlukan serta jalan mana ke arah Masjid Al-Aqsha,” kurang lebih pernyataan Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy Allahu yarham.

Tapi, beliau menambahkan, pernyataan, niat yang ikhlas, sungguh-sungguh, tekad yang kuat, insya-Allah nanti Allah akan berikan arah dan jalan ke sana an bagaimana membebaskannya.

Sosialisasi Al-Aqsha Haqquna

Sejak diikrarkannya Maklumat Ghazwah Fath Al-Aqsha (GFA) oleh Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tanggal 24 Syaban 1427 H. / 17 September 2006 M., maka dilaksanakanlah tahaan awal berupa sosialisasi GFA ke berbagai wilayah di Indonesia.

Maksud digulirkannya agenda GFA adalah untuk :

  • Menyampaikan pesan kepada kaum Muslimin dan Dunia Internasional tentang urgensi keberadaan Masjid Al-Aqsha bagi Ummat Islam di seluruh dunia.
  • Menyamakan visi dan persepsi dengan kaum muslim lainnya tentang langkah-langkah strategis untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsha yang sampai saat ini masih dijajah zionis yahudi
  • Menyuarakan jerit penderitaan kaum Muslimin Palestina, Iraq, Lebanon, dunia Islam lainnya atas kekejaman zionis yahudi dan antek-anteknya.

Adapun rangkaian sosialisasi GFA antara lain: longmarch cinta Al-Aqsha, safari motor, pameran foto bukti-bukti kekejaman Zionis Israel, pemutaran CD Palestina dan perjuangan Islam dan Muslimin, seminar, diskusi dan bedah buku Al-Aqsha, seminar internasional, tabligh akbar solidaritas Al-Aqsha, pengumpulan tanda tangan dan penggalangan infaq Al-Aqsha, penerbitan kalender/buku, kampanye boikot Zionis, penerapan ekonomi syariah berbasis dinar dirham, hingga latihan fisik beladiri dan SAR (Search and Rescue) serta berbagai kegiatan lain terkait.

Aksi Longmarch malam hari (mencontoh perjalanan malam Isra) pertama kali dimulai dari pada hari Jumat malam Sabtu sampai Sabtu siang, tanggal 22 Sya’ban 1427 H / 15-16 September 2006 M. Start dari Markaz Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Cileungsi Bogor menuju finish di Kedutaan Besar Palestina Jalan Diponegoro Jakarta, menempuh jarak sekitar 43 km, diikuti peserta sekitar 1.500 orang, muslimin dan muslimat dari berbagai wilayah.

Di Kantor Kedutaan Besar Palestina, Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy Allahu yarham menyerahkan liwa (bendera) Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah bertuliskan “Allahu Akbar” bagi Pembebasan Masjid Al-Aqsha di bumi Al-Quds Palestina, hari sabtu tanggal 23 Sya’ban 1427 H. / 16 September 2006 M. Pkl. 09.12 WIB, dan diterima langsung oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Navi Mehdawi.

“Dengan diserahkannya liwa melalui Kedutaan, berarti tekad kita sudah tertancap di bumi Palestina sana, sebab Kedutaan adalah perwakilan resmi dari negara tersebut,” demikian kurang lebih fatwa Imaam M.Hamidy kala itu.

Melalui aksi malam tulah, kemudian pesan Pembebasan Al-Aqsha tersebar luas ke publik melalui media massa yang waktu itu meliput atas undangan Paniria maupun datang sendiri. Menurut pihak Kepolisian Lalu Lintas Jakarta, belum pernah ada acara massal sebanyak ini yang disiarkan oleh Metro TV, Anteve, RCTI, dan SCTV, Radio RRI, dan Radio Elshinta, berlangsung di jalan raya secara tertib.

Beberapa ikhwan yang diwawancarai televisi menjawab dengan antusias, seperti saat Metro TV mewawancarai seorang peserta asal Wonogiri. “Apa bekal yang Saudara bawa untuk gerak jalan ini?”. Jawabnya, “Bekal takwa kepada Allah”. Seorang peserta asal Pontianak saat ditanya, “Apa motivasi Anda mengikuti gerak jalan ini?” Jawabnya, “Mentaati amanat Imaamul Muslimin”.

Di usia senja dan dalam kondisi sakit sekalipun, Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy Allahu yarham didampingi beberapa ikhwan Dewan Imaamah ikut longmarch jalan kaki dari Markaz Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Cileungsi Bogor menyusuri Jalan Raya Narogong Bekasi sekitar 10 km.

Secara intensif dua tahun pertama, Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy Allahu yarham mengamanahkan pelaksanaan Longmarch dan rangkaian lainnya. Maka terselenggaralah agenda di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Lampung, Jambi, Sumatera Selatan hingga  wilayah Sumatera Utara-Aceh.

Upaya Mencapai Al-Aqsha

Upaya mencapai Al-Aqsha secara bertahap dilakukan dalam kerangka Ghazwah Fath Al-Aqsha, di antaranya melalui pembentukan Aqsha Working Group (AWG) sebagai Lembaga Kemanusiaan yang bertugas menggerakkan aktivitas pembebasan Al-Aqsha. AWG dibentuk di Jakarta tanggal 20 Sya’ban 1429 H. / 21 Agustus 2008 M. Bertepatan dengan 59 tahun Hari Pembakaran Masjid Al-Aqsha oleh Zionis 21 Agustus 1969.

Allah kemudian benar-benar memperjalankan para pejuang GFA ke arah Al-Quds melalui Program Studi Daurah Al-Quds di Yaman (7 Maret s.d. 20 Mei 2009), Umrah plus Ziarah ke Masjid-Al-Aqsha (), dan keikutsertaan mujahid ke dalam kapal Mavi Marmara menembus Gaza (Mei 2010). Hingga menjadi pejuang kemanusiaan dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina (sejak Oktober 2012 hingga saat ini).

Dalam upaya melemahkan hegemoni Zioniz di dunia pemberitaan, maka dibentuklah Kantor Berita Islam Mi’raj atau Mi’raj Islamic News Agency disingkat MINA (5 Shafar 1434 H. / 18 Desember 2012 M.). MINA tiga bahasa (Indonesia, Arab dan Inggris) yang dijalankan secara online 24 jam tiap hari dengan target pemberitaan tiap menit “deadline every meneets” merupakan senjata efektif dan strategis secara global. Perjuangan pembebasan Al-Aqsha diperkuat dengan Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud Online (SQAM) tahun 2013.

Selanjutnya, melalui Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency – MINA) menggelar Konferensi Internasional Media Islam (International Conference of Islamic Media – ICIM) di Jakarta pada Rabu-Kamis, 25-26 Mei 2016.

Konferensi bertema “Menyatukan Langkah Perjuangan Media Islam untuk Pembelaan Kaum Muslimin serta Kemerdekaan Palestina dan Pembebasan Masjidil Aqsha” dilatarbelakangi oleh pentingnya memberikan dukungan lebih lanjut terhadap perjuangan Palestina yang sangat perlu didukung oleh peran media. Peran  media menjadi second diplomacy bagi tercapainya kemerdekaan Palestina.

Evaluasi

Evaluasi (muhasabah) merupakan keniscayaan atas suatu tujuan mulia, terlebih untuk kehormatan Islam dan Muslimin, bagi pembebasan Al-Aqsha. Evaluasi yang bersifat menyeluruh, integral, terpadu dan terprogram, disertai ruhul jihad sebagai bahan bakar yang tidak boleh luntur, mutlak adanya.

“Tiada kemerdekaan tanpa berperang di jalan Allah, dan tiada perjuangan tanpa mengorbankan harta secara maksimal. Jika tidak ada perlawanan saat diperangi, dan tidak ada perjuangan harta, maka lemahlah tujuan yang hendak dicapai,” demikian tausiyah Imaamul Muslimin saat ini KH Yakhsyallah Mansur,MA. saat kajian Tafsir Al-Maraghi Jumat bada shubuh (12/2/2016).

Beliau kembali menggugah wajibnya membebaskan seluruh kawasan Al-Aqsha, tanah para Nabi, waqaf kaum Muslimin, dalam Khutbah Jumatnya di Masjid At-Taqwa Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, tempat dimaklumatkannya Ghazwah Fath Al-Aqsha (GFA) pertama kali, 12 tahun lalu.

Karena itu, seruan kembali GFA oleh Imaam Yakhsyallah, menandakan dan menunjukan bahwa perjuangan belum selesai, tujuan belum tercapai, sasaran belum tergapai. Namun itu semua tidak boleh membuat kita kaum Muslimin merasa lelah dan capai, apalagi mundur lunglai.

Terus kobarkan semangat jihad bagi pembebasan Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina, dengan ilmu kita, amanah kita, tenaga kita, harta kita hingga jiwa kita. Sehingga kita dapat menggapai ridha Allah dengan membawa pahala syuhada. Allahu Akbar!!!. Al-Aqsha Haqquna!!! (A/RS2/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)