Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Toxic Relationship: Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Bahron Ansori - 37 detik yang lalu

37 detik yang lalu

1 Views

HUBUNGAN seharusnya menjadi tempat pulang yang nyaman, tetapi tidak sedikit orang justru terjebak dalam ikatan yang penuh luka, penuh kontrol, dan penuh racun. (Foto: ig)

HUBUNGAN seharusnya menjadi tempat pulang yang nyaman, tetapi tidak sedikit orang justru terjebak dalam ikatan yang penuh luka, penuh kontrol, dan penuh racun. Mereka tersenyum di luar, namun di dalam hati tersimpan tangis yang tak terdengar.

Inilah yang disebut toxic relationship—hubungan yang tampak indah di permukaan, tetapi perlahan menggerogoti jiwa, menghancurkan harga diri, dan merusak kesehatan mental. Yang lebih menyakitkan, banyak orang memilih bertahan karena cinta yang buta atau takut kehilangan, padahal setiap hari mereka kehilangan dirinya sendiri. Berikut lima toxic relationship itu.

1. Hubungan yang Seharusnya Membahagiakan

Setiap orang mendambakan hubungan yang sehat, penuh kasih sayang, dan saling mendukung. Namun, tidak sedikit orang yang justru terjebak dalam hubungan yang beracun atau toxic relationship. Alih-alih memberi ketenangan, hubungan ini membawa luka batin yang dalam. Banyak orang tidak menyadari bahwa dampaknya bukan hanya pada perasaan sesaat, tapi juga pada kesehatan mental jangka panjang.

2. Definisi Toxic Relationship

Toxic relationship adalah hubungan di mana satu pihak atau keduanya terjebak dalam pola interaksi yang merusak. Ada manipulasi, kontrol berlebihan, pelecehan emosional, bahkan kadang fisik. Hubungan seperti ini membuat seseorang kehilangan jati diri, harga diri, dan kebahagiaannya. Bahayanya, kondisi ini bisa berlangsung lama karena korban sering merasa sulit keluar, entah karena cinta, ketergantungan, atau takut ditinggalkan.

Baca Juga: Herba dalam Al-Qur’an: Nutrisi Ilahi untuk Hidup Sehat

3. Gaslighting: Menghancurkan Kepercayaan Diri

Salah satu ciri toxic relationship adalah gaslighting, yaitu ketika pasangan membuat seseorang meragukan dirinya sendiri. Korban dibuat merasa bersalah atas hal-hal yang bukan kesalahannya. Seiring waktu, rasa percaya diri hancur, pikiran menjadi kacau, dan kesehatan mental terganggu. Korban bahkan bisa merasa dirinya tidak berharga tanpa pasangannya.

4. Kontrol Berlebihan dan Hilangnya Kebebasan

Pasangan toxic sering berusaha mengendalikan hidup orang lain. Mulai dari mengatur dengan siapa boleh bergaul, bagaimana berpakaian, hingga mengambil keputusan pribadi. Hal ini membuat korban kehilangan kebebasan, merasa terjebak, dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat memicu stres kronis dan bahkan depresi.

5. Kekerasan Verbal yang Menggores Batin

Kata-kata bisa lebih menyakitkan daripada luka fisik. Pasangan yang toxic kerap melontarkan hinaan, meremehkan, atau membandingkan dengan orang lain. Luka verbal ini meninggalkan trauma psikologis yang dalam. Korban merasa tidak cukup baik, minder, dan sulit mencintai dirinya sendiri. Kesehatan mental pun perlahan terkikis tanpa disadari.

Salah satu alasan orang sulit keluar dari toxic relationship adalah siklus berulang: setelah menyakiti, pasangan toxic biasanya meminta maaf dan berjanji berubah. Namun, siklus itu kembali terulang. Janji manis menjadi jebakan emosional yang membuat korban bertahan. Akibatnya, mental korban semakin lelah dan penuh luka.

Baca Juga: 8 Fakta Nyata Kesehatan Mental Lebih Penting Dibanding Kesehatan Apapun

Dampak terhadap Kesehatan Mental

Berada dalam toxic relationship dapat menimbulkan gangguan psikologis serius. Rasa cemas berlebihan, insomnia, sulit konsentrasi, hingga trauma emosional bisa terjadi. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan (anxiety disorder), depresi, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Korban toxic relationship sering kehilangan dirinya sendiri. Mereka lupa siapa dirinya sebelum terjebak dalam hubungan tersebut. Semua keputusan, pandangan, dan bahkan nilai hidup diatur oleh pasangan toxic. Ketika identitas diri hilang, korban merasa hampa, tidak berarti, dan hidupnya seakan hanya milik orang lain.

Toxic relationship juga memengaruhi hubungan sosial. Korban sering dijauhkan dari keluarga dan sahabat karena pasangan toxic ingin menguasai sepenuhnya. Akibatnya, korban kehilangan support system yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung. Rasa kesepian pun semakin memperburuk kondisi mental.

Meski hubungan toxic sudah berakhir, luka batin yang ditinggalkan bisa bertahan lama. Korban sering kesulitan mempercayai orang lain, takut menjalin hubungan baru, bahkan trauma ketika melihat tanda-tanda kecil dari pengalaman masa lalu. Proses penyembuhan membutuhkan waktu panjang, dukungan orang sekitar, dan kadang bantuan profesional.

Baca Juga: Menkes Wacanakan Laboratorium Khusus Campak untuk Percepat Deteksi

Menyadari sejak awal bahwa suatu hubungan sudah masuk kategori toxic sangatlah penting. Tanda-tandanya bisa dikenali: sering merasa takut, tertekan, atau tidak pernah cukup di mata pasangan. Jika hal ini terus terjadi, itu pertanda bahwa hubungan tersebut lebih banyak membawa luka daripada kebahagiaan.

Jangan ragu untuk mengambil langkah keluar dari hubungan toxic. Meskipun sulit, melindungi kesehatan mental jauh lebih berharga daripada mempertahankan hubungan yang merusak. Bicarakan dengan orang terpercaya, cari dukungan dari keluarga atau sahabat, dan bila perlu konsultasikan dengan psikolog untuk pemulihan.

Setiap orang berhak mendapatkan cinta yang sehat, penuh penghargaan, dan membawa kedamaian. Toxic relationship bukanlah takdir yang harus diterima. Justru dengan melepaskannya, seseorang bisa menemukan kembali dirinya yang hilang, membangun kesehatan mental yang lebih baik, dan melangkah menuju kehidupan yang lebih bahagia.

Apakah Anda ingin saya tambahkan contoh nyata kasus atau data penelitian tentang dampak toxic relationship pada kesehatan mental, supaya artikel ini terasa lebih kuat dan faktual?

Baca Juga: Penanggulangan KLB Campak di Sumenep, Kemenkes Perkuat Imunisasi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

MINA Health
MINA Health
MINA Health
MINA Health
Kolom