Berlin, MINA – Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa Amerika Serikat mengalami “pemaluan” dalam dinamika konflik dan negosiasi dengan Iran, menyusul kegagalan diplomatik terbaru yang berlangsung di Pakistan.
Dalam pernyataannya, Merz menilai Iran menunjukkan keunggulan dalam strategi diplomasi, dengan membuat pejabat Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad namun kembali tanpa hasil konkret.
Ia menyebut situasi tersebut sebagai indikasi lemahnya posisi negosiasi Washington. MEMO melaporkan, Selasa (28/4).
Menurut Merz, kepemimpinan Iran dinilai sangat piawai dalam memainkan taktik diplomasi, bahkan dalam konteks “tidak bernegosiasi” sekalipun, sehingga membuat Amerika Serikat kehilangan momentum dan kredibilitas di mata internasional.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Ia juga mengkritik tidak adanya strategi keluar yang jelas dari pihak AS dalam konflik yang semakin kompleks tersebut. Merz membandingkan situasi ini dengan pengalaman Amerika dalam perang sebelumnya seperti di Irak dan Afghanistan yang berlarut-larut tanpa solusi tuntas.
Lebih lanjut, Merz menyoroti bahwa sekutu Eropa, termasuk Jerman, tidak dilibatkan secara memadai dalam pengambilan keputusan militer oleh Washington dan sekutunya sebelum serangan terhadap Iran dilakukan.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, khususnya dalam konteks koordinasi kebijakan luar negeri dan keamanan global yang dinilai semakin tidak sinkron.
Konflik antara AS dan Iran sendiri telah berdampak luas terhadap stabilitas kawasan, termasuk terganggunya jalur vital energi global seperti Selat Hormuz, yang menyebabkan tekanan besar pada pasar energi dunia.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Dalam beberapa bulan terakhir, upaya perundingan antara kedua negara kerap mengalami kebuntuan, meskipun sejumlah pihak internasional, termasuk Pakistan, telah berupaya menjadi mediator dalam proses dialog tersebut.
Pengamat geopolitik menilai pernyataan Kanselir Jerman ini menjadi sinyal penting adanya pergeseran sikap Eropa yang mulai lebih kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama terkait konflik Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran terus menunjukkan ketahanan di tengah tekanan sanksi dan operasi militer, termasuk mempertahankan posisi tawarnya dalam negosiasi internasional yang semakin kompleks. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic