Medan, MINA — Bidang Penanganan Darurat (BPBD) Sumatra Utara (Sumut) dua bulan setelah banjir dan longsor melanda Sumatra Utara, delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara masih terisolasi akibat akses jalan yang belum pulih.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan wilayah terdampak hanya dapat dilalui sepeda motor trail, sementara kendaraan roda empat belum bisa masuk.
“Akses jalan terputus akibat longsor, namun bantuan logistik tetap disalurkan oleh petugas gabungan, tetapi hanya menggunakan sepeda motor trail. Kendaraan roda empat belum bisa masuk” ujarnya, Jumat (23/1).
BPBD Sumut memastikan distribusi bantuan dan perbaikan jalan terus dilakukan secara bertahap agar aktivitas dan perekonomian warga kembali berjalan.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Ia menjelaskan, di Kabupaten Tapanuli Tengah terdapat empat desa yang masih terisolasi, yakni Desa Saur Manggita dan Desa S. Kalangan dua di Kecamatan Tukka, Desa Sibio-Bio di Kecamatan Sibabangun, serta Desa Sialogo di Kecamatan Lumut. Total ratusan kepala keluarga di wilayah tersebut masih mengalami keterbatasan mobilitas.
Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Utara, empat desa lainnya yang masih terisolasi tersebar di Kecamatan Sipoholon dan Parmonangan. Desa-desa tersebut meliputi Rura Julu Toruan, Hutajulu Parbalik, Hutatua, dan Desa Pertengahan.
Sri Wahyuni menyampaikan bahwa warga di desa-desa terdampak memilih tetap bertahan di lokasi masing-masing dan tidak mengungsi keluar wilayah, meski akses jalan utama terputus akibat longsor.
Diketahui, banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara sejak 24 November 2025 akibat hujan berintensitas tinggi. Bencana tersebut menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa di beberapa kabupaten, termasuk Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan Mandailing Natal.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Selain faktor cuaca ekstrem, kerusakan lingkungan dan degradasi hutan di wilayah tersebut turut dinilai memperparah dampak bencana, sehingga memperlambat pemulihan akses dan kehidupan masyarakat terdampak. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
















Mina Indonesia
Mina Arabic