CITA-CITA ANAK ROHINGYA, DARI PEBISNIS HINGGA ASTRONOT

(Sumber foto: muslimaid)
(Foto: muslimaid)

Benak Amin Sharif Hasan, 12, dipenuhi angan-angan perjalanan ke luar angkasa. Saking tertariknya, pengungsi Rohingya itu sampai-sampai ingin melanjutkan jejak astronot Malaysia Sheikh Muszaphar Shukor dan menjadi ikon kebanggaan Negeri Jiran.

“Saya akan belajar sampai menjadi astronaut negeri kita ini (Malaysia),” ujar Hasan yang merasa sudah menjadi bagian dari rakyat Malaysia sehingga tidak lagi kikuk menyebut “negara kita ini” kepada Malaysia Kini yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Hasan menceritakan betapa panjang dan sulit perjalanan keluarganya untuk bisa mencari ayahnya di Malaysia. Dia bersama ibu dan dua adiknya kabur dari Myanmar menuju Bangladesh, India, dan Thailand sebelum akhirnya tiba di Negeri Jiran empat tahun lalu.

Hasan sudah dua tahun menimba ilmu di Pusat Ilmu Muslim Aid (PIMA). Dia sadar keluarganya masih berpeluang ditempatkan ke negara lain mengingat Malaysia hanya berperan sebagai negara transit. “Tapi, saya ingin terus tinggal di Malaysia,” katanya.

Hasan merupakan satu dari puluhan ribu anak-anak Rohingya yang memiliki cita-cita tinggi. Sebagian besar anak-anak Rohingya bercita-cita menjadi pebisnis, guru, polisi, dan dokter. Nur Kaidah Nur Alam, 13, misalnya. Dia ingin membuka usaha kue.

“Saya suka kue coklat yang biasa disajikan dalam perayaan ulang tahun. Suatu saat nanti, saya juga ingin membuka toko kue. Saya ingin mencari uang untuk membantu keluarga,” imbuh Nur Kaidah. “Di sekolah, saya juga harus menjadi siswa pintar,” tambahnya.

Namun, sampai manakah anak-anak Rohingya didukung dunia internasional? Juru bicara (Jubir) UNHCR Malaysia, Yante Ismail, mengatakan ratusan anak-anak Rohingya dari total 33.710 anak-anak di bawah 18 tahun mengikuti pendidikan nonformal mulai dari tingkat TK hingga SMP.

“Mereka belajar di 126 sekolah, 31 sekolah di antaranya dikhususkan bagi anak-anak Rohingya,” kata Yante. “Sebanyak 115 sekolah dimiliki masyarakat pengungsi yang didukung organisasi nonpemerintah, organisasi keagamaan, dan pihak lainnya,” sambungnya.

UNHCR membiayai seluruh gaji para guru, transportasi, alat tulis, hingga makanan. PIMA sendiri memberikan pelajaran agama, matematika, IPA, bahasa Inggris, bahasa Malaysia, dan kesenian. Mereka berharap semua ilmu yang diberikan bermanfaat.

“Anak-anak Rohingya juga belajar memahami pentingnya kerjasama, toleransi, dan sosialisme agar dapat berbaur secara baik dengan masyarakat,” kata Yante. Menurut guru di PIMA, Nuruljannah Oyong, anak-anak Rohingya sangat tekun dan tidak bandel.

“Kesadaran dan semangat berpendidikan mereka sangat tinggi,” tandas Nuruljannah. PIMA membuka kelas bagi anak-anak Rohingya dalam dua sesi, yakni: sesi pertama antara pukul 08.00 sampai 12.00 waktu setempat dan sesi kedua mulai pukul 12.00 sampai 15.00 waktu setempat. (T/P020/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)