Muslim Uighur Diperiksa Satuan Polisi Setiap Hari

Paramiliter polisi China baris berbaris selama pelatihan anti-teroris di Xinjiang pada 2 Juli 2013. (Foto: RFA)
Paramiliter polisi China baris berbaris selama pelatihan anti-teroris di Xinjiang pada 2 Juli 2013. (Foto: RFA)

Xinjiang, 10 Rabi’ul Akhir 1437/20 Januari 2016 (MINA) – Polisi di Xinjiang, China, berpatroli setiap hari untuk memeriksa identitas setiap muslim Uighur yang ingin melakukan perjalanan jauh atau memasuki wilayah kota-kota di Xinjiang atas dasar keamanan. Operasi itu dilakukan siang dan malam.

“Pada malam hari, kami biasanya berpatroli sampai pukul 02.00 waktu setempat. Kami memeriksa identitas, latar belakang, dan handphone warga di wilayah tersebut,” ujar seorang polisi di Kota Guma kepada Radio Free Asia, dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Pada siang hari, polisi biasanya melakukan pemeriksaan secara rutin dan teratur ke setiap lima kampung untuk menjamin keamanan bersama. “Kami biasanya bertanya berapa banyak anggota keluarga mereka di sini? Apakah ada yang bepergian jauh?” tambahnya.

Selain itu, polisi menyelidiki setiap orang yang bertamu dari wilayah lain menuju kota yang berada di perfektur Hetian itu, terlepas dekat atau jauh. Pihak keamanan kemudian akan menyita kartu identitas mereka sampai mereka pulang ke wilayah masing-masing.

Setiap warga yang ingin mengunjungi saudaranya atau ingin mendapatkan perawatan kesehatan di luar Guma juga harus memiliki surat khusus yang mencakup tentang keterlibatan politik dan rekor lainnya. Surat itu bisa diperoleh dari polisi lokal.

“Kami kemudian akan memasukkannya ke dalam data base. Jika kami tidak melihat ada yang janggal, kami akan memberinya cap dan stempel. Setelah itu, mereka akan pergi ke kantor hukum untuk mendapatkan ‘kartu hijau’ agar bisa bepergian,” katanya.

Di Perfektur Aksu, pengawasan juga ketat. Petugas keamanan Aksu dilaporkan memeriksa identitas setiap muslim Uighur yang hendak sholat di mesjid, terutama ketika sholat Jumat, kata seorang aktivis komunis di Aksu Awat yang tidak mau disebutkan namanya.

“Kami tidak bisa membiarkan siapapun dari luar wilayah Aksu beribadah di mesjid kota, kecuali mereka terdaftar sebagai tamu,” katanya. Siswa, PNS, dan anggota Partai Komunis China dari bangsa Uighur juga disebut dilarang memasuki mesjid dan puasa Ramadhan. (T/P020/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)