Tel Aviv, MINA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Inggris sebagai “republik Islam” dalam sebuah wawancara untuk siniar (podcast) Army Radio yang dirilis pada Kamis (14/8).
Dilansir dari Times of Israel pada Jumat (14/8), Netanyahu yang sejak lama menyatakan kekagumannya terhadap Winston Churchill, menyebutkan dalam siniar tersebut bahwa putra dan cucu pemimpin Inggris era Perang Dunia II itu adalah jurnalis yang membuat liputan pro-Israel mengenai Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967.
“Mereka datang ke sini dan meliput Perang Enam Hari dengan cara yang sangat positif bagi kami,” kata Netanyahu dalam siniar bertema duka cita berjudul “Melech B’leyatzer Chayim” (Raja Pencipta Kehidupan). “Cobalah cari hal seperti itu di Inggris saat ini. Di tempat yang disebut sebagai ‘Republik Islam Inggris’.”
Haaretz melaporkan bahwa siniar tersebut direkam di studio Petah Tikva milik NVP, sebuah perusahaan produksi yang dikontrak oleh partai Likud pimpinan Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Episode-episode sebelumnya dari siniar ini direkam di markas besar Army Radio di Jaffa. Namun, Army Radio menyatakan bahwa kantor Netanyahu meminta untuk melakukan perekaman di studio NVP karena alasan keamanan, menurut laporan Haaretz.
Setelah Netanyahu menyebut Inggris sebagai republik Islam, pembawa acara siniar Avi Harush bertanya apakah “tidak semua wilayah di Eropa sudah seperti itu,” merujuk pada pertumbuhan komunitas Muslim di seluruh benua tersebut.
Netanyahu membenarkannya dan melanjutkan: “Ada yang bilang bahwa republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah Republik Islam Inggris. Jadi kami memastikan tidak akan ada lagi yang seperti itu di Iran.”
Wakil Presiden AS JD Vance melontarkan komentar serupa pada Konferensi Konservatisme Nasional di Washington pada 10 Juli 2024, beberapa hari sebelum ditunjuk sebagai calon wakil presiden pendamping Donald Trump.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Vance yang saat itu menjabat sebagai senator AS untuk Ohio, pernah menyatakan bahwa Inggris berada di ambang menjadi “negara Islam sejati pertama yang memiliki senjata nuklir” setelah Partai Buruh Inggris berkuasa pada awal bulan tersebut.
Ia menambahkan bahwa “Pakistan sebenarnya sudah bisa dianggap demikian.”
Sejak saat itu, Vance tampil sebagai sosok yang mengkritik Israel di dalam pemerintahan Trump, serta bersikap skeptis terhadap gagasan perang AS-Israel melawan Iran, sebuah langkah yang sempat didesakkan oleh Netanyahu kepada Trump pada bulan Februari.
Senada dengan pandangan kubu Republik di Gedung Putih, Netanyahu pernah menyatakan bahwa Eropa sedang dikuasai oleh imigran Muslim.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Ia berpendapat bahwa populasi Muslim yang besar membuat negara-negara Eropa berbalik menentang Israel, di tengah meningkatnya kritik dari negara-negara Eropa. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic