Aat Syafaat Apresiasi Jurnalis Beritakan Penundaan Perjalanan Umrah yang Meneduhkan

Aat Surya Syafaat saat konferensi pers Pernyataan sikap Jama'ah Muslimin atas penangguhan sementara perjalanan umrah, Rabu (11/3). (Foto: Abdullah/MINA)

Jakarta, MINA – Wartawan Senior yang juga Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI) Bidang Media, Aat Surya Syafaat mengatakan, ia mengapresiasi peran para jurnalis di Indonesia yang memberitakan informasi penundaan perjalanan umrah dengan baik dan meneduhkan, sehingga publik dapat memahami keluarnya kebijakan dari Pemerintah Saudi itu.

Hal itu ia sampaikan saat konferensi pers pernyataan sikap Jama’ah Muslimin (Hizbullah) atas keputusan Arab Saudi menangguhkan sementara perjalanan umrah pada Rabu (11/3) di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara dalam konferensi pers tersebut selain Aat, yakni Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur, Ketua Aqsa Working Group (AWG) Agus Sudarmaji, dan praktisi kesehatan dr. Joko Wiyono.

Aat yang pernah jadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara itu mengatakan, peran media sendiri sangat penting dalam membentuk opini publik, terlebih masalah penundaan perjalanan umrah ini menjadi tema yang sangat penting mengingat ummat Islam dalam waktu dua bulan ke depan akan memasuki Ramadhan, di mana jamaah umrah biasanya sangat antusias di bulan suci itu.

“Media massa harus terus menyampaikan informasi berdasarkan fakta serta berlaku adil dengan tidak membesar-besarkan permasalahan kecil. Atau sebaliknya, mengecilkan persoalan yang berpotensi menjadi besar, sehingga tidak terjadi adanya miskomunikasi di kalangan publik di kedua negara,” kata penerima anugerah Press Card Number One pada Hari Pers Nasional 2020 itu.

Menurutnya, media massa bahkan memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan second track diplomacy guna mendukung first track diplomacy yang dijalankan oleh pemerintah.

Ia mengatakan, dengan begitu peran media akan menciptakan saling memahami yang lebih baik antara Indonesia dan Saudi Arabia  di masa kini dan masa mendatang.

“Media masa di kedua negara akan berpengaruh besar dalam meningkatkan hubungan antar pemerintah atau Government to Government (G to G), bahkan hubungan People to People (P to P), dan Business to Business (B to B),” tambahnya.

Arab Saudi memberlakukan larangan kunjungan ke Saudi yang mulai efektif sejak Kamis (27/2) dengan ditolaknya jamaah Indonesia saat check-in di beberapa penerbangan menuju Jeddah atau Madinah.

Sampai saat ini, belum ada keputusan resmi apapun yang dikeluarkan Kerajaan Arab Saudi terkait rencana pencabutan status penangguhan sementara akses masuk warga asing dari negara yang terdampak virus corona atau COVID 19. (L/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)