Abbas: Israel Langgar Hukum Internasional

Presiden Mahmoud Abbas. (Foto: dok. Imemc.org)

Ramallah, MINA – Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam penutupan Masjid dan pelarangan shalat Jumat menyusul serangan di dekat masjid yang menyebabkan tiga warga Palestina dan dua polisi Israel tewas kemarin.

Abbas langsung menelpon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengutuk serangan dan penutupan masjid tersebut.

Abbas juga memanggil Raja Yordania meminta dia uikut campur tangan dengan Israel untuk memaksa pembukaan kembali masjid tersebut untuk pelaksanaan sholat bagi Muslim dalam kapasitasnya sebagai penjaga tempat-tempat suci umat Islam di kota yang diduduki.

“Tindakan Israel adalah pelanggaran serius terhadap rumah-rumah ibadah dan kesucian salah satu tempat tersuci bagi orang Arab dan Muslim, selain menjadi pelanggaran secara terang-terangan terhadap semua hukum dan konvensi internasional,” tegas Abbas, demikian Kantor Berita Palestina WAFA yang dikutip MINA, Sabtu (15/07/2017).

Dia meminta masyarakat internasional segera melakukan intervensi untuk menghentikan tindakan-tindakan Israel tersebut.

Otoritas Pendudukan Israel masih menutup Masjid Al-Aqsha dua hari berturut-turut hingga Sabtu ini.

Tindakan Israel ini merupakan pelanggaran terhadap sembilan perjanjian damai antara kedua negara, serta pelanggaran terhadap komitmen Israel sebagai kekuatan pendudukan di Al-Quds timur, sesuai dengan hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional, utamanya adalah regulasi Hague tahun 1907, perjanjian Jenewa IV tahun 1949, dan perjanjian Hague tahun 1954 yang berkaitan dengan perlindungan terhadap kekayaan budaya dalam konflik bersenjata.

Pemerintah Palestina memperingatkan bahwa tindakan penghukuman Israel terhadap Masjid Al-Aqsha di Kota Al-Quds merupakan penyebab keprihatinan yang mendalam.

Juru bicara pemerintah Yousef Mahmoud mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerintah “mengikuti secara mendalam” tindakan Israel terhadap tempat suci umat Islam yang dapat “membahayakan status quo di Masjid Al-Aqsha dan Kota Al-Quds yang diduduki.”

Dia mengatakan tindakan semacam itu hanya bisa ‘menyebabkan kemunduran lebih lanjut”dalam situasi tersebut.

Israel menutup Masjid Al-Aqsha dan melarang shalat Jumat menyusul serangan di dekatnya yang menyebabkan tiga warga Palestina dan dua polisi Israel tewas, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 1960 lalu.

Tiga warga Palestina dari Umm al-Fahm, sebuah kota di Israel, menyerang polisi di luar gerbang masjid yang menewaskan dua petugas. Polisi mengejar ketiganya di dalam kompleks tersebut dan menembak mereka sampai mati. Masjid Al-Aqsha kemudian ditutup dan ibadah dilarang.

Sementara Gubernur Kota Al-Quds, Adnan Al-Husayni mengatakan “seruan terus berlanjut untuk menekan Israel agar mundur dari keputusannya menutup Masjid Al-Aqsha dan melarang ibadah sholat di dalamnya.”

Al-Husayni mengungkapkan harapannya bahwa pembicaraan antara Palestina, Yordania, dan Israel tersebut “berakhir dengan sukses karena keputusan untuk menutup masjid dan melarang shalat itu berbahaya dan tidak bisa diabaikan.

Dia memperingatkan terhadap “usaha-usaha Israel untuk memberlakukan status quo di Masjid Al-Aqsha dengan memanfaatkan apa yang terjadi Jumat kemarin,” mengacu pada bentrokan di lokasi yang menyebabkan kematian tiga orang Palestina dan dua tentara pendudukan Israel.

“Kami mendengar pernyataan dari pejabat Israel mengenai niat mereka untuk menerapkan tindakan baru, dan ini adalah sesuatu yang kami tolak dan kutuk,” ujarnya. (T/R01/RS3)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Bahron Ansori

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.