Abu Wihdan : Tidak Kembali Pada Al-Qur’an Secara Utuh Sebab Kekalahan Umat Islam

Lampung Selatan, 29 Rajab 1437 / 7 Mei 2016 (MINA) – Penyebab kekalahan Umat Islam adalah tidak kembali kepada Al-Qur’an seutuhnya. Demikian disampaikan Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Abu Wihdan dalam acara diskusi dengan tema “Islam Non-Politik Dalam Perspektif Islam”, Sabtu, (7/5).

Menurutnya, komitmen Umat Islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah- lah yang memenangkan Islam.

“Tidak kembalinya umat Islam kepada Alqur’an seutuhnya, inilah yang menyebabkan kekalahan umat Islam, maka dibutuhkan komitmen kita,’’ katanya.

Lebih lanjut dia menegaskan, jika Umat Islam sudah komitmen seutuhnya kepada Al-Qur’an, Allah akan berikan kekuasaan.

Pada kesempatan itu, dia juga memaparkan Islam sebagai agama yang mutlak turun dari Allah, bukan hasil pemikiran manusia.

“Islam adalah mutlak wahyu Allah, bukan politik. Oleh karena itu, kita yakini sepenuhnya, bahwa Islam adalah Diinullah yang lengkap dengan solusi, termasuk urusan kemasyarakatan. Maka tidak diperlukan menggunakan cara-cara politik yang sifatnya jelas tidak mutlak,” ujarnya.

Jama’ah Muslimin (Hizbullah) merupakan wadah kesatuan umat Islam yang berpusat di Jakarta. Ditetapi kembali sejak 20 Agustus 1953.

Mengenai kepemimpinan Jama’ah Muslimin sebagai wadah kesatuan umat, Khilafah A’la Minhajin Nubuwwah yang sudah ditetapi kembali sejak 1953, Abu Wihdan menyatakan memang tidak tiba-tiba bisa memimpin peradaban dunia, diperlukan proses sebagaimana yang dirasakan oleh Rasulullah.

“Fakta sejarah khilafah Abu Bakar pewaris bukan perintis. Kita (Jama’ah Muslimin Hizbullah) setelah runtuhnya Turki, kita perintis. Otomatis pengalaman kita tidak sama dengan Khalifah Abu Bakar tapi pengalaman yang dirasakan oleh Rasulullah yang merintis terlebih dahulu,” katanya.

Ia mengungkapkan ; “Kita merasakan bagaimana dahulu Imaam Pertama Wali Al-Fatah bicara Khilafah, sangat asing di telinga kaum Muslimin.”

“Maka kita memulai menghidupkan sunnah dikala orang lain meninggalkanya. Kita memulai untuk menghidupkan Sunnah Rasulullah seperti Adzan Lail, berjilbab, yang dahulu (1953-red) masih asing di tengah masyarakat,” ujarnya. (L/ism/nia/K08/P2).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)