ACEH BERKOMITMEN UNTUK TERUS KIRIM BANTUAN KE PALESTINA

Foto gedung Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan aktivitas di dalamnya. (Foto: Luly/MER-C)
Foto gedung Rumah Sakit Indonesia di dan aktivitas di dalamnya. (Foto: Luly/MER-C)

Jakarta, 30 Rabi’ul Awwal 1437/10 Januari 2016 (MINA) – Masyarakat merupakan salah satu penyumbang terbesar untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza. Sebanyak 8,6 miliar dana terkumpul yang berasal dari masyarakat dan pemerintah Aceh.

“Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah Aceh dalam mengumpulkan donasi dengan membuka posko melalui biro Humas Aceh,” kata Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat menyampaikan sambutan di Gedung Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (9/1) malam.

Sejak dibukanya posko tersebut, lanjutnya, masyakarat Aceh berbondong-bondong mendatagi dan menyerahkan bantuannya untuk Gaza.

Menurut Muzakir, pelayanan kesehatan sangat penting dalam situasi peperangan, terutama di wilayah Gaza. Oleh karena itu, masyarakat Aceh berinisiatif untuk menyalurkan bantuannya untuk rakyat Gaza melalui MER-C dalam pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina.

Ia juga menambahkan, setelah peresmian RS Indonesia ini tidak akan berhenti sampai di sini saja, tetapi akan terus dilakukan hingga kemerdekaan Palestina diraih. MER-C akan menambah bangunan Rumah Sakit di Tepi Barat, Palestina.

Seluruh masyarakat Palestina merasa bahagia dan menyambut dengan antusias atas berdirinya RS Indonesia tersebut. Ucapan terimakasih pun disampaikan oleh Menteri Kesehatan Palestina, Dr. Jawad Awad yang mewakili rakyat Palestina.

Sumbangan tersebut merupakan hasil sumbangan masyarakat Aceh yang dikumpulkan selama 20 hari bekerjasama dengan Harian Umum Serambi Indonesia, sejak 14 Juli hingga 18 Agustus lalu.

Bantuan rakyat Aceh itu digunakan untuk pembelian alat kesehatan RS Indonesia di Jalur Gaza. MER-C selanjutnya memberikan nama pahlawan asal Aceh, yaitu Tengku Cik Di Tiro Muhamad Saman dan Tjoet Nyak Dhien, sebagai nama dua ruangan di dalam Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina.

Acara penyerahan simbolis RS Indonesia itu dihadiri Wakil Presiden RI Jusuf Kalla sebagai pembicara kunci, Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan, Duta Besar Algeria, tokoh bangsa Adyakhsya Dault, budayawan Taufik Ismail, pimpinan Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah KH. Abul Hidayat Saerodjie, Ketua Aqsa Working Group (AWG) Agus Sudarmaji.

Acara tersebut juga dihadiri ratusan para donatur pembangunan RS Indonesia, serta para tamu undangan lainnya.

Pembangunan fisik RS Indonesia di Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza.

Lokasi RS Indonesia itu berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel, sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) Angkatan Udara penjajah Zionis Yahudi tersebut.

Lembaga kemanusiaan MER-C sebagai inisiator pembangunan RSI Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren (Ma’had) Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim sekitar 43 relawannya ke Jalur Gaza saat pembangunan berlangsung.

Saat ini masih ada empat relawan Indonesia dari Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang masih mengemban amanah di RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, utara Gaza itu.

Rumah sakit itu terdiri dari dua lantai dan ruang bawah tanah. RS Indonesia memiliki 90 ruang rawat inap, 10 ruang instalasi gawat darurat, satu laboratorium, satu ruang radiologi, dan sepuluh ruang perawatan insentif berkapasitas 100-150 pasien.

Fasilitas Rumah Sakit Indonesia di Gaza cukup lengkap, antara lain meliputi aneka peralatan medis berteknologi canggih, seperti alat bedah ortopedi dan CT Scan.(L/een/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)