Agama Membentuk Akhlak Mulia, Oleh Ust. Agus Priyono

Sunggguh ironis apa yang seringkali kita saksikan di tengah masyarakat ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di dalam negeri seorang pencuri tertangkap dan dia ber-KTP Islam. Seorang pejabat tertangkap, sebagian juga berjilbab, karena kasus korupsi, ia ber-KTP Islam. Seorang pengusaha muslim juga tertangkap karena kasus penipuan dan penggelapan dana masyarakat. Di luar negeri sesama umat Islam bertikai hingga saling berperang karena perbedaan madzhab dan visi politik. Patut dicatat bahwa mereka semuanya mengaku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah.  Mereka juga melaksanakan shalat, puasa hingga berhaji. Mengapa demikian?.

Zaki Nagueb Mahmud, filosof Mesir kenamaan menegaskan, bahwa tragedi yang menimpa umat Islam disebabkan pudarnya “cita rasa Islam” (Islamic sense). Cita rasa itu perlahan sirna dari keIslaman kita. Ritual-ritual terus dilakukan, namun nilai-nilai Islam dan manhaj (way of life) tanpa disadari hilang. Akhirnya segala kebutuhan umat Islam disuplai pihak luar yang anti-Islam.

Tanpa mengabaikan pengaruh hasutan dan upaya negatif apapun dari pihak luar Islam, ada baiknya umat ini juga menengok kedalam, mengevaluasi kondisi internal umat Islam sendiri. Sudah benarkan ke-Islaman umat ini?. Sudah pantaskah sebagian umat ini mengaku beriman?.

Misi Rasulullah Membangun Akhlak Mulia

Di dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Hadits tersebut menjelaskan betapa misi utama Islam adalah membenahi moral manusia, apalagi Rasululllah diutus ke tengah-tengah masyarakat jahiliyah yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Perbudakan manusia atas manusia lain, membunuh bayi wanita, hingga perang antar suku menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat jahiliyah. Maka kehadiran Rasulullah membawa wahyu Allah menjadi obat penawar yang akhirnya mampu mengubah peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam yang bermoral.  Allah berfirman:

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”  (QS. Al-Jumu’ah: 2).

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga generasi sahabat adalah generasi terbaik. Hal itu sebagaimana disabdakan beliau, “Sebaik-baik abad adalah abad generasiku.’’ (HR al-Bukhari dan Ibnu Hibban). (Lihat QS at- Taubah: 100).

Dalam memperbaiki perilaku bangsa Arab jahiliyah, Rasulullah menggunakan beberapa cara mujarab.

Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Keimanan ini akan menghasilkan ketenangan jiwa dan bertawakal kepada-Nya merupakan sendi untuk menjadikan hidup dalam kerangka ibadah hanya kepada-Nya. Corak kehidupan Muslim seperti ini dijelaskan dalam Alquran surah al-An’am: 162.

Kedua, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak zikrullah. Rasul SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.” (HR Ahmad dan Turmudzi) Dan beliau menjelaskan bahwa tempat takwa adalah hati (HR Muslim). Ketakwaan akan mengingatkan manusia yang beriman, walau ketika digoda iblis (QS al-A’raf: 201).

Bila ketakwaan sudah tertanam dalam hati, maka akhlaknya akan menjadi sangat mulia.

Ketiga, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan. Allah menegaskan hal ini dalam surah az-Zumar: 1 dan al-Bayyinah: 5. Beliau juga menyuruh kita agar mewaspadai riya.

Keempat, zuhud dan selalu mengingat akhirat. Rasulullah mengingatkan para sahabat dengan akhirat dan menganjurkan agar merenggangkan diri dari dunia. Beliau bersabda, “Perbanyaklah menyebut penghancur kenikmatan, yakni kematian (HR Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kelima, Rasulullah SAW mendidik para sahabat untuk mencintai ilmu dan mempelajarinya. Keenam, memberikan teladan yang baik dan selalu paling terdepan mempraktikkan akhlak mulia. Ketujuh, menanamkan kebebasan dan sikap yang positif.

Nabi bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang plin-plan lalu berkata, ‘Bila orang-orang baik, kami ikut baik, dan bila mereka zalim, kami pun ikut.’ Akan tetapi, bentengilah dirimu, bila orang-orang baik, kamu harus berbuat baik, dan bila mereka jahat, janganlah ikuti kejahatan mereka.’’ (HR at-Turmudzi).

Kedelapan, memperhatikan kejiwaan orang yang mau diubah dan hal ini dilakukan secara berkesinambungan.

Kesembilan, mengikutsertakan orang lain dalam melakukan perubahan dan menyiapkan ahli di bidang tertentu.  Rasulullah bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.’’ (HR al-Bukhari). Hadis ini menegaskan kewajiban menyampaikan ajaran Alquran bukan hanya bagi Rasulullah, melainkan setiap Muslim wajib menyampaikannya.

Kesepuluh, bervariasi dalam cara mengubah, seperti dengan membuat perumpamaan, bercerita, diskusi, ataupun hal lainnya agar tidak muncul kebosanan dalam diri para sahabat. Semoga kita bisa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadi manusia bermoral, berakhlak mulia.

Intinya akhlak mulia hanya akan muncul ketika umat ini memiliki keimanan yang kokoh dan mengamalkan islam secara utuh menyeluruh (kaaffah). Khalifah Umar Bin Abdul Aziz berkata:

إِنَّ لِلإِيمَانِ فَرَائِضَ وَشَرَائِعَ وَحُدُودًا وَسُنَنًا ، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الإِيمَانَ

“Sesungguhnya iman memiliki kewajiban-kewajiban, batasan dan aturan serta sunnah-sunnah, barangsiapa menyempurnakannya maka sempurnalah imannya dan barangsiapa tidak menyempurnakannya maka tidak sempurna pula imannya.” (HR. Bukhari).

Tanpa moral, bangkrut

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya :  “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ?” Mereka (para sahabat ) menjawab : “Orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : “Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain (dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, sehingga ketika kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan orang yang dizhalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka.” (HR. Muslim).

Jika seseorang telah mempelajari ilmu tauhid (tentang keimanan) namun tidak tercermin padanya kemuliaan akhlak dan adabnya, pasti ada sesuatu yang salah padanya. Semoga umat Islam mampu menunjukkan dirinya sebagai pembawa peradaban bermoral, dimanapun berada. (A/GP/P2/B04)

Ustaz, Agus Priyono, M,Si adalah Amir Majelis Dakwah Pusat, Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Mi’raj News Agency (MINA)