Agar Selamat Dunia Akhirat, Kenali Makna Al-Ilah

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Seringkali, ada orang yang mengaku tuhannya adalah Allah. Namun, seringkali juga ia mengingkari segala kemahabesaran-Nya. Dia hanya mengenal Allah saat melaksanakan shalat, membayar zakat atau bahkan pergi haji. Saat diuji, dia lupa bahwa sebanarnya dia diuji oleh Allah Ta’ala, satu-satunya Tuhan yang dimilikinya. Inilah akibat mengenal Allah tanpa didasari pemahaman yang benar.

AL-ILAH (Yang Maha Diibadahi) artinya setiap makhluk wajib beribadah kepada Allah Ta’ala. Sudah tentu cara beribadahnya tidak sama antara manusia dengan makhluk selain manusia. Nama Al-Ilah ini disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 28 kali, diantaranya dalam firman Allah Ta’ala:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى

“(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.” (Qs. Thaha : 8).

Makna lain dari Al-Ilah adalah Dia lah Dzat yang di ibadahi oleh hamba-hamba-Nya dengan rasa cinta, ketundukan, rasa takut penuh harap, penuh pengagungan, dan penuh ketaatan. Ketika menetapkan nama Al-Ilah maka harus menetapkan bahwa  Ilah ( yang disembah) hanyalah satu yaitu Allah semata.

Sebagaimana Allah berfirman :

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (Qs. Al-Baqarah :163)

Nama Al-Ilah juga masuk ke dalam kalimat tauhid yaitu  لَآاِلٰهَ اِلَّا الله yang maknanya adalah Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta’ala.

Ketika seorang muslim mengetahui bahwa nama Al-Ilah, maka wajib baginya meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dan meyakini tidak ada Ilah selain Allah di dalam hati kita, kemudian kita amalkan dengan melakukan ibadah hanya kepada Allah dan tidak melakukan kesyirikan kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡاۖ

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” [Qs. An-Nisa’ 36]

Tidak boleh memberikan ibadah kepad selain Allah, baik ibadah hati , ibadah lisan maupun ibadah badan kepada selain Allah Ta’ala.

Kata ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab jika dikatakan aliha-hu, berarti pertama, Sakana ilahi, yaitu merasa tenteram kepadanya. Maksudnya adalah, ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang. Dan manakala mendengar nama ilah itu disebut atau dipuji orang, ia merasa tenteram.

Kedua, Istajara bihi, yaitu merasa dilindungi olehnya. Artinya, karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.

Ketiga, Asyauqu ilaihi, yaitu merasa selalu rindu kepadanya. Maksudnya adalah, ada keinginan untuk selalu bertemu dengannya, baik berkelanjutan atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.

Keempat, Wuli’a bihi, yaitu merasa cinta dan cenderung kepadanya. Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.

Dalam perkataan orang Arab, kata alihahu sinonim dengan kata ‘abadahu. Misalnya ada ungkapan kalimat, aliha rajulu ya-lahu“lelaki itu menghambakan diri pada ilah-nya”.

Sebagai muslim, kita meyakini Islam sudah menyeru umat manusia agar menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya ilah. Jangan sampai mereka meng-ilah-kan dunia seperti harta, tahta dan wanita atau pun jabatan, sehingga merasa tenteram kepadanya padahal dunia itu fana. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.”  (Qs. Yunus, 10: 7-8).

Islam juga mencegah manusia meng-ilah-kan jin, yakni meminta perlindungan kepada mereka, Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. Jin: 6).

Ayat di atas menjadi bukti hari ini, tak sedikit orang yang masih meminta kepada jin untuk memenuhi keperluan hajat hidupnya. Mereka lupa, bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Ilah yang berhak dimintai segala pertolongan. Mereka lupa bahwa Allah adalah satu-satu Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya.

Islam juga mengajak umat manusia untuk tidak membuat andad (tandingan) bagi Allah Ta’ala. Namun orang-orang musyrik malah mencintai andad tersebut sebagaimana mencintai Allah. Sedangkan orang-orang mu’min hanya cinta dan amat sangat cinta kepada Allah Ta’ala semata.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165).

Mari perbaiki cara kita beriman. Perbaiki tauhid kita, agar tidak tersesat dan menyesal dalam perjalanan panjang menuju kampung akhirat kelak. Hidup ini begitu singkat, laa hawla wala quwwata illah billah.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)