Akankah Pancasila Terlahir Kembali?

(Foto: Istimewa)

Oleh: Agus Sudarmaji, Ketua Umum Al-Aqsa Working Group (AWG)

Di hari lahir Pancasila ini, 1 Juni ini, meskipun masih dibantah oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, pakar hukum tata negara terkemuka, karena berpendapat Pancasila lahir 18 Agustus 1945, kita perlu merenung, setidaknya setahun sekali, atau seumur hidup sekali: apa itu Pancasila? Siapa sesungguhnya yang betul-betul Pancasilais?

Aku Pancasilais, itu pasti, setidaknya itu kata anak-anakku di rumah. Aku orang yang relijius dan loyal kepada Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam hal Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, aku cukup aktif memperjuangkan kemanusiaan, menentang penjajahan, karena aku adalah ketua Umum “Al-Aqsa Working Group” sebuah NGO yang menentang satu-satunya penjajahan yang masih tersisa di muka bumi yakni di Palestina.

Persatuan Indonesia itu ada dalam darahku, ke mana pun pergi, dalam berbagai seminar, training bahkan khutbah-khutbah Jumat dan Hari Raya kuteriakkan persatuan dan kesatuan serta haramnya perpecahan (pakai teori atau dalil yang persuasif sampai yang paling keras pun pernah). Aku orang yang sangat senang bermusyawarah, bagiku musyawarah itu adalah ibadah, ini caraku membuktikan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Tak dapat dipungkiri di dalam keluargaku, aku tergolong ekstrim kalau bicara Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bukan karena dalam nadiku mengalir darah Sakerah, namun saat melihat ketidakadilan merajalela hanya satu kata yang diajarkan hati kecilku yakni LAWAN.

Suasana magis yang masih tersisa di Gedung Pusat UGM pertengahan tahun 1988 mengantarku menemukan bukan saja apa itu, namun siapa itu Pancasila. Buku-buku Prof. Notonegoro membimbingku menelusur untaian panjang syaraf kebangsaan Indonesia sampai bertemu pusat kesadaran “weltansauung” Indonesia.

Di bawah supervisi Prof. Damardjati Supadjar, mentor hidup yang langsung membimbingku bersabar menjalani ujian-ujian intelektual maka setidaknya tertangkap olehku kilatan inti Filsafat Pancasila. Betul, sekedar kilatan, itu pun sudah lebih dari cukup.

Kata Pak Padjar (begitu panggilan mesra mentorku itu) “kilatan itu sudah cukup, seperti cukupnya pemahaman yang diserap Musa saat melihat sekilas cahaya Tuhan di bukit Kudus.”

Aku bersyukur di akhir era 80-an bertemu dengan para Guru Pancasila yang Agung baik pada tataran filosofi, konsep kenegaraan sampai implementasi praktisnya. Ada Prof. Imam Barnadib yang Pancasilais banget di ranah pendidikan. Ada Prof. Mubyarto yang berdarah-darah memperjuangkan ekonomi Pancasila. Ada Prof. Kuntowijoyo yang mengajar inti kekuatan Pancasila ada di balik kelembutan cinta dan ketulusan memberi.

Tentu saja mentorku langsung Prof. Damardjati Supadjar yang memperkenalkanku kepada Aristoteles, Socrates, Bacon, Descartes, Rousseau sampai Noam Chomsky. Juga beliaulah yang membawaku menyentuh jubah Gandhi yang usang, buku Notonegoro yang keras kepala dan Nabi Muhammad yang kata beliau tiada keindahan lain kecuali menerima kebenaran titah langit. Keindahan kajian Pancasila yang membuatku betah berkosong perut demi menelusur Dasar dan Filsafat Indonesia itu mustahil kuwariskan kepada anak-anakku sendiri.

Kini tiga puluh tahun sudah kukawal Pancasila dalam realitas ke-Indonesiaan yang makin kompleks. Tiba-tiba hatiku jadi rawan dan batinku mulai bimbang, masih Pancasilakah aku? Masihkah ada merah putih dalam darahku, syarafku?

Saat segelintir orang yang tak tahu dari mana mereka merujukkan konsep Pancasila versi mereka, menebar ancaman kepada siapa pun yang tidak sepaham dengan konsep itu maka langsung dicap Anti-Pancasila, Anti Kebinekaan, Anti-Persatuan.

Tuduhan makar dan pengkhianatan yang begitu dahsyat akibatnya diarahkan kepada mereka yang berbicara saat terusiknya rasa keadilan masyarakat. Mereka yang berkata-kata dengan santun meski hati mereka hancur karena kezaliman begitu kentara di depan mata justru dituduh kaum perusuh. Mereka yang sekedar prihatin ke mana bangsa ini berjalan justru dicap anti-kebinekaan.

He he he … hidup ini satir memang. Mereka yang bertahan dalam cinta justru dituduh berkhianat. Mereka yang loyal meski diam malah disebut ancaman. Saat cinta dianggap ancaman bagi penguasa maka murid-murid Yesus Alaihis Salam ditangkapi dan dihukum.

Saat kebenaran diucapkan oleh Moses dan pengikutnya yang sebenarnya mewakili mayoritas rakyat Mesir maka mereka dikejar sampai ke laut. Lalu siapakah yang mayoritas, siapa juga yang minoritas? Tentu siapa pun yang sedang berkuasa berhak menentukan siapa minoritas – mayoritas, siapa menentang atau mendukung.

Hari ini kuberharap Pancasila terlahir kembali. Kalau tidak, cukuplah aku yang terlahir kembali tanpa rasa bimbang, rawan apalagi takut menyuarakan Pancasila seperti yang kuterima dari guru-guruku yang telah syahid dalam keyakinan mereka. Lama kuselami memoriku pada sosok Prof. Mubi yang pandangan matanya selalu jauh ke horizon sambil membentangkan cita-cita ekonomi kerakyatan yang asli Pancasila, namun kini tergilas oleh kaum barbar pemuja ekonomi setan namun jubah mereka bertebar gambar garuda, merah putih, slogan kebinekaan bahkan “NKRI Harga Mati!”

Hari ini ingin kudoakan mereka yang dikhianati agar tetap diberi ketulusan, mereka yang bertahan dalam cinta suci kepada Indonesia diberi kesabaran, mereka yang mencoba mengamalkan nilai-nilai Pancasila meski dituduh perusuh diberi kedamaian dan keberkahan.

Di ujung coretan di Hari Lahir Pancasila ini, izinkan aku meminjam kata-kata Noam Chomsky, “For the powerful, crimes are those that others commit.” Bagi sang penguasa, kejahatan adalah apa saja yang diyakini oleh mereka yang menentang.

Pancasila pun bisa menjadi alat bahkan senjata untuk menyerang dan membasmi orang lain yang tidak sepaham dengan penguasa. Bila ini sampai terjadi, maka kita betul-betul dalam musibah besar, ya kita semua. So, yang mampu bersuara tetaplah lantang, yang senang berdoa tetaplah setia. Doa takkan pernah sia-sia.

Bogor, 6 Ramadan 1438H/ 1 Juni 2017

(R01/RS3)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)