Akankah Rusia Menelan Penghinaan Israel?

Oleh Abdul Sattar Qassem*

Rusia adalah salah satu negara yang paling protektif dari Israel dan keamanannya. Ini sangat terlihat selama perang Suriah berlangsung. Rusia tidak setuju dengan beberapa tindakan Israel, dan Rusia terus mencari cara juga sarana untuk memastikan aman dari Israel.

Rusia telah menelan sejumlah penghinaan dari Turki, AS, Perancis, dan Israel untuk menghadapi organisasi bersenjata di Suriah.

Ia lebih menyukai bentrokan, yang berpotensi menghasilkan hasil yang tidak diinginkan. Kebijakan ini mendorong yang lain untuk menjadi tamak dan menimbulkan penghinaan lebih lanjut terhadap Rusia, yang paling baru adalah menembaki pesawat Rusia dan membunuh para tentara dan keluarganya di atas kapal.

Ketika Turki menembak jatuh pesawat Rusia, Rusia menyuarakan kemarahannya, tetapi akhirnya menerima permintaan maaf Ankara sebagai bagian dari kesepakatan yang memungkinkan Turki memasuki Suriah dengan tank dan peralatannya. Turki memasuki wilayah Suriah melalui perjanjian yang tidak diumumkan dengan Rusia.

Amerika memasuki Suriah secara paksa, tetapi Rusia telah memasuki pembicaraan yang tidak dideklarasikan dengan Amerika Serikat mengenai pemberian satu sama lain informasi tentang lalu lintas udara di wilayah udara Suriah. Adapun Israel, mereka benar-benar bebas untuk mencapai target di Suriah tanpa ada keberatan dari Rusia, dan bahkan dengan persetujuan Rusia untuk mencapai target Iran. Rusia baru-baru ini membujuk Iran untuk pergi lebih jauh ke Suriah berdasarkan keinginan Israel untuk menjaga keamanannya.

Pertanyaan yang muncul terkait kehadiran Rusia di Suriah adalah: Mengapa Rusia datang dengan rudal anti-pesawatnya ke Suriah jika wilayah udara Suriah terbuka untuk semua? Rusia tidak menembakkan rudal anti-pesawat dari wilayah Suriah, dan tidak menembakkan rudal ke tentara Suriah untuk membela kesucian negara itu.

Karena keinginan Rusia untuk melestarikan keamanan Israel, jelas bahwa Rusia memerangi terorisme secara selektif sesuai dengan kepentingannya, tapi tidak sesuai dengan prinsip. Rusia memerangi organisasi yang digolongkan sebagai organisasi teroris di Suriah, tetapi tidak memerangi Israel, yang dianggap sebagai negara teroris berdasarkan definisi terorisme.

Israel adalah negara yang menduduki tanah air orang lain dan mengungsikan rakyatnya, tapi Rusia malah menjaga keamanannya. Masalah memerangi terorisme tidak didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan, juga tidak bertujuan untuk menjaga keamanan dan perdamaian dunia, tetapi justru tunduk pada kepentingan pribadi. Israel mengancam perdamaian dan keamanan dunia bahkan melakukan tindakan terorisme terhadap rakyat Palestina setiap hari, tetapi Rusia tidak menyebut tindakan biadab Israel itu sebagai aksi terorisme.

Sekarang, Israel telah menghina Rusia setelah menembak jatuh pesawat Rusia di atas Latakia. Apa yang akan dilakukan Rusia?

Rusia dapat menyerahkan rudal antiaircraft ke tentara Suriah, lalu menembak pesawat Israel dan AS. Namun hal itu dapat membatalkan perjanjiannya dengan Iran untuk menjauh dari provinsi Quneitra dan memungkinkan Iran untuk memajukan barat daya di bawah payung perlindungan rudal Suriah. Rusia juga bisa menembakkan rudalnya ke pesawat Israel jika rudal tidak dikirim ke tentara Suriah, dan Rusia dapat menyatakan wilayah udara Lebanon berada di bawah perlindungan rudal Rusia untuk mencegah Israel menggunakan wilayah udara ini melawan Suriah.

Tentu saja, Rusia dapat mengambil langkah-langkah politik dan diplomatik terhadap Israel, seperti menarik duta besarnya dari Tel Aviv dan memecat duta besar Israel dari Moskow. Atau bisa juga menghentikan pariwisata Rusia ke Israel dan berhenti berurusan dengan Israel.

Namun, semua tindakan diplomatik dan komersial melawan Israel akan sia-sia dan tidak akan mengangkat penghinaan dari pundak Rusia.

Prediksi saya, Rusia tidak akan mengambil tindakan yang secara negatif akan memengaruhi dominasi Israel atas kawasan itu, terutama di Suriah, atau yang akan memengaruhi keamanan Israel, yang memengaruhi keamanan semua negara di kawasan itu. Rusia juga tidak akan melanggar perjanjian dengan Israel atas kepergian pasukan Iran dari Dataran Tinggi Golan karena itu akan mengancam keamanan Israel.

Saya ingin menunjukkan bahwa jelas hubungan Putin dengan Netanyahu jauh lebih kuat daripada hubungannya dengan Bashar Al-Assad. Bagi Rusia, Suriah hanyalah pijakan, tetapi Israel adalah negara yang ramah. Pada akhirnya, Suriah tidak memiliki alat yang efektif untuk konfrontasi dan itu pasti bergantung pada Rusia yang mematuhi kebijakan Rusia.

Israel sangat berbeda karena memiliki alat untuk memengaruhi Rusia melalui dua hal: Yang pertama adalah hubungannya dengan Barat, yang dapat membantu dalam tindakan diplomatik, komersial dan ekonomi terhadap Rusia. Yang kedua, Israel memiliki kemampuan untuk menembak jatuh pesawat Rusia, apakah di atas Laut Tengah atau di wilayah Suriah.

Saya ingin menunjukkan bahwa Rusia takut konfrontasi militer menggunakan senjata konvensional dengan negara-negara Barat dan Israel karena mereka tak takut pada senjata Rusia. Ini karena senjata tradisional Rusia, termasuk pesawat tempur, helikopter, kendaraan lapis baja, pengintaian, tank, meriam dan kapal perang tidak secanggih senjata-senjata milik Barat.

Rusia memiliki kemampuan nuklir, tetapi mereka belum mencapai tingkat pembangunan Barat. Karena Israel memiliki senjata Amerika konvensional yang canggih, Israel dapat menghancurkan senjata Rusia bahkan dalam dimensi yang tanpa batas. Itulah mengapa Rusia menghindari bentrokan dengan Amerika, Israel dan Turki atas wilayah udara Suriah.

Sangat mungkin, Israel akan mengambil langkah yang akan mengurangi banyak penghinaan terhadap Rusia, seperti kunjungan Netanyahu ke Rusia sebagai sarana permintaan maaf publik.

Bagaimanapun, Rusia adalah negara adikuasa meskipun keengganannya untuk mempertahankan wilayah udara Suriah. (AT/RS3/RI-1)

*Penulis adalah seorang profesor di Universitas Nasional Al-Najah, Palestina.

Sumber: MEMO

Mi’raj News Agency (MINA)