Aktivis Antiteror: Hijrah Jangan Salah Kamar, Bisa Jadi Radikal

Banda Aceh, MINA – Direktur Eksekutif Yayasan Jalin Perdamaian, Yudi Zulfahri mengingatkan para aktivis kampus yang berniat hijrah di jalan dakwah agar memperhatikan guru ngaji yang benar. Jika salah guru dapat terjerumus kepada gerakan radikal atas nama agama.

Hal itu disampaikan Yudi pada Selasa (10/9), saat memberi materi pada Stadium General bertajuk “Dinamika Radikalisme dan Pemurnian Idiologi Pancasila dalam Mencegah Terorisme di Aceh”, di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

“Mahasiswa yang ingin berhijrah di jalan dakwah pastikan jangan salah kamar, cari guru ngaji yang benar sehingga tidak salah kaprah. Tadinya hendak berubah menjadi baik malah jadi aktivis radikal,” katanya.

Stadium General yang digagas Prodi Manajemen Dakwah itu juga menghadirkan Dr Mukhlisuddin Ilyas, peneliti isu-isu radikalisme di Aceh.

Yudi memaparkan, akar masalah terorisme di Indonesia dalam skema Piramida Terorisme. Ia yang pernah terlibat di kamp teroris bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar, mengajak mahasiswa untuk tidak mudah terjebak ajakan gerakan radikal berujung aksi terorisme.

Menurutnya, semua agama di dunia dan di negara manapun, memiliki kelompok radikal berbahaya. Gelombang radikalisme dunia sejak 1979 hingga saat ini, kata Yudi masih memakai agama sebagai basis gerakan.

“Di Amerika ada kristen dengan sayap kelompok radikalnya, Hindu di India, Budha di Myanmar, dan Islam di Indonesia juga ada kelompok radikalnya. Jadi teroris itu bisa muncul dari semua agama,” ujarnya.

Sementara itu, Mukhlisuddin Ilyas memaparkan secara rinci peta pergerakan terorisme di Aceh, dari tidak ada kepada muncul potensi radikalisme pasca perdamaian.

Stadium General Prodi Manajeman Dakwah itu diikuti seratus lebih peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen. Acara itu dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah, Dr Fakhri, S.Sos, MA. Hadir jugapada acara itu, Kaprodi Manajemen Dakwah, Dr Jailani, M.Si. (R/Ast/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)